Paul Scholes, WhatsApp, dan Mereka yang Mundur karena Intervensi

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 16 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Lewat pesan WhatsApp, Paul Scholes mundur dari kursi kepala pelatih Oldham Athletic hanya 31 hari setelah menjabat. Intervensi dari petinggi disebut-sebut sebagai alasannya.
tirto.id - Paul Scholes resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala pelatih Oldham Athletic per Jumat (15/3/2019) dini hari waktu Indonesia. Informasi ini telah dikonfirmasi kebernarannya oleh klub.

Dalam keterangannya kepada SkySports, bos Oldham Athletic, Abdallah Lemsagam mengutarakan kekecewaannya terhadap keputusan Scholes. Soalnya, legenda hidup Manchester United itu menanggalkan jabatan hanya lewat pemberitahuan pesan WhatsApp.

Lemsagam juga mengatakan, setelah pemberitahuan lewat pesan itu, Scholes bersikeras menolak pertemuan dengan para petinggi klub.

"Klub memberi seluruh dukungan dan wewenang yang dia minta. Dia tidak mengeluh sama sekali, formal maupun tidak, terkait pengunduran dirinya. Dia tidak memberi kami peluang untuk melakukan pembahasan, hanya mengirim pesan dan menolak berdiskusi," ujar Lemsagam.

Pengamat sepak bola sekaligus eks pemain di sejumlah klub Liga Inggris, Nigel Winterburn yakin Scholes punya alasan kuat yang jadi dasar pertimbangan untuk memutuskan pergi. Namun, secara pribadi dia beranggapan seharusnya cara pergi yang tepat adalah berbicara secara langsung dengan klub.

"Scholes baru memulai karier melatih. Semua barangkali tidak berjalan semestinya, lalu ada miskomunikasi yang sebenarnya apa pun itu ada baiknya dibicarakan dulu untuk menemukan solusi yang tepat. Saya rasa seharusnya dia bertemu lebih dulu dengan orang dari klub dan berbicara baik-baik," ungkapnya.

Senada dengan Winterburn, eks pelatih Sunderland, Gus Poyet menyayangkan 'cara pergi' yang dipilih Scholes.

"Ketika seseorang mengirim pesan untuk keputusan penting, padahal seharusnya bisa bertemu, tentu itu keputusan emosional yang terlalu cepat," timpal Poyet.

Scholes pertama diresmikan sebagai pelatih Oldham Athletic pada 11 Februari 2019. Dia tercatat baru melatih klub itu selama 31 hari alias memimpin tujuh pertandingan.

Bersama klub yang berlaga di League Two (Divisi 4) Inggris itu, Scholes sebenarnya melakoni start menjanjikan. Pada pertandingan debut, dia mengantarkan Oldham menang telak 4-1 atas Yeovil United.

Namun, setelah itu performa Oldham terus menurun. Di enam laga selanjutnya Scholes hanya mampu membawa tim memetik tiga hasil imbang serta tiga kekalahan. Terakhir, Rabu (13/3/2019) anak asuh Scholes dikalahkan pemuncak klasemen League Two, Lincoln City dengan skor 2-0.

Oldham Athletic juga seperti tak bergerak karena sebelum kedatangan maupun sesudah kepergian Scholes, klub ini tak beranjak dari peringkat 14 klasemen League Two.


Ada Intervensi


Besarnya kekecewaan publik terhadap kepergian Scholes tidak lepas dari latar belakang Scholes sendiri. Sejak lama, Scholes diketahui merupakan fans berat Oldham Athletic. Untuk melatih klub tersebut, dia bahkan rela mati-matian memperjuangkan izin kepelatihan.

Scholes sempat terancam tak bisa melatih karena punya 10 persen saham di klub lain, Salford United. Namun, akhirnya diberi izin oleh FA.

"Suporter, pemain, teman-teman dan keluarga saya tahu betapa saya bangga dan antusias dengan jabatan sebagai pelatih Oldham," kata Scholes.

Dalam keterangannya kepada media, Scholes mengatakan alasan di balik kepergiannya adalah ketidakpuasan dengan wewenang yang diberikan manajemen untuk mengatur tim. Para petinggi Oldham Athletic disebut-sebut kerap mengintervensi kebijakan Scholes.

"Namun, dalam waktu singkat sejak menangani klub ini, menjadi jelas bahwa saya tak bisa mengoperasikan tim seperti yang saya inginkan," papar Scholes.

Jika adanya intervensi itu benar, maka Scholes hanya satu dari sekian banyak pelatih yang meninggalkan klub karena campur tangan petingginya. Beberapa nama besar sebelumnya pernah mengambil langkah tegas serupa. Salah satunya adalah Fabio Capello.

Capello menanggalkan statusnya sebagai nakhoda Timnas Inggris pada 8 Februari 2012. Padahal, dia sebenarnya punya kontrak hingga berakhirnya Piala Eropa 2012 bulan Juli.

Beberapa hari setelah mundur, dia menyebut keputusannya disebabkan ada intervensi federasi sepakbola Inggris, FA untuk mencopot ban kapten John Terry. Padahal, Capello sendiri masih beranggapan Terry layak dipertahankan sebagai kapten.

"Saya bertindak seperti pada umumnya di sepak bola. Saya tidak bisa membiarkan FA mengintervensi pekerjaan saya. Padahal seharusnya jelas siapa yang berhak mengendalikan tim serta ruang ganti dan siapa yang boleh mengambil keputusan," ujarnya kepada Telegraph.

Saat itu, FA akhirnya benar-benar mencopot ban kapten John Terry lantaran eks pemain Chelsea itu terlibat insiden rasisme terhadap pemain Queens Park Rangers, Anton Ferdinand.

Selain dirinya sendiri, Capello juga pernah membongkar intervensi lain di Real Madrid. Dia mengatakan bahwa mundurnya Zinedine Zidane musim ini juga karena besarnya intervensi dari presiden Real Madrid, Florentino Perez.

"Ada banyak kontroversi di Real Madrid dan Florentino Perez juga ingin menjadi pelatih," ungkapnya seperti dilansir Marca.

Perselisihan Zidane dan Perez saat itu disebabkan beberapa perbedaan, utamanya dalam keinginan memilih pemain-pemain yang akan didatangkan maupun dilepas.

Keterangan itu boleh jadi benar. Pasalnya, belakangan Zidane diketahui kembali ke Real Madrid karena dijanjikan tidak akan ada intervensi lagi di ruang ganti.


Gus Poyet, dalam sesi The Debate di SkySports membenarkan soal maraknya intervensi petinggi klub terhadap ruang gerak pelatih atau manajer di klub-klub profesional Eropa. Poyet bahkan pernah mengalami itu sendiri selama meniti karier, meski secara spesifik enggan menyebut klub yang dia maksud.

"Saya tahu, hal seperti itu terjadi di mana-mana. Ketika Anda masuk di sebuah klub, lalu menyadari kenyataannya berbeda, itu sebenarnya alami. Semuanya kembali ke Anda sendiri, tapi saran saya sebaiknya berhati-hati dalam mengambil langkah," tandasnya.

Baca juga artikel terkait OLDHAM ATHLETIC atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Abdul Aziz