Blunder Taktik yang Menunjukkan Naifnya Ole Gunnar Solskjaer

Oleh: Renalto Setiawan - 13 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kekalahan dari PSG merupakan kekalahan pertama Ole Gunnar Solskjaer sebagai pelatih Manchester United.
tirto.id - Pada Rabu (13/2/2019) dini hari tadi, segalanya tidak berjalan menyenangkan bagi Ole Gunnar Solksjaer. Sempat yakin bahwa Setan Merah bisa mengalahkan siapa saja, ia harus melihat kenyataan bahwa United kalah 0-2 dari Paris Saint-Germain. Apesnya, tidak hanya kalah angka, anak asuh Solskjaer tersebut juga kalah segalanya.

Meski bermain di Old Trafford, United tampak seperti sebuah tim yang sedang melakoni pertandingan tandang. Mereka sulit mendominasi penguasaan bola juga kesulitan untuk menciptakan peluang. Bahkan, melalui usaha Marcus Rashford pada babak pertama, mereka hanya sekali melakukan tembakan tepat sasaran pada laga itu.

Dalam bertahan, United pun bisa dibuat kelabakan hanya oleh satu orang: Kylian Mbappe.

Mbappe terlalu cepat untuk pemain-pemain belakang United. Ketika kecepatannya meledak, pemain-pemain belakang United hanya bisa menghentikannya dengan pelanggaran. Karena ledakan kecepatan Mbappe itulah Ashley Young dan Victor Lindelof terpaksa melakukan pelanggaran yang membuat mereka diganjar dengan kartu kuning.

Namun, Mbappe kadang juga masih terlalu cepat untuk dihajar dengan pelanggaran. Setidaknya gol Mbappe pada pertandingan itu bisa menjadi bukti: dalam waktu sepersekian detik, ia mampu menyalip Victor Lindelof dan Eric Bailly, duet bek tengah United, untuk menyelesaikan umpan silang Angel di Maria.

Dan untuk itu semua, sesudah pertandingan, Ole Gunnar Solskjaer hanya bisa mengatakan, “Hari ini, level PSG masih berada di atas kami [United].”

Peran Marquinhos


Paul Pogba merupakan pemain United yang paling menonjol di bawah asuhan Ole Gunnar Solskjaer. Mendapatkan kebebasan dalam menyerang, ia sukses mencetak 8 gol dan 5 assist dalam 11 pertandingan.

Dari situ, Thomas Tuchel, pelatih PSG, tahu bahwa jika Pogba dibiarkan bermain sesuka hati, ia bisa membuat repot timnya. Maka, ia pun menugaskan Marquinhos untuk mengawal gerak-gerik Pogba.

Pada awalnya, Marquinhos memang sempat kesulitan dalam melakukan pengawalan terhadap Pogba. Beberapa kali pemain asal Prancis itu lolos, beberapa kali pula ia membuat United tampak berbahaya. Namun, sekitar 30 menit pertandingan berlangsung, Marquinhos mulai hafal karakter Pogba. Ia hampir selalu menempel ketat Pobga, sehingga saat menerima umpan, gelandang serang United itu kesulitan untuk balik badan.

Karena pengawalan ketat Marquinhos, Pogba lantas mati kutu. Ia hanya melakukan 31 kali umpan sasaran, 11 kali melakukan umpan di daerah sepertiga akhir, 55 kali menyentuh bola, serta tingkat akurasi umpannya hanya mencapai 75,61%. Sebelumnya, selama ia berada di bawah asuhan Solskjaer, catatan statistik Pogba tak pernah seburuk itu.

Terbatasnya peran Pogba karena pengawalan yang dilakukan oleh Marquinhos tersebut kemudian berimbas terhadap penampilan United secara keseluruhan. United seakan tidak mempunyai jalan lain untuk melakukan serangan. Alhasil, permainan mereka pun sama sekali tidak berkembang.

Solskjaer Tidak Mempunyai Plan B

Solskjaer seharusnya melakukan perubahan signifikan setelah melihat Pogba mendapatkan pengawalan khusus dari Marquinhos. Namun, ia urung melakukannya. Bahkan, saat Jesse Lingard dan Martial keluar karena cedera, Solskjaer pun hanya melakukan perubahan minor.

Saat Pogba mandek, Martial dan Lingard adalah cara lain bagi United untuk melakukan serangan. Terutama melalui Lingard, United bisa mengincar serangan balik. Lingard pintar mencari ruang sekaligus pintar dalam menghubungkan serangan. Salah satu serangan balik yang dilakukan United pada babak pertama bisa menjadi contoh.

Kala itu, berawal dari clearence pemain belakang United, Lingard melakukan umpan satu dua dengan Marcus Rashford di area tengah. Setelah itu, Lingard langsung melaju dengan kecepatannya untuk kemudian mengirimkan umpan ke sisi kiri, ke arah Martial. Sayangnya, Martial gagal mengontrol bola dengan baik.

Cedera yang dialami oleh Lingard dan Martial semestinya menjadi akhir dari rencana awal Soskjaer dalam melakukan serangan. Namun, Solskjaer ternyata tidak mempunyai rencana cadangan. Ia justru menginstruksikan anak asuhnya untuk lebih sering mengirimkan umpan-umpan direct ke depan. Pendekatan itu jelas untung-untungan: PSG bertahan sangat dalam, sehingga dengan bola-bola direct itu United tidak mungkin bisa memanfaatkan kecepatan Rasford.

Yang menarik, melalui Ashley Young, United sebetulnya bisa melakukan serangan dari sisi kiri pertahanan PSG. Ketidakmauan Angel di Maria dalam melakukan track-back serta terlalu aktifnya Julian Bernat dalam membantu serangan, seringkali menciptakan peluang bagi Ashley Young untuk maju ke depan. Dari sana, ia beberapa kali sukses melakukan crossing, tetapi mengapa Solkjaer tidak segera memasukkan Lukaku untuk mengubah peruntungan United? Solskjaer justru memilih untuk memainkan Alexis Sanchez dan Juan Mata terlebih dahulu.

Solskjaer Masih Naif

Setelah United tertinggal 0-1 lewat gol Presnel Kimpembe pada menit ke-53, United langsung mencoba manikkan intensitas permainan. Saat bertahan, mereka mulai menerapkan high-pressing yang diikuti dengan ikut naiknya garis pertahanan mereka. Sayangnya, daripada menjadi sebuah solusi, pendekatan itu justru membuat United semakin berantakan.

Menurut catatan Whoscored, PSG merupakan salah satu tim terbaik dalam melakukan serangan cepat. Sejauh ini mereka setidaknya sudah mencetak 8 gol melalui counter-attack, menjadi salah satu yang terbaik di Ligue 1. Dan melihat bagaimana kecepatan pemain-pemain depan PSG, perubahan taktik Solskjaer jelas merupakan sebuah blunder besar: high-pressing yang diterapkan United, memberikan kesempatan besar bagi Angel di Maria, Julian Draxler, serta Kylian Mbappe untuk memaksimalkan kecepatannya.

Berapa peluang yang diperoleh PSG saat United mulai menerapkan pendekatan tersebut?

Hingga Mbappe mencetak gol kedua PSG pada menit ke-63, PSG setidaknya berhasil melakukan 5 kali percobaan tembakan ke arah gawang. Setelah gol itu, Mbappe pun sempat berhadapan satu lawan satu dengan David de Gea.

Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPIONS atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Current Issue)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Rio Apinino