Menuju konten utama

Pameran #artfororangutan Digelar Kolektif di Yogyakarta

COP (Centre for Orangutan Protection) sebuah organisasi yang bergerak di bidang konservasi Orangutan dan habitatnya bekerjasama dengan Giginyala (Gila) dan IAMProject sebuah kelompok kesenian dengan anggota perupa muda yang sering menggelar pameran secara kolektif, mencari dukungan dan mengajak berbagai komunitas untuk berpartisipasi dalam pameran kolektif #artfororangutan.

Pameran #artfororangutan Digelar Kolektif di Yogyakarta
Satu dari dua individu orang utan memanjat pohon saat dilepasliarkan di hutan lindung gunung tarak, kabupaten ketapang, kalimantan barat, jumat (20/5). Pusat penyelamatan dan konservasi orang utan yiari ketapang bersama bksda kalbar melepasliarkan dua individu orang utan betina (pongo pygmaeus) yaitu desi dan susi yang telah menjalani rehabilitasi di sekolah hutan yaitu berupa memanjat, mencari makan, membuat sarang, serta mempelajari berbagai kemampuan bertahan hidup selama empat tahun. Antara Foto/Humas Yiari-Heribertus.

tirto.id - COP (Centre for Orangutan Protection) sebuah organisasi yang bergerak di bidang konservasi Orangutan dan habitatnya bekerjasama dengan Giginyala (Gila) dan IAMProject sebuah kelompok kesenian dengan anggota perupa muda yang sering menggelar pameran secara kolektif, mencari dukungan dan mengajak berbagai komunitas untuk berpartisipasi dalam pameran kolektif #artfororangutan.

COP juga mengundang para individu atau seniman yang memiliki semangat kepedulian satwa liar terutama Orangutan, untuk berpartisipasi dalam pameran #artfororangutan yang bertajuk “ Menolak Punah “, dengan mengikuti persyaratan yang ada, peserta selambat lambatnya dapat mengumpulkan karya pada tanggal 10 November 2016. Penulis dalam pameran ini adalah Andrew Anti-Tank dan Bambang Muryanto yang akan di selenggarakan pada 26 – 29 November 2016 di Jogja National Museum.

Tujuan diselenggarakannya #artfororangutan adalah untuk meneruskan isu genosida Orangutan dan pembabatan habitatnya , memberi dukungan kepada relawan yang berhadapan langsung dengan realita di lapangan, melalui media pameran senirupa semoga bisa membuka mata dan menumbuhkan kepedulian kepada masyarakat yang lebih luas.

Proyek #artfororangutan sudah dimulai semenjak September 2014 lalu. Melewati berbagai rapat, mencari dukungan, mengajak berbagai komunitas untuk bekerjasama dan ASCOS (asmara art and coffee shop) memberikan ruang dan waktunya untuk menyelenggarakan Pameran, pertunjukan musik, pemutaran film dokumenter oleh COP, lelang karya, dan penggalangan dana pun sudah terlaksana dari tanggal 26 September hingga 1 Oktober 2016.

“Pameran pertamanya Januari 2015 di Jogja National Museum, sekitar 100 karya dari 90 seniman yang ikut pameran, ada diskusi, pervormance art, sama band saat opening, nah sekarang yang ke 2 di Jogja National Museum juga bulan November tanggal 26, dan kebetulah ASCOS ngasih support tempat untuk penggalangan dana, karna pameran kita kolektif,” terang Ervance Dwiputra, panitia pameran “Menolak Punah,” Rabu (28/9/2016) malam.

Masih sama seperti penyelenggaraan sebelumnya, pameran #artfororangutan memiliki beragam rangkaian acara; diskusi, bazaar yang juga terbuka untuk umum, serta penampilan musik yang tak kalah menarik dari musisi dari Yogyakarta maupun luar Yogyakarta.

Baca juga artikel terkait PAMERAN SENI atau tulisan lainnya dari Mutaya Saroh

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: Mutaya Saroh
Editor: Mutaya Saroh