Tarikh

Nuzulul Quran & Apa yang Sebenarnya Dilakukan Muhammad di Gua Hira?

Oleh: Ivan Aulia Ahsan - 9 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Muhammad mengasingkan diri untuk berkontemplasi tentang spiritualitas. Suatu hari mendengar suara gaib dan meyakininya sebagai firman Tuhan.
tirto.id - Sumber-sumber tradisional Islam selalu mengasosiasikan keadaan masyarakat Makkah zaman pra-kenabian Muhammad dengan degradasi moral. Orang-orang di kota itu digambarkan sebagai kaum penyembah berhala yang penuh kemusyrikan, cinta dunia, dan mengalami defisit akal sehat. Ini sesuai dengan penamaan periode tersebut menurut versi historiografi Islam: zaman jahiliah.

Apa yang dititiberatkan sumber-sumber tradisional Islam terkait degradasi moral penduduk Makkah adalah aspek spiritual dan teologi mereka yang politeistis. Mereka telah meninggalkan monoteisme yang ribuan tahun sebelumnya diajarkan Ibrahim dan dilanjutkan nabi-nabi besar berikutnya. Kini orang-orang Makkah menyembah dewa-dewa dalam wujud patung atau batu yang dipahat. Mereka, bagi kaum monoteis, dianggap sedang menyembah “Tuhan yang diperkecil”.

Tradisi dan kepercayaan monoteisme sebenarnya masih ada di Makkah, tapi tertutup oleh dominasi politeisme. Ada beberapa orang Makkah yang masih menyimpan keyakinan, baik diam-diam maupun terang-terangan, bahwa ada Tuhan-yang-satu seperti diajarkan nabi-nabi terdahulu. Hagiografer Muhammad dari abad ke-8, Ibn Ishaq, mengisahkan ada empat orang Makkah yang menonjol dengan keyakinan macam itu.

Muhammad gelisah dengan keadaan kaumnya yang dianggap penuh kebodohan. Sejak remaja, ia dikenal sebagai perenung ulung. Kebiasaan merenungnya tak berhenti hingga ia menikah dengan Khadijah pada umur 25. Bahkan kebiasaan tersebut semakin menjadi-jadi pada usia menjelang 40. Ia bukan orang yang agresif dalam menentang penyembahan berhala. Ia tetap menghormati orang-orang Makkah dan mendapat respek besar karena kejujurannya. Tapi Muhammad terus tenggelam dalam permenungan spiritual bahwa ada sesembahan yang jauh lebih agung dibanding berhala-berhala yang berserakan di sekitar Kakbah.

Orang-orang Arab mengenal kata ‘tahannuts’ atau ‘tahannuf’ untuk menggambarkan laku pengasingan diri dan permenungan spiritual guna mencari ketenangan batin—semacam retret. Istilah yang lebih umum, dan kemudian diserap dalam bahasa Indonesia, adalah berkhalwat. Artinya kurang-lebih sama dengan tahannuts. Laku inilah yang dilakukan Muhammad selama bertahun-tahun sepanjang usia dewasanya.

Hanya sepelemparan batu dari Makkah, pada sebuah bukit yang saat ini bernama Jabal Nur, ada gua terpencil yang sangat memadai untuk menyepi. Gua itu bernama Hira. Di situlah Muhammad biasanya melakukan khalwat sembari memikirkan nasib kaumnya yang ia anggap telah melampaui batas.

Meir Jacob Kister, guru besar bahasa dan kebudayaan Arab di Hebrew University, Israel, melacak asal-usul dan makna teologis kata ‘tahannuts’ dari sumber-sumber tradisional Islam. Dalam makalah bertajuk “Al-Tahannuth: An Inquiry into the Meaning of A term” (PDF, 1968), ia menyatakan terdapat perbedaan pemaknaan tahannuts dalam Sirah Rasulullah karya Ibn Ishaq dengan hadis-hadis yang diriwayatkan Bukhari.

“Menurut Ibn Ishaq, persinggahan Muhammad di gua Hira sesuai dengan kebiasaan suku Quraisy yang melakukan tahannuts pada sebuah bulan tertentu di tiap tahun; menurut tradisi al-Bukhari, sang Nabi memang menyukai penyendirian. Sementara Ibn Ishaq menyatakan bahwa Muhammad pergi (berkhalwat) bersama keluarganya, yaitu Khadijah—tradisi al-Bukhari mengungkap bahwa Muhammad pergi sendirian dan pulang pada jeda waktu tertentu untuk mengambil perbekalan,” catat Kister.

Betapapun Ibn Ishaq dan hadis-hadis riwayat Bukhari berbeda dalam memaknai tahannuts, kebiasaan Muhammad itu adalah faktual. Semua sumber dan literatur tentang kehidupan Muhammad menyatakan hal ini. Dan sangat boleh jadi tidak hanya Muhammad yang memiliki kebiasaan berkhalwat, banyak orang di jazirah Arab juga melakukannya.

Sumber-sumber tradisional Islam kemudian menyatakan pada suatu khalwat di tanggal 17 Ramadan, ketika Muhammad berumur 40, ia mengalami peristiwa spiritual yang istimewa. Muhammad mengaku pada hari itu ia didatangi sesosok wujud—diduga malaikat Jibril—yang memaksanya untuk membaca.

Iqra! (Bacalah!),” kata sosok itu.

Ma ana bi qari (Aku tak dapat membaca),” jawab Muhammad menurut pengakuannya.

“Bacalah!” kata sosok itu sekali lagi.

“Aku tak dapat membaca,” kata Muhammad untuk kedua kalinya.

Sosok itu konon mendekap erat Muhammad hingga Muhammad kesulitan bernapas dan mengulangi perintahnya: “Bacalah!”

Kali ini Muhammad bisa bertanya balik, “Apa yang harus aku baca?”

Sosok itu kemudian mengumandangkan kalimat-kalimat yang lebih panjang:

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah mencipakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Muhammad berhasil menirukan kalimat-kalimat tersebut dan sosok itu tiba-tiba lenyap. Muhammad gemetaran; takut; bingung hingga ia memutuskan pulang ke rumah.

Orang-orang Islam menganggap peristiwa itu sebagai datangnya wahyu pertama dan merayakannya sebagai hari Nuzulul Qur’an (diturunkannya Al-Qur’an). Sejak peristiwa itu, sebagaimana diyakini kaum muslim, wahyu-wahyu berikutnya datang sepanjang 23 tahun hingga Muhammad meninggal. Proses kedatangan setiap wahyu berpola hampir serupa dengan kejadian di gua Hira.

Kata-kata yang dipercaya sebagai wahyu Tuhan itu diingat secara permanen dalam memori Muhammad. Ia lalu menyampaikannya secara verbatim kepada para sahabat dan menyatakan redaksinya benar-benar sesuai dengan apa yang disampaikan Tuhan melalui Jibril.

“Kata-kata ini akhirnya ditulis oleh para sahabatnya dan diedit bersama untuk membentuk al-Qur’an, kitab suci agama Islam—yang, dengan demikian, dalam pandangan umat Muslim, secara literer merupakan transkripsi firman Tuhan,” tutur sejarawan Fred M. Donner dalam Muhammad dan Umat Beriman: Asal-Usul Islam (2015: 45).

==========

Pada Ramadan tahun ini redaksi menampilkan sajian khusus bernama "Tarikh" yang ditayangkan setiap menjelang sahur. Rubrik ini mengambil tema besar tentang sosok Nabi Muhammad sebagai manusia historis dalam gejolak sejarah dunia. Selama sebulan penuh, seluruh artikel ditulis oleh Ivan Aulia Ahsan (Redaktur Utama Tirto.id dan pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta).

Baca juga artikel terkait TARIKH atau tulisan menarik lainnya Ivan Aulia Ahsan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Ivan Aulia Ahsan
Editor: Irfan Teguh
DarkLight