Nocturia: Sering Kencing Malam Hari Bisa Jadi Pertanda Hipertensi

Oleh: Febriansyah - 8 April 2019
Dibaca Normal 1 menit
Sering buang air kecil di malam hari atau nocturia dapat dikaitkan dengan hipertensi dan asupan garam yang tinggi.
tirto.id - Sering buang air kecil di malam hari mungkin merupakan tanda tekanan darah tinggi. Sebuah studi baru yang dilakukan di Jepang menemukan, kebutuhan untuk buang air kecil di malam hari atau nocturia ini, dapat dikaitkan dengan hipertensi dan asupan garam yang tinggi.

Nocturia sendiri adalah suatu kondisi yang mana orang bangun di malam hari karena mereka perlu buang air kecil. Penyebab umum sering pergi ke toilet di malam hari termasuk asupan cairan yang tinggi, gangguan tidur, dan obstruksi kandung kemih.

Orang-orang tanpa nocturia dapat tidur hingga 8 jam tanpa harus buang air kecil, tetapi beberapa orang yang dengan nocturia perlu bangun sekali pada malam hari. Individu dengan nocturia dapat bangun 2-6 kali pada malam hari.

Nocturia dapat menjadi tanda kondisi kesehatan lainnya, termasuk kelainan kandung kemih, tumor kandung kemih atau prostat, dan gangguan lain yang mempengaruhi kontrol sfingter. Wanita hamil dan penderita gagal jantung atau hati dan diabetes juga kerap mengalami nocturia.


Seiring bertambahnya usia, tubuh kita menghasilkan lebih sedikit hormon antidiuretik yang memungkinkan kita untuk menahan cairan. Hal inilah yang menyebabkan produksi urin orang tua menjadi lebih banyak pada malam hari.

"Studi kami menunjukkan, jika Anda perlu buang air kecil di malam hari, Anda mungkin mengalami peningkatan tekanan darah atau kelebihan cairan dalam tubuh Anda," kata penulis studi Satoshi Konno, dari Division of Hypertension di Tohoku Rosai Rumah Sakit di Sendai, Jepang.

Penelitian yang dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-83 Masyarakat Sirkulasi Jepang ini menjelaskan, perjalanan ke toilet untuk buang air kecil di malam hari mungkin terkait dengan asupan garam berlebihan dan tekanan darah tinggi.

Para peneliti ini mendata 3.749 penduduk kota Watari, Jepang dengan memberikan kuesioner.

Hasilnya, data menunjukkan bangun di malam hari untuk buang air kecil dikaitkan dengan peluang 40 persen lebih besar mengalami tekanan darah tinggi, dan risiko hipertensi meningkat secara signifikan karena jumlah kejadian nokturia per malam meningkat.

Konno mengatakan, hasil studi ini belum bisa sepenuhnya membuktikan adanya hubungan sebab akibat antara nocturia dan hipertensi.

Hasil penelitian menunjukkan kontrol yang tepat terhadap asupan garam dan tekanan darah mungkin penting untuk pengobatan nocturia, terlepas dari faktor kebangsaan.

"Hubungan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk gaya hidup, asupan garam, etnis, dan latar belakang genetik," jelas Konno.

"Hipertensi adalah penyakit nasional di Jepang. Asupan garam rata-rata di Jepang adalah sekitar 10 gram per hari, yang lebih dari dua kali lipat rata-rata asupan garam di seluruh dunia yakni 4 gram per hari. Asupan garam yang berlebihan ini terkait dengan preferensi kita akan makanan laut dan makanan berbasis kecap, sehingga pembatasan garam sulit dilakukan," kata Mutsuo Harada, ilmuwan yang terlibat dalam konferensi seperti dilansir Medical News Today.

Harada menambahkan bahwa deteksi dini dan penatalaksanaan hipertensi sangat penting untuk mencegah penyakit jantung.

Penting untuk meneliti dan memahami penyebab nocturia pada pasien karena gangguan ini tidak hanya dapat disebabkan oleh masalah organ urin, tetapi juga dapat disebabkan oleh penyakit seperti hipertensi.

Di sisi lain, Profesor dan Presiden Masyarakat Kardiologi Eropa (ESC) Barbara Casadei mencatat bahwa lebih dari 1 miliar orang memiliki tekanan darah tinggi, di seluruh dunia.

Tekanan darah tinggi adalah penyebab global utama kematian dini, yang menyebabkan hampir 10 juta kematian pada 2015. Pedoman ESC merekomendasikan pengobatan untuk mengurangi risiko stroke dan penyakit jantung.

"Gaya hidup sehat juga disarankan, termasuk pembatasan garam, alkohol, makan sehat, olahraga teratur, mengontrol berat badan, dan berhenti merokok," tambahnya.


Baca juga artikel terkait HIPERTENSI atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Febriansyah
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight