tirto.id - Presiden Partai Pribumi Malaysia Bersatu (Partai Bersatu) yang juga mantan Menteri Dalam Negeri Kabinet Pakatan Harapan, Muhyiddin Yassin, resmi dilantik sebagai Perdana Menteri kedelapan Malaysia. Pelantikan dan pengangkatan sumpah jabatan serta sumpah simpan rahasia sebagai perdana menteri tersebut berlangsung di Balai Singgahsana Kecil, Istana Negara, Ahad (1/3/2020).
Dilansir dari Antara, Muhyiddin langsung dilantik oleh Raja Malaysia atau Yang Dipertuan Agung Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah. Prosesi pengangkatan sumpah Muhyiddin Yasin sebagai Perdana Menteri Malaysia berlangsung mulai pukul 10:31 dan berakhir pukul 10:43 yang disiarkan secara langsung media resmi pemerintah.
Muhyiddin dengan mengenakan busana melayu hitam-hitam dengan peci warna hitam menyampaikan sumpah di depan raja yang mengenakan busana coklat muda yang duduk di singgasana bersama istrinya. Setelah membacakan sumpah Muhyiddin Yassin kemudian menandatangani sejumlah berkas dilanjut dengan pembacaan doa yang dipimpin Mufti Wilayah Persekutuan Haji Zulkifli Mohamad Al-Bakri.
Turut hadir di istana negara Presiden UMNO Ahmad Zahid Hamidi beserta sejumlah ketua partai Koalisi Barisan Nasional dari MIC dan MCA, Ketua PAS Abdul Hadi Awang dan eks Wakil Ketua PKR, Azmin Ali.
Ditunjuknya Muhyiddin ini dilakukan setelah Mahathir Mohammad memilih mundur dari kursi Perdana Menteri pada Senin (24/2/2020) lalu.
Pengunduran diri PM berusia 94 tahun itu dilakukan menyusul dinamika politik seputar rencana partainya untuk membentuk koalisi baru tanpa politikus senior Anwar Ibrahim. Anwar Ibrahim dijanjikan untuk menggantikan posisi Mahathir sebelum pemilihan berikutnya pada 2023.
Setelah dijanjikan menjadi perdana menteri, Anwar bergabung dengan mantan saingannya Mahathir untuk memenangkan pemilihan umum 2018 dalam koalisi Pakatan Harapan (PH) pimpinan Mahathir. Namun, saat ini, Koalisi Pakatan Harapan sudah tak memiliki kursi lagi untuk bisa menjadi partai berkuasa, menurut Bridget Welsh, peneliti University of Nottingham Malaysia’s Asia Research Institute.
Mahathir rupanya tak sekadar mundur dari kursi perdana menteri. Langkah itu justru merupakan salah satu taktik politisnya demi menjegal Anwar Ibrahim. Keputusan Mahathir itu diikuti dengan mundurnya 26 anggota dewan Fraksi Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM), partai besutan Mahathir, dari koalisi Pakatan Harapan.
Kepala Sekretaris Negara Malaysia, Mohd Zuki Ali menyatakan Raja menerima pengunduran diri Mahathir setelah bertemu dengan politikus sepuh tersebut. Namun, menurut Zuki, Raja sekaligus menunjuk Mahathir sebagai perdana menteri sementara sampai pemerintahan baru dibentuk.
Penulis: Bayu Septianto
Editor: Bayu Septianto