Modi Bertingkah, tapi Dunia DigitaI India Ada di Tangan Cina

Narendra Modi. (Foto AP / Saurabh Das)
Oleh: Ahmad Zaenudin - 12 September 2020
Dibaca Normal 3 menit
Modi memblokir aplikasi-aplikasi bikinan Cina. Masalahnya, dunia digital India bergantung kepada Cina.
“Kami masuk ke pasar Cina dengan cepat,” ucap Jayesh Easwaramony, Direktur Pelaksana Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika InMobi, dalam konferensi Tech in Asia 2017 di Singapura. InMobi, sebagaimana AdMob dan Audience Network, merupakan perusahaan periklanan digital. Bedanya, jika AdMob adalah milik Google dan Audience Network milik Facebook, sementara InMobi milik orang India. Pada 2007 silam, perusahaan ini didirikan oleh Naveen Tewari. Seperti halnya, Sundar Pichai, Tewari adalah wirausahawan digital lulusan Indian Institute of Technology (IIT).

Dalam laporan Tech in Asia yang terbit pada Mei 2017, C. Custer menyebut InMobi sebagai “perusahaan India yang ideal”. Alasannya, InMobi sukses meskipun harus berhadapan dengan mesin milik Google dan Facebook, dua perusahaan penguasa iklan digital. Per 2017, InMobi menjangkau 1,6 miliar pengguna internet. Karena besarnya jumlah jangkauan pengguna internet itu, klaim Jayesh, yang kini tak lagi bekerja untuk InMobi, “keuntungan selalu berada di sekitar kami”.

Alasan lain mengapa InMobi sukses adalah The Great Firewall of China yang memblokade masuknya Google dan Facebook ke pasar Cina. Walhasil, InMobi melenggang mulus masuk ke negeri Cina, negeri dengan pengguna internet terbesar di Bumi.

Singkat kata, kunci sukses perusahaan yang akhirnya memperoleh pendapatan hingga USD 1 miliar di 2019 tersebut adalah partner Cina. Custer menulis, “InMobi memikat perhatian rekan bisnis yang besar dan berpengaruh di Cina”.

InMobi, perusahaan India yang sukses atas bantuan Cina, tak sendirian. Jane Li, dalam laporannya untuk Quartz, menyebut Alibaba dan Tencent, dua perusahaan teknologi raksasa Cina, punya pengaruh kuat terhadap dunia startup India. Alibaba, misalnya, tercatat telah berinvestasi di enam startup, dengan lima di antaranya akhirnya berstatus sebagai unicorn--startup bervaluasi lebih dari USD 1 miliar. Di sisi lain, Tencent telah mengucurkan uangnya kepada 12 startup India dan tujuh di antaranya kini berstatus unicorn.

Alibaba merupakan kunci sukses bagi Paytm (uang digital terbesar di India), Zomato, hingga Snapdeal. Tencent adalah alasan di balik moncernya Flipkart (e-commerce terbesar di India), Ola (ride-hailing terbesar di India), dan BYJU. Tentu, tak hanya Alibaba dan Tencent yang membenamkan uang dan keahlian untuk membantu startup India sukses. Oyo, aplikasi penyedia hotel-hotel murah, sukses berkembang di dunia dan memiliki setidaknya 500.000 kamar menginap di Cina berkat pertolongan China Lodging.

Secara menyeluruh, investasi perusahaan Cina pada startup India naik daun sejak 2014. Kala itu, perusahaan-perusahaan Cina mengucurkan dana hingga USD 3,2 miliar, meningkat dari hanya USD 214 juta setahun sebelumnya. Per akhir tahun 2019 silam, perusahaan-perusahaan Cina telah membelanjakan uang sebesar USD 8 miliar untuk berbagai startup India. Akhirnya, dari 30 startup India yang berstatus unicorn, 18 di antaranya punya hubungan istimewa dengan Cina.

Ying Wei, salah satu investor dari CDH Investments, salah satu firma investasi terbesar di Cina, menyatakan strategi bisnis startup India identik dengan Cina saking derasnya aliran dana dari Cina. “Flipkart sangat mirip (strategi bisnisnya) dengan JD.com, Zomato identik dengan Meituan Dianping, dan Ola meniru Didi Chuxing,” tulis Ying Wei. Tak heran, dalam Ananya Bhattacharya dari Quartz menyatakan bahwa “Cina sangat kuat menggenggam dunia startup India”.

Sayangnya, Perdana Menteri India Narendra Modi tak menganggap penting uluran dana Cina untuk dunia startup di negerinya. Pada akhir Juli 2020 lalu, Cina memblokir TikTok, bersama dengan 59 aplikasi asal Cina lainnya yang digunakan penduduk India. Raymond Zhong, dalam laporannya untuk The New York Times, keputusan ini diambil atas dasar dugaan bahwa aplikasi-aplikasi tersebut diduga melakukan “aksi mata-mata”. Alasan yang sama juga disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump sebelum memerintahkan TikTok untuk menjual divisi Amerika-nya.

Tak sampai dua bulan selepas memblokir TikTok, karena terjadi ketegangan di perbatasan antara Cina-India yang menewaskan 20 tentara India, Modi memblokir 118 aplikasi Cina lainnya, termasuk video game PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG), Baidu, dan Alipay.

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi India menyatakan keputusan pemblokiran aplikasi-aplikasi Cina dilakukan untuk “memastikan keselamatan, keamanan, dan kedaulatan dunia maya India.”


Dunia Digital India: Spektrum yang Terlalu Tergantung pada Cina

Keputusan Narendra Modi memblokir aplikasi-aplikasi Cina menciptakan dua kutub gemuruh. Di satu sisi, Modi dianggap tengah berupaya melakukan “reformasi digital”, mengembalikan kedaulatan dunia maya India, sebuah dunia dengan 700 juta penduduk--dari sekitar 1,3 miliar penduduk “dunia nyata”-nya.

Tak lama selepas Modi mengambil keputusan pemblokiran, muncul tagar #BoycottChina di dunia maya India yang menunjukkan unggahan-unggahan warga India menghancurkan dan membakar produk-produk Cina. Lantas, merujuk laporan Ananya Bhattacharya untuk Quartz, muncul aplikasi-aplikasi tiruan produk-produk Cina yang diusir itu seperti Chingari, Mitron, Roposo, Bolo Indya, Moj, HiPi, HotShots.

Dengan 200 juta pengguna aktif di India, TikTok adalah korban terbesar. Tapi, aplikasi-aplikasi peniru pun gagal. Anak-anak gen Z dan Y menganggap norak label itu “TikTok of India” atau “TikTok made in India” yang tersemat pada aplikasi-aplikasi KW itu.

Di sisi lain, kebijakan Modi hanya dianggap sebagai alat meningkatkan citranya semata, khususnya di hadapan para pendukung. Kebijakan Modi justru akan menjadi bumerang yang menghancurkan dunia digital India. Lagi-lagi, dunia startup India sangat bergantung pada uang dan keahlian Cina. Di level masyarakat atau konsumen, Cina pun mendominasi. Niharika Sharma, dalam laporannya untuk Quartz menyebut hingga detik ini, tidak ada satu pun ponsel pintar buatan India yang berjaya di negerinya sendiri. Dari lima perusahaan pembuat ponsel paling berjaya di India, empat berasal dari Cina. Xiaomi mendominasi dengan 31 persen pangsa pasar, disusul oleh Vivo (21 persen), Oppo (13 persen), dan Realme (10 persen). Samsung, perusahaan Korea Selatan yang masuk lima besar, mendulang 17 persen pangsa pasar.

Di pasar industri, lanjut Niharika, India juga sangat tergantung pada Cina. Dari data yang dipaparkannya, 19,4 persen alat-alat elektronik yang digunakan berbagai perusahaan India dibeli dari Cina.

Ketakutan bahwa kebijakan Modi jadi bumerang terbukti. Zomato, startup makanan yang didirikan di India dan kini menyebar di berbagai negara di dunia, kehilangan akses USD 100 juta dari investasi yang dikucurkan Ant Financial, kompartemen bisnis finansial milik Alibaba. Mercedes Ruehl, dalam laporannya untuk Financial Times Zomato ketiban sial karena Modi memperketat aliran dana Cina ke India. Tentu, ini menggelikan. Ant, sebelum insiden Modi, telah mengucurkan dana hingga USD 560 juta kepada Zomato. Dana sebesar itu menjadikan Ant pemilik 25 persen Zomato.

Kesialan Zomato kemungkinan akan menyebar pada berbagai startup India lainnya.

Benar apa yang diucapkan salah satu pengguna Weibo, “(Kebijakan Modi) terasa tidak adil. Saya tidak dapat menemukan produk buatan India di sekitar sini (untuk membalas warga India yang menghancurkan/membakar produk Cina). Saya bener-benar tidak senang, nampaknya seluruh dunia juga sama.”

Baca juga artikel terkait BISNIS STARTUP atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight