Menuju konten utama

Merajut Kreasi dan Kolaborasi di Solo Art Market (SAM)

SAM bukan sekadar pasar. Ia juga menjadi arena bagi pengrajin, yang didominasi perempuan, untuk berbagi ilmunya pada pengunjung lewat workshop berbayar.

Merajut Kreasi dan Kolaborasi di Solo Art Market (SAM)
Header Diajeng Solo Art Market. tirto.id/Quita

tirto.id - Jika ditanya tentang pasar produk kreatif handicraft di Indonesia, sebagian dari kita mungkin teringat pada art market yang sudah cukup lama established seperti Sukowati dan Pasar Seni Ubud di Pulau Bali, atau Gabusan di Bantul, Yogyakarta.

Baru-baru ini, ada arena serupa di kota Solo. Namanya Solo Art Market atau sering disingkat SAM.

Pasar ini dapat kamu jumpai di sepanjang trotoar Jalan Ngarsopuro pada hari Minggu pertama dan ketiga setiap bulannya.

Pernak-pernik unik buatan tangan yang dijual di sana lahir dari kreativitas seniman pengrajin atau kini lebih populer disebut artisan. Produk-produknya meliputi pakaian batik, aksesori dari manik-manik, tenun, tas rajut, peralatan makan dari kayu, sampai pengharum ruangan.

SAM digelar sejak tahun lalu. Kegiatan ini dikelola oleh pihak swasta dengan izin dari pemerintah kota.

Heru Prasetya, inisiator SAM menyampaikan, “Saat ini sudah ke-49 kalinya, dan sudah ada sekitar 300 artisan yang terlibat. Tidak hanya dari Solo saja, 40 persen artisan SAM berasal dari Temanggung, Jogja, Surabaya, Bogor, hingga Jakarta. Dari jumlah tersebut 75 perempuan artisan adalah perempuan tangguh yang berjuang di dunia seni, craft, dan fesyen.”

Angka dari Heru tak jauh dengan cerminan statistik perempuan Indonesia yang mengelola usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berdasarkan data BPS tahun 2021, perempuan mengelola 64,5 persen dari total UMKM atau sekitar 37 juta unit usaha.

Header Diajeng Solo Art Market

Seorang pengunjung tertarik dan memotret perabot lukis merek Nyentrik Indonesia di Solo Art Market (4/2/2024). foto/ Daria Rani Gumulya

Artisan yang ingin memasarkan hasil karyanya di SAM perlu menjalani serangkaian proses seleksi atau kurasi. Tujuannya untuk menjaga kualitas dan sisi kreatif pada setiap produk yang dijual di SAM.

Di SAM, kamu juga dapat mengikuti pelatihan pembuatan produk seni.

“Selain membeli produk, ada workshop berbayar yang dapat diikuti pengunjung. Proses pembuatan karya itulah yang menjadi ‘roh’ SAM,” ungkap Heru. “Konsepnya adalah memindahkan ‘dapur’ para artisan dari rumah ke sini.”

Lokasi SAM berada di depan Pura Mangkunegaran—ikon wisata Solo—dan masih satu area dengan kuliner legandaris Solo, Soto Triwindu. “Menjadi satu ekosistem kreatif yang berdampak bagi banyak orang,” jelas Heru terkait penyelenggaraan SAM di ruang publik.

Awal Februari ini, di salah satu stand, kamu dapat berkenalan dengan Nita, artisan yang menjual produk minyak atsiri dengan jenama Romans. Nita mengikuti event SAM selama enam bulan dan produknya selalu lolos seleksi.

Perempuan asal Solo ini senang bergabung di SAM karena tarif yang ditawarkan SAM sangat terjangkau, Rp25 ribu. Durasi waktu jualannya juga panjang, dari jam 9 pagi sampai sampai 5 sore.

“Selain di SAM, juga ikut di Solo Night Market, setiap Jumat dan Sabtu Malam di trotoar Gatot Subroto, waktunya terbatas hanya 2-3 jam saja,” jelas Nita tentang aktivitas penjualannya.

Berawal dari penelitian kuliah tentang tanaman herbal di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS), Nita berkenalan dengan minyak atsiri. “Saya lihat potensi marketnya besar dan mencoba mengembangkan minyak atsiri ini ke produk turunannya seperti pengharum ruangan, pengharum mobil, lilin aromaterapi dan sabun mandi.”

Proses pembuatan minyak atsiri tersebut tergolong susah karena prosesnya rumit. Sebanyak 10 kg batang serai harus dicincang dan direbus selama 8 jam. Kemudian uapnya disuling untuk diambil minyaknya. “Dari situ saya hanya dapat 8 ml saja, jadi wajar kalau harganya cukup mahal,” jelas Nita.

Selain pameran, Nita memanfaatkan media sosial dan e-commerce untuk pemasaran produk. Kesulitannya, karena minyak atsiri bukan kebutuhan harian, maka penjualannya tidak stabil.

“Kadang sebulan ramai, lalu sepi untuk pelanggan beli lagi cukup lama jedanya, makanya saya inovasi ke produk daily needs (harian) seperti parfum atau sabun mandi,” ungkap Nita.

Melalui SAM, Nita ingin produknya dikenal dan dipakai oleh masyarakat lokal. Apabila kelak minyaknya sudah dipakai banyak orang, ia ingin suatu saat bisa ikut pameran ke Inacraft, pameran produk kerajinan bergengsi dan terbesar di Asia Tenggara yang diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan RI.

Header Diajeng Solo Art Market

Aina Craft salah satu stand di Solo Art Market (4/2/2024) . foto/Daria Rani Gumulya

Berbeda dengan Nita, pengrajin kain batik Sendang justru belum mengandalkan jualan online sebagai strategi pemasarannya.

“Saya sengaja hold dulu untuk promosi online, karena saya senang berinteraksi dengan pembeli. SAM ini paling cocok, karena saya ingin pembeli memegang produk saya, mencoba secara langsung pakaian-pakaian yang saya buat,” ungkap pemilik jenama Salawatri ini.

Sendang menawarkan produk pakaian seperti outer, bawahan, hingga kebaya. ”Biasanya pembeli yang sudah pernah beli akan pesan lagi melalui online,” imbuh Sendang.

Sendang sudah setahun ikut SAM, dari awal tahun 2023. Awalnya, Sendang hanya membuat obi dari batik-batik yang ia beli. Kemudian, ia membuat sendiri kreasi batik cap karena ingin menciptakan motif sendiri.

Kebanyakan motif batik yang ada cukup ramai atau justru klasik seperti sogan. “Saya buat sendiri motif batik minimalis, dengan warna-warna basic, seperti merah, biru yang simple,” jelas perempuan yang pernah berkerja sebagai akuntan ini.

Pembeli batik buatan Sendang hampir sebagian besar perempuan, karena jenis pakaian yang dijual memang untuk perempuan. Ada juga segelintir pembeli pria yang membeli untuk pasangannya.

Menurut Sendang, SAM sangat membantu pemasaran produknya. Setelah pandemi, acara offline seperti SAM relatif ramai didatangi pengunjung. “Awalnya dulu hanya 60 pengrajin saja, sekarang sampai 120, dan SAM ini marketnya segmented, jadi mereka yang datang biasanya tertarik membeli,” ungkap Sendang.

Ke depan, Sedang ingin mengembangkan produknya ke arah pakaian rumah yang nyaman, seperti piyama, kimono, serta perlengkapan rumah, bed sheet atau bantal sofa. Pameran kelas nasional cenderung belum menarik buat Sendang, karena ia lebih ingin punya toko offline, di mana pembeli merasakan pengalaman langsung mencoba kreasi produknya.

Header Diajeng Solo Art Market

Salah satu stand di Solo Art Market (4/2/2024). Beraneka ragam aksesoris seperti gelang, kalung, jepit rambut terbuat dari manik-manik. foto/Daria Rani Gumulya

Hampir sama dengan Sendang dan Nita, keberadaan SAM juga disyukuri oleh Salsa, pengrajin produk rajut Knots by La.

“Sewa mejanya sangat terjangkau, sangat membantu UMKM yang baru merintis seperti saya. Pernah ikut pameran lain, pendaftarannya sampai 3 juta untuk event selama 4 hari. Meski satu stand bisa 2 produk tetap saja terlalu mahal,” jelas Salsa.

Perempuan muda ini awalnya melihat SAM di Instagram, ia kemudian mendaftar dan lolos proses kurasi.

Produk yang ia jual seperti tas, boneka, gantungan kunci. Semuanya hasil rajutan tangan Salsa. Pembeli produknya banyak perempuan muda, seperti mahasiswa dan anak-anak.

Menurut Salsa, dengan mengikuti SAM, ia juga mendapatkan kemudahan akses untuk bergabung di komunitas, lalu bertemu orang-orang kreatif dan berkolaborasi dengan mereka.

Meskipun memproduksi kreasi yang berbeda, baik Salsa, Sendang, dan Nita dipersatukan oleh satu keyakinan yang sama. Pengrajin perempuan ini semua percaya, kreasi produk lokal mampu bersaing di pasaran jika ada dukungan dari pemerintah dan masyarakat.

Di tengah gempuran produk impor murah dan baju thrift , keberadaan SAM seakan menjadi oase bagi artisan lokal untuk arena promosi, ajang kolaborasi dan bertumbuh, dan tentunya menciptakan ekonomi kreatif yang berdampak positif bagi masyarakat Solo serta sekitarnya.

Baca juga artikel terkait DIAJENG atau tulisan lainnya dari Daria Rani Gumulya

tirto.id - Diajeng
Kontributor: Daria Rani Gumulya
Penulis: Daria Rani Gumulya
Editor: Sekar Kinasih