Menuju konten utama

Menit Bermain untuk De Bruyne akan Tentukan Nasib Manchester City

Sejumlah pengamat meyakini Kevin De Bruyne bisa jadi penentu bagi nasib quadruple Manchester City, setelah dia membuktikan kapasitasnya di laga EPL kontra Crystal Palace.

Menit Bermain untuk De Bruyne akan Tentukan Nasib Manchester City
Manajer Manchester City Pep Guardiola menghibur pemain cedera Kevin De Bruyne ketika meninggalkan lapangan selama pertandingan sepak bola Liga Inggris antara Bournemouth dan Manchester City, di Stadion Vitality, di Bournemouth, Inggris, Sabtu 2 Maret 2019. Adam Davy / PA melalui AP

tirto.id - Akhir pekan kemarin Kevin De Bruyne akhirnya mendapat sorotan. Tampil sebagai starter dalam pertandingan Liga Inggris (EPL) antara Crystal Palace vs Manchester City di Selhurst Park, Minggu (14/4/2019), gelandang serang berpaspor Belgia itu mencatatkan dua assist penting yang mengunci kemenangan 1-3 tim tamu.

Assist pertama dicatatkan De Bruyne pada menit 15. Dari sisi kanan penyerangan, kemampuan De Bruyne melihat posisi menguntungkan Raheem Sterling diteruskan dengan umpan terobosan ciamik. Umpan tersebut ditutup Sterling dengan sepakan ke tiang jauh. Kemudian pada menit 90, giliran di sisi kiri penyerangan De Bruyne membuktikan kapasitasnya. Kejeliannya melihat posisi longgar Gabriel Jesus berujung gol terakhir yang memantapkan keunggulan City.

Usai pertandingan, pelatih Manchester City, Pep Guardiola memuji De Bruyne habis-habisan. Guardiola bahkan menyebut De Bruyne bukan manusia biasa.

"Kami sangat merindukannya, dia punya kemampuan dan visi yang tidak dimiliki manusia normal. Kecepatan dan umpannya di sepertiga area terakhir luar biasa. Mental dan kakinya bugar. Itulah kenapa, bukan hanya terhadap gol, dia [De Bruyne] punya andil penting dalam kemenangan ini," kata Guardiola.

Pujian Guardiola yang menyebut De Bruyne bukan manusia biasa sebenarnya bukan hal baru. Para pengamat sepakbola seperti Alan Shearer, Garry Lineker, bahkan Frank Lampard pernah melempar sanjungan tidak beda jauh.

Namun, ungkapan Guardiola punya arti sendiri karena sejauh musim ini, De Bruyne nyaris tidak punya kesempatan yang cukup untuk membuktikan kapasitasnya. Cedera adalah alasan di balik semua itu.

De Bruyne mengalami masalah serius di ligamen dan paha yang membuatnya berkali-kali harus masuk meja operasi. Mengacu dari data transfermarkt, di EPL De Bruyne baru tampil selama 924 menit (termasuk lawan Palace), sementara di Liga Champions dia bahkan baru main 158 menit.

Di EPL, De Bruyne juga baru tampil penuh 90 menit selama empat kali, dan dua assist yang dia catatkan semalam adalah assist pertamanya di Liga Inggris musim ini.

Kendati mengalami penurunan secara statistik individu, Guardiola yakin kalau kembalinya De Bruyne dalam pertandingan kontra Palace adalah pertanda bagus bagi City yang sedang mengejar misi meraih quadruple (empat trofi sekaligus).

Sejauh ini, trofi yang baru diamankan Guardiola baru Carabao Cup. Masih ada Piala FA, Liga Champions, dan EPL yang Guardiola harap bisa direngkuh menyusul kembalinya De Bruyne.

"Kami tampil bagus di beberapa laga terakhir, termasuk Liga Champions. Kami memiliki 183 poin selama dua musim terakhir saat kompetisi (EPL) menyisakan lima pertandingan. Itu adalah angka yang luar biasa, terutama untuk EPL," ujar Guardiola.

Meningkatkan Kualitas Pemain Lain

Mengapa kembalinya De Bruyne bisa meningkatkan kepercayaan Guardiola sebegitu besarnya?

Pengamat sepakbola sekaligus legenda Liverpool, Danny Murphy, percaya kalau salah satu penyebab optimisme itu adalah kemampuan De Bruyne dalam menaikkan potensi rekan-rekan setimnya.

Menurut Murphy, De Bruyne adalah sosok kalem yang di atas lapangan tidak membebani rekan setimnya. Alih-alih membebani, keberadaan De Bruyne yang punya kemampuan olah bola jempolan bisa membuat para penyerang City tampil lebih lepas. Aspek ini, menurutnya sangat mempengaruhi City dan Guardiola.

"Di situasi City saat ini, mengejar quadruple, mereka butuh tampil konsisten di beberapa pertandingan saja, yang itu bisa ditentukan oleh keberadaan seseorang yang kalem serta bisa membuat umpan-umpan penting," ujarnya kepada BBC Sport.

"Bagi mereka, tidak perlu lagi hal muluk-muluk. Yang terpenting saat ini adalah memiliki sosok yang bisa menjadi penentu ketika, misalnya, skor masih 0-0 dan laga cuma menyisakan 10 menit. Dan, De Bruyne adalah orang yang dibutuhkan," imbuhnya.

Momen ini juga telah teruji saat City membungkam Crystal Palace semalam. Sempat unggul 2-0, City nyaris dikejar setelah tuan rumah bisa memangkas ketertinggalan jadi 1-2 lewat gol tembakan bebas Luka Milivojevic. Kemudian, ketenangan De Bruyne benar-benar jadi pembeda. Terutama saat konsentrasinya membangun serangan berbuah assist kedua yang dia catatkan atas gol Gabriel Jesus.

Menambah Alternatif Serangan

Salah satu aspek yang membuat City kesulitan mengejar quadruple adalah kurangnya alternatif strategi yang diterapkan Guardiola dalam membangun serangan. Ini pula yang terjadi saat mereka kalah 1-0 dari Tottenham dalam pertandingan leg pertama perempat final Liga Champions tengah pekan lalu.

Di laga itu De Bruyne tidak jadi starter, bahkan cuma masuk saat laga menyisakan dua menit. Dan sepanjang pertandingan, City yang sebenarnya mendominasi bola tak mampu mengkreasi serangan berarti.

Bola-bola direct yang diterapkan City ditangkal dengan baik oleh Spurs dan ironisnya, Guardiola tidak punya senjata alternatif.

Minimnya kreativitas lini tengah City di laga itu bahkan membuat jurnalis The Times, Henry Winter dan Matt Dickinson menyebut pendekatan Guardiola salah. Ketika gagal, Pep tidak mengubah taktik ataupun mengganti komposisi pemain secara signifikan.

"Tanpa Kevin De Bruyne di lini tengah? Memilih Riyad Mahrez ketimbang Leroy Sane? Fabian Delph sebagai bek kiri? Guardiola punya pembelaan saat di ruang konferensi pers, menyebut di luar gol Son Heung-min City tampil bagus, tapi tetap saja itu sebuah kekalahan," tulis Dickinson.

Sementara Winter dalam analisisnya saat itu menyebut, "cara bermain City [saat lawan Spurs] aneh, pendekatan yang benar-benar mengkhawatirkan, yang berlawanan dengan prinsip bekerja Guardiola."

Danny Murphy, dalam kolomnya di BBC Sport lagi-lagi membenarkan analisis di atas. Lebih dari itu, dia mengatakan Kevin De Bruyne adalah solusi paling realistis atas permasalahan yang ada. Soalnya, dengan De Bruyne, Guardiola dan Manchester City punya opsi strategi lebih luwes untuk diterapkan di atas lapangan.

"Dia bisa melakukan banyak hal. Mulai dari umpan silang, umpan pendek, umpan terobosan yang membelah barisan bek lawan, set-play ataupun tendangan jarak jauh, Anda tahu itu. De Bruyne bisa melakukan banyak hal, dan dia membuat semua itu seperti hal mudah," kata Murphy.

Saat ini, selain EPL, City sedang berada di titik krusial dalam perjalanannya di Liga Champions. The Citizens tertinggal agregat 0-1 dari Tottenham dan perlu menang dengan defisit dua gol pada leg kedua pekan ini.

Di laga selanjutnya, Murphy mengatakan Guardiola tak punya pilihan selain memasang De Bruyne selama 90 menit penuh. Jika langkah itu tak dilakukan, menurutnya Guardiola bakal menanggung kerugian besar.

"Guardiola nyaris tidak memainkannya pekan lalu dan terbukti City kalah. Itu sudah berlalu, tapi yang jelas, saya akan benar-benar heran kalau di laga berikutnya keputusan serupa [mencadangkan De Bruyne] dilakukannya," tandas Murphy.

Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPIONS atau tulisan lainnya dari Herdanang Ahmad Fauzan

tirto.id - Olahraga
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Gilang Ramadhan