Mengenal Sleeping Beauty Syndrome yang Bisa Bikin Tidur Setahun

Oleh: Balqis Fallahnda - 22 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Sleeping Beauty Syndrome adalah kelainan neurologis langka dan kompleks yang dapat membuat penderitanya memiliki waktu tidur sangat panjang.
tirto.id - Banyak warganet di Indonesia belum lama ini dibuat heran dan prihatin setelah menyaksikan video tik tok yang diunggah oleh seorang ibu pada akun tik tok @shaka_17. Dalam video itu selintas, tak ada yang aneh, karena hanya memperlihatkan adegan seorang bayi yang bernama Shaka sedang tertidur pulas dalam berbagai macam posisi.

Namun, ini menjadi hal yang tidak biasa ketika diketahui ternyata bayi Shaka telah tertidur hampir satu tahun lamanya, yakni sejak ia masih berusia sekitar 8 bulan.

Dalam salah satu videonya, sang ibu terlihat berusaha membangunkan Shaka dengan membuat ia tidur tengkurap sembari menggoyangkan pipinya. Namun, usaha tersebut tidak berhasil dan Shaka tetap tertidur dengan nyenyak.

Meskipun sudah tertidur dalam waktu yang lama, Shaka tetap memiliki badan sehat. Tubuhnya pun terlihat berisi seperti bayi pada umumnya. Dalam video, sang ibu terekam aktif menyuapi bayinya itu dengan makanan dan memberi Shaka susu.

Sang ibu juga kerap menulis caption pada video unggahannya berisi harapan agar anaknya segera bangun dari tidur panjang. Seperti pada salah satu video, ibu bayi Shaka menulis: "semoga cepet sembuh kamu nak..bangun dari komamu."

Kasus yang dihadapi bayi Shaka ini didiagnosis sebagai penyakit Sleeping Beauty Syndrome, atau dikenal juga dalam dunia medis dengan istilah Kleine-Levin Syndrome (KLS).


Apa Itu Sleeping Beauty Syndrome?

Sleeping Beauty Syndrome adalah kelainan neurologis yang langka dan kompleks yang membuat penderitanya memiliki waktu tidur yang berlebihan. Umumnya, gangguan sindrom ini terjadi pada usia remaja. Namun, di sebagian kasus, sindrom ini juga dialami orang dewasa, anak-anak, dan bayi.

Adapun, menurut ulasan di laman Healthline, Sleeping Beauty Syndrome adalah gangguan langka yang menyebabkan kantuk berulang, bahkan hingga 20 jam sehari.

Diagnosis Kleine-Levin Syndrome (KLS) sangat sulit karena kerap tanpa gejala. KLS memerlukan diagnosis eksklusi, sehingga dokter harus terlebih dahulu menghilangkan daftar panjang kondisi lain yang bisa meyerupai gejalanya. Diagnosis sindrom ini sepenuhnya bersifat klinis.

Berdasarkan Klasifikasi Internasional Gangguan Tidur, KLS termasuk dalam kategori hipersomnia berulang. KLS pun didefinisikan sebagai episode kantuk berlebihan yang berlangsung lebih dari 2 hari dan kurang dari empat minggu, dicampur dengan interval panjang kewaspadaan normal yang biasanya bisa berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, dan berulang pada paling tidak setiap tahun.

Sleeping Beauty Syndrome tidak dijelaskan atau tidak termasuk ke dalam gangguan tidur, seperti gangguan neurologis (misalnya pingsan berulang idiopatik, epilepsi), gangguan mental (misalnya gangguan bipolar, hipersomnia psikiatrik, depresi), atau akibat penggunaan obat-obatan (misalnya benzodiazepin, alkohol), demikian dikutip dari Annals of Indian Academy of Neurology.


Apa Penyebab Sindrom Sleeping Beauty?

Belum diketahui penyebab pasti gangguan ini. Namun, beberapa ahli menduga ada sejumlah faktor kesehatan tertentu yang dapat menyebabkan sindrom sleeping beauty semakin parah.

Contohnya, sindrom sleeping beauty dapat diperparah dengan adanya cedera pada hipotalamus. Hipotalamus merupakan bagian dari otak yang mengontrol tidur, nafsu makan, dan suhu tubuh.

Tak hanya itu, orang juga dapat mengalami sindrom ini setelah terserang infeksi, salah satunya flu. Sejumlah peneliti juga mensinyalir sindrom sleeping beauty mungkin dipengaruhi oleh gangguan autoimun, atau kondisi ketika pertahanan tubuh menyerang tubuh sendiri.

Merujuk pada ulasan ilmiah dalam jurnal neurologi Brain edisi terbitan 2005, yang dilansir Oxford Academic, belum ada pengobatan yang spesifik untuk penyakit ini. Meski demikian, di beberapa kasus, sebagian dokter menggunakan lithium dan carbamazepine, yang biasanya untuk mengobati bipolar, saat berusaha mencegah sleeping beauty sydrom menjadi semakin parah.

Penyakit ini sangat mengganggu kelangsungan hidup penderitanya. Waktu tidur yang terlalu lama membuat perkembangan penderitanya terhambat. Apalagi, jika terjadi pada bayi, sindrom ini bisa membikin si kecil kehilangan waktu tumbuh kembang pada masa keemasannya.


Baca juga artikel terkait SINDROM atau tulisan menarik lainnya Balqis Fallahnda
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Addi M Idhom
DarkLight