Mengenal Hantavirus: Gejala, Penyebab hingga Penanganannya

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 26 Maret 2020
Dibaca Normal 2 menit
Penularan Hantavirus kepada manusia adalah melalui udara saat hewan yang terinfeksi telah mengeluarkan virus tersebut pada kotoran, urin, atau air liur.
tirto.id - Di media sosial saat ini tengah ramai diperbincangkan soal “coronavirus 2.0” atau ada juga yang menyebut Hantavirus.

Hal tersebut menjadi ramai diperbincangkan karena adanya laporan bahwa satu orang dari Provinsi Yunnan meninggal saat sedang dalam perjalanan kembali ke Provinsi Shandong untuk bekerja Senin (23/3/2020) lalu dilansir dari Global News.

Informasi lebih lanjut melaporkan bahwa orang tersebut positif terjangkit Hantavirus, dan 32 orang lainnya di dalam bus sedang menjalani uji atau pemerikasaan lebih lanjut.

Lantas, apa itu Hantavirus?

Hantavirus merupakan salah satu jenis penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan kepada manusia.

Di Eropa dan Asia, virus yang diketahui berasal dari tikus tersebut menyerang ginjal manusia yang dikenal dengan sebutan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS).

Sementara, Hantavirus di Amerika menyerang paru-paru yang menyebabkan Hantavirus pulmonary syndrome (HPS).

Setiap jenisnya, Hantavirus memiliki pembawa yakni hewan pengerat. Tikus rusa menjadi carrier virus yang utama, meski tikus berekor putih, tikus kapas, dan tikus padi juga disinyalir membawa virus tersebut dan menularkannya kepada manusia.

Penularan Hantavirus

Mayo Clinic menuliskan, penularan Hantavirus kepada manusia adalah melalui udara saat hewan yang terinfeksi telah mengeluarkan virus tersebut pada kotoran, urin, atau air liur.

Ketika Anda menyapu loteng yang menjadi tempat tikus bersemayam, partikel-partikel kecil tinja dapat terhirup dengan mudah.

Setelahnya, virus-virus tersebut mencapai paru-paru dan mulai menyerang pembuluh darah kecil hingga menyebabkan kebocoran.

Paru-paru akan dibanjiri dengan cairan yang memicu masalah pernapasan. Sayangnya, tidak diketahui secara pasti berapa lama waktu inkubasi virus tersebut di dalam tubuh.


Gejala Hantavirus


CDC menuliskan gejala akan terlihat antara 1-8 minggu setelah terpapar virus tersebut.

Gejala awal kasus HPS meliputi kelelahan, demam, dan nyeri otot pada kelompok otot besar, paha, pinggul, punggung, dan terkadang bahu.

Beberapa orang yang terinfeksi Hantavirus tersebut juga merasakan sakit kepala, pusing, hingga muntah dan diare. Sementara itu, ketika 4-10 hari setelah fase awal tubuh akan memunculkan gejala lain seperti batuk dan sesak napas.

Hantavirus yang menyerang ginjal memiliki gejala awal yang sama dengan Hantavirus yang menyerang paru-paru. Akan tetapi, gejala selanjutnya dapat mencakup tekanan darah rendah, syok akut, kebocoran pembuluh darah, dan gagal ginjal akut.

CDC melaporkan tingkat kematian akibat Hantavirus HPS ini setidaknya 38 persen. Sementara, kasus HFRS memiliki tingkat kematian kurang lebih 5-15 persen.

Siapa saja yang beresiko terjangkit Hantavirus?

Orang yang hidup di sekitar pedesaan memiliki potensi terjangkit virus ini lebih tinggi, melansir dari Lungs.

Para pasien yang datang ke rumah sakit dengan kasus ini acap kali tanpa memiliki kontak yang jelas dengan hewan pengerat tersebut, sehingga ada kemungkinan bahwa mereka tidak mengenali paparan tikus.

Di sisi lain, melansir Mayo Clinic orang dapat berpotensi terjangkit Hantavirus saat melalukan aktivitas seperti:

1. Orang yang bekerja membuka dan membersihkan gedung atau gudang yang lama tidak digunakan, membersihkan rumah, terutama di loteng atau daerah lalu lintas rendah lainnya

2. Memiliki rumah atau ruang kerja yang penuh dengan tikus

3. Memiliki pekerjaan yang melibatkan paparan hewan pengerat, seperti konstruksi, pekerjaan utilitas, dan pengendalian hama

4. Berkemah, hiking, atau berburu

Cara penanganan Hantavirus

Hantavirus menyebabkan dua jenis penyakit yang berbeda, yakni HRFS yang menyerang ginjal dan HPS yang menyerang paru-paru. Oleh sebabnya, terdapat perbedaan jenis cara penanganan penyakit tersebut.

CDC menuliskan bahwa tidak ada penanganan khusus bagi pasien yang terjangkit HPS. Namun, jika orang yang terinfeksi dikenali lebih awal dan menerima perawatan medis di unit perawatan intensif, mereka mungkin akan mendapatkan hasil yang lebih baik.

Dalam perawatan intensif, pasien diintubasi dan diberikan terapi oksigen untuk membantu mereka melalui periode kesulitan pernapasan yang parah.

Sementara, pasien dengan kasus HRFS akan mendapatkan terapi suportif sebagai bagian perawatan yang utama.

Perawatan ini mencakup pengelolaan cairan (hidrasi) dan elektrolit pasien dengan hati-hati (mis., Natrium, kalium, klorida), pemeliharaan kadar oksigen dan tekanan darah yang benar, dan perawatan yang tepat dari segala infeksi sekunder.

Dialisis mungkin diperlukan untuk memperbaiki kelebihan cairan yang parah. Ribavirin intravena, obat antivirus, telah terbukti mengurangi penyakit dan kematian yang terkait dengan HFRS jika digunakan sangat dini pada penyakit ini.

Karena itu, jika Anda telah berada di sekitar hewan pengerat dan memiliki gejala demam, nyeri otot dalam, dan napas pendek, segera temui dokter.

Pastikan untuk memberi tahu dokter Anda bahwa Anda telah berada di sekitar hewan pengerat. Hal ini akan mengingatkan dokter untuk mencari dengan cermat segala penyakit yang dibawa hewan pengerat, seperti HPS atau HFRS.


Baca juga artikel terkait VIRUS atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight