Menengok Situs Sejarah Donggala yang Digulung Tsunami

Oleh: Haris Prabowo - 16 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Banyak bangunan bersejarah di Donggala. Namun, belum semua jadi cagar budaya, bahkan ketika hancur digulung tsunami, 28 September lalu.
tirto.id - Gempa berkekuatan 7,4 skala Richter dan tsunami pada 28 September lalu tak hanya meluluhlantakkan Palu, tapi juga daerah lain seperti Sigi, Parigi Moutong, dan terutama Donggala. Tempat yang disebutkan terakhir adalah kabupaten yang punya sejarah panjang dan penuh dengan ragam situs sejarah dan kebudayaan.

Saya mengunjungi tempat itu pada pekan kedua setelah gempa. Perlu waktu kurang lebih satu jam menggunakan mobil untuk sampai ke lokasi dari Palu.

Saya hanya melihat puing berserakan bekas hantaman tsunami sepanjang perjalanan melewati Jalan Poros Palu-Mamuju dan Jalan Trans Palu-Donggala yang menyusuri pantai. Nyaris tak ada yang tersisa dari daerah yang pernah jaya sebagai 'kota metropolitan' sejak era kerajaan hingga Orde Baru tersebut.

Dikatakan 'kota metropolitan' karena cikal bakal Donggala memang pelabuhan. Di mana-mana, pelabuhan adalah tempat bertemunya orang-orang dari beragam etnis, suku, ras, dan kelas sosial. Di sana terjadi interaksi hingga akulturasi. Mereka yang sesungguhnya membentuk kota.

Latar sejarah yang demikian membuat Donggala banyak meninggalkan situs-situs bersejarah seperti kantor bea cukai, rumah panggung abad ke-19, kantor beras era kolonial, hingga gedung bioskop.

Beberapa situs itu rusak, bahkan hancur tak jelas bentuknya.

Kamis (11/10/2018) siang, saya ditemani Jamrin Abubakar, 46 tahun, wartawan senior lokal yang banyak menulis tentang sejarah, kebudayaan, dan geologi. Ia juga pernah menulis beberapa buku kumpulan fabel.

Aduma Niaga

Saya dan Jamrin melewati gedung yang dikenal dengan sebutan Aduma Niaga. Gedung ini dibikin pemerintah kolonial Belanda dengan nama Borneo Sumatra Maatschappij (Borsumij), fungsinya seperti Badan Urusan Logistik (Bulog).

"Sandang dan pangan ditampung di sini untuk didistribusikan ke seluruh Sulawesi Tengah, karena waktu zaman pendudukan Belanda, Jepang, dan awal kemerdekaan itu Pelabuhan Donggala adalah salah satu pelabuhan utama," kata Jamrin.

Donggala sempat diserang gerombolan perusuh dari PRRI/Permesta pada 1950-an, ketika proyek nasionalisasi aset-aset peninggalan Belanda sedang terjadi di mana-mana. Menurut Makmun Salim dalam Sedjarah Operasi Gabungan Terhadap PRRI-Permesta, dari 27 hingga 30 April 1958 bandar niaga ini dibombardir pesawat tempur Bomber B-26 (hlm. 65).

"Gedung ini dibom oleh gerakan itu hingga hancur pada tahun 1958. Dibangun kembali pada tahun 1960 hingga 1962, dan diresmikan tahun 1963 dengan nama Budi Bhakti," kata Jamrin.

Setelah itu, gedung ini kerap gonta-ganti nama: dari Budi Bhakti menjadi Aduma Niaga, berubah lagi jadi Pantja Niaga, dan lalu jadi Dharma Niaga hingga terakhir jadi PT. PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) sejak tahun 2000-an di bawah naungan Kementerian BUMN dan Kementerian Perdagangan.

"Tetapi yang tetap terkenal itu Aduma Niaga," kata Jamrin.


Jamrin mengatakan gedung yang arsitektur bangunannya khas Belanda ini kemudian jadi landmark Donggala. Banyak orang sering datang dan mengambil foto.

"Terakhir digunakan oleh saya dan kawan-kawan dari Donggala Heritage untuk agenda Donggala Sinema Festival, pemutaran film-film tua. Terakhir 2016. Dan 2017 kami melakukan pameran fotografi di sekeliling gedung," ujar Jamrin.

Gempa hebat tak mampu ditahan gedung. Bangunan bercat kuning dengan jendela hijau dan berlantai dua itu rubuh dan hanya menyisakan lantai pertama.

Rumah Tua Donggala

Tempat berikutnya yang saya kunjungi bersama Jamrin adalah Rumah Tua Donggala, satu-satunya rumah panggung yang masih tersisa di Kabupaten Donggala.

Rumah berdinding kayu berwana hijau itu sudah terlihat tidak kokoh. Beberapa kakinya rubuh diterjang ganasnya air.

"Ini tadinya rumah orang Arab, namanya Haruna, pada abad ke-19. Pemilik rumah ini saudagar kaya pada zamannya. Ia berdagang dengan berlayar ke Singapura atau Malaysia," kata Jamrin.

Belanda sudah menguasai Donggala ketika rumah ini didirikan. Selama itu rumah itu kerap digunakan sebagai rumah singgah tokoh-tokoh besar dan ulama.

Rumah Tua Donggala ini sudah tak berpenghuni sejak satu tahun lalu karena cucu Haruna, Husein Al-Jufri, meninggal, sementara keturunan yang lain memilih tinggal di Palu.

Bioskop Muara

Donggala merupakan kota pertama di Sulawesi Tengah yang memiliki bioskop, namanya Apollo Theater, didirikan Belanda pada 1936. Ada pula Gembira Theater—yang belakangan dikenal dengan nama Bioskop Megaria—dan juga Gelora Bioskop. Ketiganya kini sudah tidak ada sisanya lagi. Bukan karena gempa dan tsunami, tapi memang karena kalah oleh zaman.

Penerusnya adalah Bioskop Muara, dibangun tahun 1974 oleh Ong Ming Tja. Statusnya adalah bioskop kedua setelah proklamasi 1945. Dinamakan Muara karena, menurut Jamrin, di belakang bioskop ini dulunya adalah muara sungai.

Bioskop tertua kedua di Donggala ini--jika dihitung setelah proklamasi in--dikenal sebagai bioskop yang sering memutarkan film-film India.

Sayang usia bioskop ini cuma bertahan hingga 1996. Tapi bangunannya, yang serupa gudang dengan dinding beton dan atap seng, tak dirubuhkan. Dibiarkan begitu saja hingga tsunami menerjang.

Kini bentuknya tak lagi utuh, apalagi faktanya bangunan ini persis di pinggir pantai.

***

Tugas Jamrin dan kawan-kawannya di Donggala Heritage kini bakal lebih berat. Dari tiga bangunan yang disebut tadi, baru Rumah Tua Donggala yang sudah jadi cagar budaya. Sisanya, yang masih diupayakan, malah hancur.

"Donggala kehilangan identitas cagar budaya," kata Jamrin.

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Rio Apinino
DarkLight