Mencegah Penyakit Mematikan yang Mengancam Perempuan

Seorang guru saat akan menjalani pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)/Pap Smear gratis di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kamis (24/11). Pemeriksaan IVA/Pap Smear dan SADANIS bagi guru wanita kerja sama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) dalam rangka Hari Guru Nasional (HGN) itu bertujuan mencegah peningkatan angka penderita kanker leher rahim (seviks) dan kanker payudara sedini mungkin. ANTARA FOTO/Rahmad/foc/16.
Oleh: Aditya Widya Putri - 9 Juli 2017
Dibaca Normal 3 menit
Perempuan punya risiko terkena beragam penyakit kanker. Namun, beberapa tindakan kesehatan yang wajib dilakukan para perempuan sering diabaikan.
tirto.id - “Kita semua tahu Jupe meninggal akibat kanker serviks, dan sekarang saya tanya, Anda kapan?”

Ini sebuah pertanyaan menohok Deddy Corbuzier dalam unggahan video di YouTube pribadinya Sabtu (10/6/2017). Dalam video itu tergambar kekecewaan terhadap minimnya informasi kaum hawa mengenai upaya pencegahan kanker serviks. Selama ini pencegahan terhadap kanker serviks masih bersifat konservatif soal keyakinan ihwal tak gonta ganti pasangan.

Padahal, kanker yang menjadi penyebab kematian perempuan terbesar kedua di Indonesia ini sudah memiliki vaksin penangkal. Beragam upaya preventif untuk mengecek keberadaan kanker ini sejak dini juga sudah ada. Sayangnya, banyak perempuan masih abai terhadap informasi ini.

Berdasarkan data WHO penyakit kanker merupakan penyebab kematian terbanyak di dunia. Dimana kanker sebagai penyebab kematian nomor dua di dunia sebesar 13 persen setelah penyakit kardiovaskuler. Setiap tahun ada 12 juta orang di dunia menderita kanker dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia.

Diperkirakan pada 2030 kejadian tersebut dapat mencapai hingga 26 juta orang dan 17 juta di antaranya bakal meninggal akibat kanker. Khusus negara miskin dan berkembang kejadiannya akan lebih cepat. Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi tumor/kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1.000 penduduk.

Kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah kanker payudara dan kanker leher rahim. Berdasarkan estimasi Globocan, International Agency for Research on Cancer (IARC) 2012, insiden kanker di Indonesia 134 per 100.000 penduduk dengan insiden tertinggi pada perempuan adalah kanker payudara sebesar 40 per 100.000.

Setelah itu diikuti dengan kanker leher rahim 17 per 100.000 dan kanker kolorektal 10 per100.000 perempuan. Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit 2010, kasus rawat inap kanker payudara 12.014 kasus atau 28,7 persen, kanker leher rahim 5.349 kasus atau 12,8 persen. Setiap tahun, sekitar 12.000 wanita didiagnosis menderita kanker serviks dan 4.000 wanita meninggal karena penyakit ini di AS.

Kanker serviks dapat dicegah seperti penyakit-penyakit lain dengan memberi vaksin. Vaksin berfungsi untuk mencegah virus jenis human papillomavirus (HPV). Virus ini menyebabkan sebagian besar kanker serviks serta beberapa jenis kanker anus, vulva yang berada di area sekitar pembukaan vagina, vagina, dan orofaring yakni di belakang tenggorokan termasuk dasar lidah dan amandel.

HPV genital merupakan virus yang umum yang berpindah dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung kulit ke kulit selama aktivitas seksual. Kebanyakan orang yang aktif secara seksual pasti akan terkena HPV pada suatu waktu dalam hidupnya. Infeksi HPV paling sering terjadi pada orang-orang di akhir usia belasan dan awal 20-an.

Hingga saat ini sudah terdeteksi sekitar 40 jenis HPV yang bisa menginfeksi daerah genita. Sebagian besarnya memang tidak menyebabkan gejala dan akan hilang dengan sendirinya. Beberapa jenis lain dapat menyebabkan kanker serviks pada wanita dan kanker lainnya.

Vaksinasi HPV sejatinya disarankan diberikan pada anak perempuan berusia 11 dan 12 tahun. Vaksin ini juga dianjurkan untuk perempuan dalam rentang usia 13 sampai 26 tahun yang belum pernah mendapat vaksinasi. Idealnya vaksin memang diberikan sebelum para wanita aktif secara seksual.

Walau sudah divaksinasi, penting untuk wanita terus diskrining untuk kanker serviks. Alasannya karena vaksin tersebut tidak melindungi semua jenis kanker serviks. Skrining kanker serviks dilakukan dengan tes pap smear untuk mendeteksi perubahan sel di serviks sebelum berubah menjadi kanker.




Cegah Kanker Payudara



Selain kanker serviks, tindakan keselamatan lain yang harus dilakukan para perempuan dan tak kalah penting adalah melakukan gerakan Periksa payudara sendiri (SADARI) untuk mendeteksi kanker payudara. Yakni dengan meraba payudara secara berkala untuk mendeteksi benjolan di sekitar payudara.

Hingga saat ini, tindakan penanggulangan kanker payudara baru sebatas melakukan SADARI dan tes Mammogram. Tes ini merupakan tes kesehatan untuk mendeteksi kanker payudara dengan menggunakan sinar X. Dengan alat ini dokter dapat melakukan diagnosis setidaknya 1-3 tahun lebih awal.

Screening akan mendiagnosis kanker payudara bahkan sebelum tubuh memiliki gejala, benjolan, atau keluhan apa pun. Sedangkan, untuk vaksin kanker payudara hingga kini masih dalam tahap uji klinis.

Vaksinasi serviks dan payudara barangkali sudah sering didengar, tapi beberapa vaksinasi lainnya buat kaum hawa tak kalah penting antara lain vaksinasi MMR yakni Measles (campak), Mumps (gondongan) dan Rubella (campak Jerman). Virus Measles ini membawa penyakit ruam, batuk, pilek, iritasi mata, dan demam. Komplikasinya mulai dari infeksi telinga, pneumonia, kejang, kerusakan otak sampai kematian.

Sedangkan virus Mumps, menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan kelenjar parotis. Komplikasinya mulai dari ketulian, meningitis (radang selaput otak), pembengkakan testis dan ovarium hingga kematian. Virus Rubella, dapat menyebabkan ruam, demam ringan dan radang sendi. Jika seorang perempuan mengidap rubella saat sedang hamil, maka dia bisa mengalami keguguran atau kelainan bawaan pada anaknya.

Sayangnya, beberapa tindakan pencegahan memang baru bisa dilakukan pada perempuan yang telah aktif berhubungan seksual. Persepsi aktif berhubungan seksual di beberapa daerah di Indonesia masih diartikan “telah melakukan pernikahan”. Padahal, kedua aktivitas tersebut sejatinya tidak saling melekat.

Kate Walton, Aktivis Jakarta Feminist Discussion (JFD) menceritakan diskriminasi yang dirasakan salah satu anggota kelompoknya saat melakukan tes Pap Smear di Yogyakarta. Untuk tindakan Pap Smear di Indonesia, BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan beberapa rumah sakit dan laboratorium untuk melakukan tes secara gratis.

Diskriminasi terjadi manakala temannya ingin melakukan tes Pap Smear di salah satu klinik yang bekerja sama dengan BPJS. Ia menyatakan telah aktif berhubungan seksual tapi belum mengikatkan diri pada pernikahan. Saat itu, permohonan tesnya ditolak, karena menurut staf klinik, aktif berhubungan seksual sama dengan telah menikah.

“Saat itu dia ngotot bahwa syarat yang tertera adalah aktif berhubungan seksual, bukan telah menikah. Akhirnya harus menghubungi BPJS pusat dulu,” kata Kate kepada Tirto.

Akhirnya, permohonan uji Pap Smear pun dikabulkan dengan syarat dengan embel-embel seolah mempermalukan pasien. Pasien harus menandatangani sebuah surat yang di dalamnya menyatakan pasien telah aktif berhubungan seksual tapi belum melakukan pernikahan.

“Dokternya benar bertanya, 'sudah nikah atau belum' seharusnya tidak begitu. Ini salah satu bentuk diskriminasi yang membuat banyak wanita ogah melakukan deteksi dini kanker,” kata Kate.

Ini jadi bukti untuk mencegah penyakit berbahaya sejak dini bagi kaum perempuan tak hanya soal kesadaran tindakan kesehatan masing-masing pribadi. Namun, pihak petugas kesehatan pun juga perlu sadar dalam melayani dan memilah prosedur kesehatan secara tepat dan bijak.

Baca juga artikel terkait KANKER atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Suhendra
DarkLight