Menanti 'Silicon Valley' Indonesia dari Pusat Riset Apple

Oleh: Damianus Andreas - 25 Agustus 2017
Dibaca Normal 4 menit
Sinar Mas Land menjual nama besar Apple dalam pembangunan pusat inovasi aplikasi teknologinya di Digital Hub, BSD City.
tirto.id - Siang itu, Kawasan BSD Green Office Park terlihat lengang meskipun waktu hampir menunjukkan pukul 11.00 WIB. Namun, penjagaan di kawasan ini terbilang ketat, petugas keamanan terlihat siaga.

Kawasan bisnis seluas 25,86 hektare ini berdiri sebanyak 9 gedung perkantoran dan satu area khusus yang berisi sejumlah restoran. Kawasan yang dibangun oleh pengembang Sinar Mas Land ini diklaim mengadaptasi konsep "bangunan hijau" yang ramah lingkungan.

Rencananya perusahaan teknologi Apple akan membuka kantor riset dan inovasi di BSD Green Office Park, BSD City, Tangerang Selatan, Banten. Kehadiran Apple di wilayah ini, akan menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki kantor riset dan inovasi Apple. Sinar Mas Land menyebutnya sebagai "Silicon Valley" ala Indonesia. Apple telah membangun kantor-kantor riset dan inovasi mereka di sejumlah negara lain, seperti India, Cina, Jepang, dan Israel.

Tirto mengecek langsung ke lokasi, di lantai dasar Green Office Park 9. Terlihat memang ada ruangan kosong yang diyakini sebagai kantor sementara dari kantor riset dan inovasi sementara untuk Apple. Tenant Services Coordinator Sinar Mas Land Regina Winanda tak banyak bercerita soal rencana dibukanya kantor riset dan inovasi Apple di Green Office Park 9. Regina memang tidak menampik bahwa Apple akan membuka kantornya di kawasan ini.

“Cuma buat tanggal berapanya, commencement date-nya, saya nggak tahu. Karena saya belum dapat infonya dari bagian marketing,” kata Regina kepada Tirto, Selasa (22/8)

Regina juga tidak secara pasti menyebutkan bahwa Apple akan menempati ruangan yang terletak di bagian belakang lantai dasar gedung megah itu. “Belum fit on. Karena kan sebelum ditempati, harusnya direnovasi, didekorasi juga kan,” ujar Regina.

“Titik pastinya di lantai berapa belum tahu. Tapi kemungkinan besar di Ground Floor. Sementara untuk lokasi, kayaknya memang di sini. Karena nggak mungkin juga sudah sampai stage seperti itu (bahwa kantor Apple di BSD Green Office Park), tapi nggak jadi,” jelas Regina.

Tirto mencoba mengkonfirmasi ke pihak Apple, melalui Goverment Affairs pihak Apple di Indonesia Mirza Natadisastra, tapi sampai berita ini diturunkan belum ada tanggapan.

Pembangunan pusat riset dan inovasi Apple di Indonesia memang cukup krusial bagi Apple. Hal ini dikaitkan dengan upaya pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produk mereka di Indonesia. Kementerian Perindustrian telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian (Permenprin) Nomor 65 tahun 2016 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Produk Telepon Seluler (Ponsel), Komputer Genggam (handheld) dan Komputer Tablet.

Permenperin yang berlaku sejak diundangkan pada 27 Juli 2016 ini mengatur tiga skema. Skema pertama, bahwa aspek manufaktur dikenakan bobot sebesar 70 persen, pengembangan 20 persen, dan aplikasi 10 persen. Pembobotan pada aspek manufaktur dikenakan untuk material, tenaga kerja, dan mesin produksi.

Skema kedua, aspek manufaktur dikenakan bobot 10 persen, pengembangan 20 persen, dan aplikasi 70 persen. Skema ketiga, yang dijelaskan pada Pasal 25, yang mengatur penghitungan TKDN berbasis investasi. Ketentuannya, yakni berlaku untuk investasi baru, dilaksanakan berdasarkan proposal investasi yang diajukan pemohon dan nilai TKDN dihitung berdasarkan total nilai investasi. Skema ini yang dipilih oleh Apple dengan pembangunan pusat riset dan inovasi.

Investasi senilai Rp250-400 miliar mendapatkan nilai TKDN 20 persen, investasi senilai Rp400-550 miliar setara dengan nilai TKDN 25 persen, investasi senilai Rp550-700 miliar setara dengan TKDN 30 persen, investasi senilai Rp700 miliar – 1 triliun mendapatkan nilai TKDN 35 persen, dan investasi lebih dari Rp1 triliun mendapatkan nilai TKDN 40 persen.


Baca juga: Memaksa Ponsel Impor Bernuansa Merah Putih


Infografik Pusat riset dan inovasi apple

Memenuhi Aturan TKDN


Pekan lalu, Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) I Gusti Putu Suryawirawan mengunjungi Universitas Bina Nusantara (Binus) kampus Alam Sutera untuk melihat persiapan dibukanya kantor riset dan inovasi Apple. Hal ini terkait kesiapan sumber daya manusia untuk pusat riset tersebut.

Namun, Putu menegaskan bahwa Binus tidak menyuplai mahasiswa untuk kantor riset dan inovasi Apple nantinya. “Yang akan dibawa ke sana (kantor riset dan inovasi Apple) hanya instrukturnya, bukan mahasiswanya. Sementara yang dikerjakan sekarang, instruktur melatih para mahasiswa sebagai sarana pembelajaran,” jelas Putu kepada Tirto (23/8)

Putu mengatakan kantor Apple di Indonesia nantinya akan fokus pada aspek inovasi yang diharapkan bisa membantu perkembangan perusahaan-perusahaan start-up lokal lainnya.

“Kita harus ada upaya semacam ini agar start-up kita berkembang dengan memiliki metode yang baik dan benar. Semoga dengan masuknya Apple, bisa menjadi pemicu masuknya kantor-kantor sejenis lainnya,” kata Putu.

Ia membenarkan bahwa dari pelatihan oleh para calon periset terhadap mahasiswa Binus, telah dihasilkan produk piranti lunak berupa lima aplikasi. Adapun kelima aplikasi tersebut ialah aplikasi untuk menghubungi layanan publik yang dinamakan SAFE (Simplified Access For Emergency), aplikasi untuk menemukan barang hilang bernama Lost and Found, aplikasi untuk menentukan arah yang dinamakan Travel One, aplikasi saat di jalan tol yang bernama Toll Travel, dan aplikasi media sosial untuk berbagai video yang dinamai Around Us.

Baca juga: Murahnya Biaya Produksi iPhone

Rencana dibukanya kantor riset dan inovasi Apple di Indonesia telah jadi bahan pembicaraan sejak akhir Maret lalu. Saat itu Staf Ahli Menteri Perindustrian Sanny Iskandar buka suara soal ini. Sanny mengatakan Apple memiliki kewenangan sepenuhnya dalam penentuan lokasi serta penunjukan kerja sama dengan lembaga/universitas tertentu.

“Tentu mereka sudah melakukan survei dan perbandingan sendiri,” kata Sanny kepada Tirto Rabu (23/8).

Sanny menyebutkan pembangunan kantor riset dan inovasi Apple tak lain untuk memenuhi ketentuan TKDN sebesar 30 persen yang harus dipenuhi para produsen ponsel yang memasarkan produk di Indonesia. “Ada beberapa skema untuk TKDN, salah satunya dengan Apple membangun kantor riset dan inovasi untuk mengembangkan konten lokal,” ucap Sanny.

Ia menambahkan rencana membuka kantor riset dan inovasi secara inisiatif dilakukan Apple. Izin dari pemerintah pun telah dikantongi Apple sejak akhir Juli 2017. “Untuk perizinan ada tahapannya. Setelah sebelumnya ada persetujuan, lalu sertifikat TKDN, dan untuk yang izin di akhir Juli itu merupakan perpanjangan yang sifatnya permanen,” kata Sanny.

Sampai saat ini, Apple memang belum memiliki kantor resmi di Indonesia. Oleh karena itu, Sanny mengatakan keberadaan kantor riset dan inovasi nantinya bisa juga berfungsi sebagai kantor representatif mereka.

Kantor Riset Apple di Dunia

Di setiap negara, Apple memang memiliki fokus masing-masing untuk kantor riset dan inovasi. Di Cina misalnya, Apple telah memiliki dua kantor riset dan inovasi yang berlokasi di Beijing dan Shenzhen. Rencananya mereka akan menambah dua kantor lagi di Shanghai dan Suzhou. Perkiraan nilai investasi mencapai miliaran dolar AS. Kantor riset Apple di Shenzhen lebih difokuskan kepada telepon pintar, pengembangan drone, serta realitas maya.

Sedangkan kantor riset di Shanghai, bakal digunakan sebagai tempat untuk mengembangkan kecerdasan buatan dan mobil kemudi otomatis—yang disebut-sebut akan jadi terobosan baru dari Apple. Kantor riset di Israel jadi tempat pengembangan dari perangkat keras yang akan digunakan pada iPhone 8. Sedangkan untuk kantor riset di Hyderabad, India berfokus pada pengembangan aplikasi peta untuk produk-produk Apple.

Untuk membangun kantor riset dan inovasi di Indonesia, Apple kabarnya punya komitmen investasi senilai 44 juta dolar Amerika. Kawasan BSD City bakal menjadi calon lokasi kantor Apple. Dalam keterangan resmi Sinar Mas Land, mereka mengklaim Kawasan BSD Green Office Park disiapkan sebagai 'Silicon Valley' Indonesia. Sinar Mas mengklaim kawasan tersebut mampu menunjang kegiatan operasional dari perusahaan yang berbasis teknologi dan digital. Proses ground breaking sudah dilakukan Sinar Mas Land pertengahan Mei lalu di lokasi BSD Green Office Park--untuk sebuah kawasan dengan nama Digital Hub.

“Kalau untuk yang di BSD City, perkiraan beroperasinya tahun ini, sekitar Oktober lah mungkin,” kata Sanny.

Kantor riset dan inovasi Apple, regulasi pemerintah soal TKDN, dan pasar produk Apple di Indonesia yang menjanjikan menjadi rangkaian yang tak terpisahkan. Apalagi pada Maret 2017, Apple sudah kembali menjual produk teranyar iPhone 7 di Indonesia. Saat ini hanya perlu menanti dan menagih janji realisasi kantor pusat riset dan inovasi Apple.

Baca juga: iPhone 7 dan 7 Plus Resmi Dijual di Indonesia Akhir Maret 2017

Baca juga artikel terkait APPLE atau tulisan menarik lainnya Damianus Andreas
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Suhendra
DarkLight