Memangnya Gampang Membuat Kota Musik?

Reporter: Nuran Wibisono - 3 Des 2016 09:49 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Hanya dua kota di Indonesia yang diakui Unesco sebagai "kota kreatif": Bandung dan Pekalongan. Tapi belum ada yang layak disebut sebagai "kota musik". Mengapa?
tirto.id - "Kapan lagi kita bisa bajak kantor Wali Kota Bandung, kan?"

Robin Malau tersenyum lebar pagi itu. Kerja keras, sekaligus kerja cepat, untuk membuat konferensi musik terwujud di kampung halamannya, Bandung. Yang lebih spesial, konferensi bertajuk Indie Music Conference: New Music Ecosystem ini diadakan di Kantor Wali Kota Bandung.

Ada alasan kuat kenapa konferensi ini diadakan di Bandung. Kota ini memang sudah lama dikenal sebagai kota kreatif. Banyak seniman hebat berasal dari sini. Musisi. Desainer. Aktor. Sutradara. Seniman mural. Di bidang musik, kota ini dikenal melahirkan The Rollies, Harry Roesli, hingga Peter Pan --yang kemudian dikenal dengan nama Noah. Di bawah tanah, Pas Band yang dianggap sebagai pelopor gerakan musik "indie" berasal dari sini. Kemudian tinggal sebut saja nama lain: Time Bomb Blues, Puppen (band Robin bersama Arian13 yang sekarang menjadi vokalis Seringai), Pure Saturday, The SIGIT, Mocca, Homicide, hingga Burgerkill.

Di bidang desain, Bandung malah masuk dalam daftar Kota Kreatif Bidang Desain dari UNESCO. Saat ini hanya ada dua kota yang masuk daftar kota kreatif UNESCO. Yang pertama adalah Pekalongan, yang masuk di bidang Cratfs and Folk Arts. Kemudian disusul oleh Bandung.

Tapi, meski musik sudah menjadi denyut nadi Bandung, ternyata bidang ini belum menjadi kekuatan ekonomi. Menurut Gustaff Iskandar, peneliti dari Common Room, tiga besar kekuatan ekonomi kreatif Bandung adalah: kuliner, kerajinan tangan, serta fesyen. Musik masih belum bisa menjadi sumber penghidupan.

"Di Bandung, musik itu dicintai betul. Tapi jarang ada yang kaya dari musik," kata Fiki Satari.

Fiki mewakili Bandung Creative City Forum dan Karang Taruna Bandung. Gustaff mewakili Common Room, komunitas kreatif yang bergerak di bidang kajian seni multidisiplin. Mereka adalah dua dari banyak pembicara di acara konferensi ini. Nama lainnya adalah Ari Juliano yang mewakili Badan Ekonomi Kreatif, Theresia Ezeria dari Sisterhood Gigs, Prof. Bambang Sugiharto dari Universitas Parahyangan, hingga Otto Sidharta, salah satu pendiri Asosiasi Komponis Indonesia.

Selain mereka, ada nama-nama pembicara dari luar negeri. Di antaranya Piyangpong Muenprasertdee dari situs musik Fungjai (Thailand), Yoonyoung Kong yang merupakan salah satu penyelenggara Zandari Fiesta Music Fest. (Korea Selatan), Fikri Fadzil dari situs musik The Wknd (Malaysia), Adam Pushkin dari British Council, serta Mike Deane dari Liverpool Music Week.

Konferensi musik dan ekonomi kreatif ini baru pertama kali diadakan di Indonesia. Tujuannya jelas: memetakan seperti apa potensi musik dan ekonomi kreatif, mencari permasalahannya, serta mengusulkan solusi. Selama ini musik memang dikenal sebagai sesuatu yang potensial, sayang belum ada pemanfaatan yang maksimal.

Di konferensi ini, mulai tampak terang apa saja kekurangan Bandung, bahkan Indonesia, dalam memaksimalkan potensi musik. Yang paling mendasar dan amat penting adalah: pendidikan.

"Selama ini, pendidikan musik di Indonesia baru sebatas agar seseorang itu bisa bermain," kata Bambang Sugiharto.

Dia memberi contoh ketika masih duduk di bangku TK, atau SD, anak akan diajarkan cara memainkan alat musik. Entah itu seruling, gitar, piano, atau drum. Tapi menginjak SMP, juga SMA, tak ada pendidikan musik lebih lanjut. Pendidikan yang tidak sekadar bisa memainkan alat musik. "Tapi belajar tentang kesejatian musik," kata Bambang yang merupakan dosen filsafat ini.

Pendapat Bambang ini juga diamini oleh Otto Sidharta. Pengajar musik di Universitas Pelita Harapan ini mengatakan bahwa pendidikan musik di Indonesia ini berangkat dari hal-hal yang bersifat teknis. Namun kurang dalam pendidikan musikalitas, yang disebut Otto sebagai "...persepsi musikal."

"Yang sangat saya harapkan, agar pendidikan musik di Indonesia tidak terlalu terpukau pada hal teknis," kata Otto.

Sedangkan Theresia Ezeria, yang pernah menjadi anggota DPR periode 2009-2014 ini juga menganggap pendidikan adalah hal penting yang harus dibangun lebih dulu. Perempuan yang juga dikenal sebagai Tere ini menganggap pendidikan formal adalah kunci. Dia mengandaikan konsep sekolah formal yang khusus mengajarkan tentang musik. Sekolah ini kelak tidak hanya menunggu murid atau pendaftar. Tapi juga menjemput bola, mencari bakat di daerah.

Hak Cipta dan Membangun Jaringan

Penyakit industri kreatif di Indonesia, terutama musik, adalah pembajakan. Karena itu Badan Ekonomi Kreatif, yang mewakili negara, menganggap urusan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) adalah hal terpenting yang harus dibereskan jika akan memasuki bahasan tentang ekonomi kreatif.

"Dengan perlindungan pada HAKI, proses ekonomi kreatif akan dilindungi," kata Ari Juliano Gemma, Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi.

Saat ini Bekraf fokus ke HAKI di bidang film, aplikasi, dan musik. Tiga sektor ini punya potensi yang besar, tapi belum maksimal perihal ekonomi. "Ini artinya ada banyak hal yang salah. Makanya akan kami benerin."

Perihal HAK ini, Bekraf juga meluncurkan aplikasi bernama BIIMA pada bulan Februari silam. Aplikasi ini memberikan informasi tentang HAKI melalui gawai. Dari cara mengajukan, hingga bagaimana menerapkan HAKI dalam karya.

Saat ini Bekraf sedang memproyeksikan Ambon sebagai kota musik di Indonesia. Ini membuktikan, kata Ari, kalau pemerintah sekarang tidak Jawasentris. Selain itu, kita tahu bahwa Ambon juga hidup karena musik.

"Di sana semua orang kayaknya bisa main musik dan nyanyi," kata Robin, yang menjadi konsultan Bekraf untuk proyeksi kota musik ini.

Bekraf sekarang sedang bekerja sama dengan Irama Nusantara untuk mendigitalkan rilisan-rilisan musik Indonesia dari era 50-an hingga sekarang. Mereka juga bekerja sama dengan Museum Musik di Malang untuk tujuan yang sama. Nantinya, digitalisasi musik ini akan dikirim ke Ambon, berada dalam sebuah pusat musik yang nantinya akan dibangun. Kerja panjang dan berliku, namun amat penting bagi masa depan musik Indonesia.

bandung Kota musik


Jika para pembicara dalam negeri banyak berbicara tentang membangun ekosistem musik di Indonesia, pembicara dari luar banyak berkisah tentang bagaimana membangun jaringan musik hingga luar negeri.

Internet memang banyak membantu persebaran musik secara global. Sekaligus membuktikan bahwa bahasa bukanlah kendala dalam penyebaran musik. Buktinya, band-band dengan lirik bahasa Ibu mereka, bisa populer di luar negeri. Sebut saja L'arc En Ciel, Sigur Ros, Bjork, hingga Yellow Fang, band asal Thailand. Lagu mereka yang berjudul "I Don't Know" sudah ditonton 1,6 juta kali di Youtube.

"Ini membuktikan bahwa bahasa sudah bukan lagi pembatas," kata Piyangpong.

Hal yang menarik juga disampaikan oleh Fikri. Pendiri media The Wknd ini mendorong para band-band lokal Malaysia untuk lebih giat menulis lirik dalam Bahasa Melayu. "Jaringlah pasar lokal terlebih dulu," kata pria berkacamata ini. Sebab, pasar terbesar sebuah band memang kebanyakan ada di dalam negeri. Kandang mereka sendiri.

"Tak perlu repot meniru band-band barat. Di sana sudah ada banyak sekali band barat," kata Yoonyoung, pembicara dari Korea Selatan.

Membangun ekosistem musik memang tak mudah. Bahkan Britania Raya yang dikenal sebagai ibu kota musik dunia --ya, Amerika Serikat bahkan tampak seperti anak ingusan jika dibandingkan dengan mereka-- butuh waktu puluhan tahun untuk membangun ekosistem musik mereka.

"Setidaknya ekosistem musik di Britania Raya itu butuh waktu 60 tahun untuk berkembang. Atau bahkan lebih," kata Adam Pushkin yang mewakili British Council.

Yang perlu disadari lagi, membangun ekosistem musik ini tidak sekadar membangun industri musik per se. Tapi juga berkaitan dengan sektor lain. Di Britania Raya, ekosistem musik mereka pasti berhubungan dengan sektor pendidikan yang memberi pondasi awal: belajar musik. Kemudian terkait pula dengan kebijakan pemerintah. Seperti soal HAKI, hingga desain pembangunan perumahan. Begitu pula kaitannya dengan urban planning, yang tentu ada hubungannya dengan venue atau tempat untuk bermain musik.

Bahkan kini Britania Raya, terutama di London dan Liverpool, mengalami banyak masalah baru. Saat ini masalah terbesar mereka adalah semakin sedikitnya tempat untuk bermain. Ditambah dengan biaya hidup yang mahal. Membuat kota-kota besar di sana hanya ditempati para borjuis.

Bandung punya masalah yang tak kalah pelik. Selain soal pendidikan, infrastruktur, juga soal musik yang bisa menghasilkan, ada pula masalah regenerasi. Robin dan para sekondannya punya usulan yang unik untuk mengatasi masalah regenerasi ini. Ia diberi nama Musikarta, gabungan dari musik dan karang taruna. Menurut Robin, karang taruna bisa menjadi tulang punggung penting bagi sektor musik di Bandung. Dari hasil hitungannya, ada sekitar 67 persen atau sekitar 1,7 juta orang Bandung yang bisa menjadi anggota karang taruna.

Potensinya juga besar karena karang taruna ini punya banyak sekali panggung dan acara. Menurut Fiki Satari, setiap tahun ada setidaknya 2.000 acara karang taruna di Bandung. Ini artinya ada tempat untuk bermain. Yang perlu dimaksimalkan adalah melakukan pendataan, dan juga mendorong band-band karang taruna ini untuk tampil.

"Kekuatan karang taruna itu bisa sampai mengetuk pintu rumah dan mendata siapa saja yang bisa bermain alat musik," kata Robin.

Go Ambon!

Kota Kreatif adalah program UNESCO yang dimulai sejak 2004. Program ini berinisiatif untuk mengelompokkan kota-kota dunia dalam bidang industri kreatif. Ada tujuh bidang di kota kreatif ini: kerajinan tangan dan seni rakyat, desain, film, gastronomi, literatur, musik, dan media seni. Satu kota hanya bisa menjadi kota dengan satu spesialisasi. Ini artinya Bandung yang sudah dinobatkan untuk jadi kota desain, tak bisa menjadi kota musik.

Bagaimana cara untuk menjadi kota kreatif ini? Pertama, pihak pengusul harus mengirimkan aplikasi yang bisa menunjukkan kemauan, komitmen, juga kapasitas yang bisa jadi kontribusi bagi pengembangan industri kreatif di kota tersebut. Selain itu harus ada surat resmi dari pemimpin kota, bisa Walikota atau Bupati. Harus ada juga surat rekomendasi dari National Commision for UNESCO.

Tak hanya itu, harus ada dua urat dukungan resmi dari asosiasi kreatif tingkat nasional, di bidang yang akan diajukan. Jadi misalkan sebuah kota ingin mengajukan sebagai kota musik, harus menyertakan dua surat dukungan resmi dari asosiasi nasional yang berkaitan dengan musik. Syarat lain adalah mengirimkan tiga foto yang memperlihatkan suasana kreatif untuk bidang yang akan diajukan.

Bagaimana sebuah kota layak dijuluki kota musik? Seperti apa wujud ideal kota musik?

Setiap kota musik punya keunggulan masing-masing. Tapi benang merahnya adalah: musik menjadi seperti detak jantung bagi kota tersebut. Itu tercermin dari, misalkan infrastruktur musik: venue, music hall, radio musik, studio rekaman, label, hingga museum musik. Selain itu harus ada kerja sama yang baik antara pihak industri musik dengan pemerintah, dan pihak swasta lain. Pertimbangan lain, ada banyak kegiatan bernafas musik. Mulai dari konser, gigs, hingga festival tahunan.

Saat ini ada 20 kota musik UNESCO, sekitar 12 persen dari total Kota Kreatif. Di Asia, hanya ada Hamamatsu (Jepang) dan Tongyeong (Korea Selatan) yang menjadi kota musik. Pemerintah Indonesia sekarang memproyeksikan Ambon sebagai kota musik. Tak ada yang bilang ini pekerjaan mudah. Meski tak ada yang menyangkal kalau jantung Ambon adalah musik, masih ada banyak yang harus dibangun di sana. Mulai dari infrastruktur, hingga pendidikan.

Meski ini adalah pekerjaan yang butuh waktu lama dan usaha yang teramat keras dan konsisten, usaha ini memang harus dimulai dari sekarang. Tapi, hei, bahkan Inggris saja butuh 60 tahun supaya ekosistem musik mereka berkembang.

Memangnya gampang membuat kota musik?

Baca juga artikel terkait MUSIK atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Zen RS

DarkLight