Mama-Mama Bambu Flores Melawan Kerusakan Lingkungan

Reporter: Haris Prabowo - Rabu, 24 Agustus 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Di Flores, perempuan berada di garda depan menjaga lingkungan. Caranya: dengan menanam bambu.
tirto.id - Sejak April tahun lalu, Maria Yasinta Sadho punya kegiatan baru: mencari bibit-bibit bambu di sekitar Desa Mengeruda, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia berjalan kaki keliling kebun dan hutan hingga radius tiga kilometer dari rumahnya. Berangkat pagi, pulang sore.

Ia tak selalu sendiri. Kadang anak-anaknya turut serta, tak jarang juga suaminya ikut membantu. Ia pernah berhasil mengumpulkan lebih dari 2.000 bibit bambu betung (Dendrocalamus asper). Pada bulan-bulan awal, hasilnya tak sesuai harapan. Tanaman bambu tersebut mati karena salah cara menanam.

“Mati semua. Kami kecewa,” kata Mama Ince—sapaan akrabnya—saat saya temui akhir Juni lalu.

Namun, pantang menyerah adalah nama tengahnya. Sekitar tiga bulan setelahnya, perkembangan signifikan mulai diraih. Bahkan, dalam satu hari, Mama Ince bisa mendapat lebih dari 400 bibit. Hingga akhirnya dalam waktu satu tahun, ia berhasil mengumpulkan 8.000 bibit.

Selain Mama Ince, ada 15 mama lagi dari Desa Mengeruda yang melakukan hal serupa. Mereka tergabung dalam Kelompok Tani Bambu Mengeruda, yang diketuai oleh Mama Ince. Mereka punya target fantastis: mengumpulkan 100.000 bibit bambu dalam waktu satu tahun.

Hasil pengumpulan bibit-bibit tersebut rencananya akan digunakan untuk program rehabilitasi di atas lahan-lahan kritis di wilayah Kecamatan Bajawa Utara—sekitar 14 kilometer dari desa mereka. Bibit-bibit tersebut—terutama bibit bambu aur (Bambusa vulgaris)—akan ditanam di kanan dan kiri daerah aliran sungai (DAS), waduk, hingga embung. Untuk memenuhi itu semua, setidaknya dibutuhkan 150.000 bibit bambu.

“Dari Desa Mengeruda, ada sekitar 50.000 bibit yang rencana kami kirimkan. Untuk sementara ini baru sekitar 20.000 yang kami pindahkan,” kata Mama Ince. Setelah program itu rampung, baru mama-mama akan bergerak untuk melakukan hal serupa guna rehabilitasi lahan kritis di Desa Mengeruda.


Mama Bambu
Tiga mama-mama dari Desa Mengeruda, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang mengumpulkan bibit-bibit bambu pada 23 Juni 2022. Bibit bambu tersebut digunakan untuk ditanam di atas lahan kritis dan daerah aliran sungai (DAS) guna memitigasi bencana dan kerusakan lingkungan. tirto.id/Haris Prabowo



16 mama dari Desa Mengeruda tersebut adalah bagian dari program pendampingan Yayasan Bambu Lestari (YBL), organisasi lingkungan yang fokus pada pengembangan vegetasi bambu berbasis di Bali dan NTT.

Tak hanya melakukan pendampingan, YBL juga memberikan insentif kepada mama-mama Desa Mengeruda yang berhasil mengumpulkan bibit bambu. Organisasi itu menghargai per bibitnya senilai 2.500 rupiah. Jika satu mama berhasil mengumpulkam 8.000 bibit, setidaknya dana segar sebesar Rp20 juta bisa digenggam.

Dan setelah satu tahun program pencarian bibit berjalan, 16 mama Desa Mengeruda mulai merasakan manfaatnya. Mereka rata-rata mendapat insentif sebesar 14 hingga 20 juta rupiah. Banyak dari dana itu digunakan untuk kebutuhan keluarga: biaya anak sekolah, merawat lahan pertanian dan sawah, menebus lahan sawah yang sempat digadaikan, hingga melunasi utang-piutang. Untuk sementara, bagi mereka, hidup terasa lebih ringan.

“Ada juga yang buka kios kecil di depan rumah,” kata Mama Ince.

“Semua mama juga bikin rekening masing-masing di Bank NTT. Di sini enggak banyak yang pernah menabung di bank. Bahkan ada yang baru pertama kali ke bank.”

Infografik Indept Merestorasi Lingkungan dengan Bambu
Infografik Indept Merestorasi Lingkungan dengan Bambu. tirto.id/Ecun


Membumikan Bambu di Flores

Indonesia memang surganya tanaman bambu. Dua peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) - kini BRIN, pada 2021, pernah memetakan pesebaran marga bambu di seluruh wilayah Indonesia. Temuan mereka, setidaknya ada 175 jenis dan 24 marga bambu, atau sekitar 12 persen dari 1.429 jenis dan 22 persen dari 116 marga bambu di dunia. Dari 24 marga tersebut, 13 di antaranya merupakan marga asli Indonesia.

Dalam penelitian yang sama, ditemukan pula delapan jenis bambu yang ada di Pulau Flores: Chloothamnus, Dinochloa, Fimbribambusa, Gigantochloa, Schizotachyum, Thyrsostachys, Bambusa vulgaris, dan Dendrocalamus asper. Dua jenis yang terakhir adalah yang ditemukan oleh mama-mama di Desa Mengeruda.

Secara umum, tanaman bambu memang menjanjikan untuk memulihkan dan merawat ekologi yang sudah kadung rusak. Ia punya potensi yang besar untuk penghijauan dan memitigasi perubahan iklim. Bambu bisa menyerap karbondioksida guna mengurangi pemanasan global hingga menyerap air yang efektif memitigasi banjir.

Menurut YBL, satu rumpun bambu bisa menyerap hingga 5.000 liter air yang bisa digunakan untuk cadangan air bagi daerah-daerah yang cenderung ambivalen: mengalami banjir di musim hujan namun kering di musim kemarau. Ia juga bisa tumbuh di lahan miring sehingga bisa membantu memitigasi bencana longsor.

Dua tahun setelah lembaga itu didirikan, sekitar 1995, mereka bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTT untuk menanam satu juta bambu di Pulau Flores. Bagi mereka, penanaman bambu bisa jadi solusi ekonomi dan ekologi bagi masyarakat pedesaan di sana: mengatasi degradasi lahan, perubahan iklim, hingga pengarusutamaan gender karena sebagian besar penggeraknya adalah mama-mama.

Sejak tahun lalu, Pemerintah Provinsi NTT memang sudah mengalokasikan dana hingga Rp8,6 miliar untuk pemberdayaan mama-mama. Mereka akan menyemai hingga total 2,8 juta bibit bambu di tujuh kabupaten: Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Program itu termasuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan Perhutanan Sosial.

Tujuan besarnya: memperbaiki kondisi lingkungan, restorasi lahan kritis, konservasi sumber air, pencegahan bencana, mitigasi dan adaptasi perubahan iklam, memberdayakan masyarakat adat, hingga membangun industri bambu berbasis rakyat. Program tersebut makin masif sejak NTT dihantam siklon tropis Seroja pada April tahun lalu. Gerakan penghijauan menjadi salah satu solusinya.

Meski kerusakan lingkungan, lahan yang kritis, dan hilangnya mata air bisa terjadi karena bencana alam, namun praktik kotor korporasi justru menjadi ancaman utama. Contohnya pengeboran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko di Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa—yang jaraknya hanya 30 kilometer ke selatan dari desa Mama Ince.

YBL sendiri juga ikut membantu program Pemprov NTT. Dari tujuh kabupaten di atas, mereka setidaknya mendampingi mama-mama dari 21 desa di 15 kecamatan. Selama lebih dari setahun terakhir, mereka telah melibatkan 388 mama-mama—termasuk Mama Ince. Sejauh ini, YBL dan para mama-mama tercatat telah menanam sebanyak 2.519.633 bibit bambu.

“Kurang lebih merehabilitasi 80.000 hektare lahan yang telah terdegradasi,” kata Konsultan Komunikasi YBL, I Wayan Juniarta, kepada saya akhir Juni lalu. “Jumlah penerima manfaat langsung sebanyak 786 orang, yang 91 persennya adalah perempuan.”

Tangan-Tangan Tangkas Mama Bambu

Sekitar 25 kilometer ke arah barat laut dari Desa Mengeruda, Mama Paulina masih rutin menyusuri kebun-kebun dan hutan-hutan di Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze—masih di Kabupaten Ngada.

Dengan membawa bekal makanan, minuman, dan menggenggam parang di tangan, ia bisa menghabiskan waktu seharian berkeliling mencari satu batang bambu yang panjang.

Ketika satu ruas bambu yang terbaik didapat, ia langsung membawanya pulang. Sesampainya di rumah, bambu tersebut langsung dipotong, dibersihkan, dijemur hingga melunak, dihaluskan, kemudian dianyam hingga menjadi sebuah kerajinan tangan.

“Untuk bikin empat polybag seperti ini, satu hari cukup. Itu proses menganyamnya,” kata Mama Paulina kepada saya, akhir Juni lalu. “Yang lama itu mencari bambunya.”


Sanggar Subi Nana
Kelompok anyam Sanggar Subi Nana yang berada di Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada 23 Juni 2022. Mereka adalah kelompok mama-mama yang bikin kerajinan tangan seperti tas dan bungkus kopi berbahan bambu. tirto.id/Haris prabowo



Di Desa Nginamanu, Mama Paulina tergabung dalam Sanggar Subi Nana—kelompok anyam berbahan bambu yang hasilkan kerajinan tangan. Dari belasan anggota terdiri dari mama-mama, mereka bisa bikin ragam kebutuhan berbahan bambu: polybag, tas selempang, hingga pembungkus kopi.

Hasil kerajinan tangan tersebut dijual dengan harga yang beragam. Semisal tas selempang ukurang 20 x 15 cm bisa dibanderol dengan harga kisaran 20-25 ribu rupiah. Pembungkus kopi sekitar 15-25 ribu rupiah. Sedangkan satu buah polybag hanya lima ribu rupiah.

Pada 2021, mama-mama dari Sanggar Subi Nana juga pernah menganyam hingga 5.000 polybag. Kemudian, mereka menyemaikan 5.000 bibit bambu ke dalam polybag hasil anyaman tersebut.


Sanggar Subi Nana
Hasil kerajinan tangan dari kelompok anyam Sanggar Subi Nana yang berada di Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada 23 Juni 2022. haris Prabowo



Mama-mama tersebut tak sendirian saat berkeliling kebun dan hutan mencari batang bambu. Kadang dibantu oleh para suami, namun tak jarang suami absen perkara kerjaan lain.

“Kalau bisa dibantu bapak, silakan. Bapak-bapak harus menunjang kami. Dari hasil begini, mereka yang merasakan pertama. Minta uang rokok. Lebih dulu uang rokok daripada uang susu anak,” kata Mama Paulina sembari tertawa bersama mama-mama lainnya.

“Kau harus menunjang saya,” katanya menirukan saat bicaranya ke suaminya. Ia melanjutkan tawanya.

Dari sana, dari desa-desa terpencil di timur Indonesia itu, kita bisa mulai memahami apa kontribusi penting bambu-bambu: merestorasi lahan kritis, memitigasi bencana, hingga membantu perempuan untuk lebih berdaya.

Baca juga artikel terkait KERUSAKAN LINGKUNGAN atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Adi Renaldi

Artikel Lanjutan
DarkLight