Legenda Harta Karun Indonesia

Oleh: Petrik Matanasi - 17 Juni 2016
Dibaca Normal 4 menit
Ribuan kapal dagang memasuki perairan Indonesia. Tak semuanya kembali dengan selamat membawa barang dagangannya. Flor de la Mar adalah satu dari sekian banyak kapal dagang asing yang tenggelam bersama harta-harta berharga. Belakangan, kapal ini menjadi sebuah misteri harta karun di lautan Indonesia.
tirto.id - Nusantara termasuk daerah niaga penting sejak ribuan tahun silam. Kapal adalah alat mobilisasi penting dalam perniagaan di masa lalu. Namun, berlayar dengan kapal bukan hal yang mudah ketika teknologi belum begitu mumpuni. Selain bajak laut, ganasnya laut ketika badai tentu sudah jadi risiko pelayaran niaga sejak berabad-abad silam. Ada banyak kapal bermuatan penuh ke Eropa karam di perairan Indonesia.

Dari sekian banyak kapal Eropa yang karam, Flor de la Mar adalah legenda kapal karam yang paling menggiurkan untuk diburu. Kapal itu diperkirakan kapal itu karam di sekitar perairan Pedir atau Pidie, Aceh. Konon, 60 ton emas ikut tenggelam di dalam perut kapal. Emas sebanyak itu merupakan hasil jarahan dari rombongan kapal pimpinan Afonso de Albuquerque di Malaka yang mereka taklukan.

Selain Flor de la Mar, masih ada kapal-kapal lain yang karam bersama muatannya yang sangat bernilai ekonomis. Kapal-kapal itu ada yang berasal dari Eropa dan juga Tiongkok. Banyak dari kapal-kapal tenggelam adalah kapal Belanda atau VOC. Dari kapal-kapal dari Tiongkok yang karam, pernah ditemukan ribuan keramik buatan Dinasti Ming yang terkenal mahal.

Tak semua kapal yang karam diketahui secara pasti seberapa nilai muatan yang ikut tenggelam. Namun, cerita soal 60 ton emas Flor de la Mar tentu menggugah adrenalin pemburu harta karun.

Bunga Laut yang Karam

Flor de la Mar berarti bunga lautan. Sesuai dengan namanya, kapal Flor de la Mar ini memang menjadi salah satu armada yang terbesar dan terbaik di lautan pada masa jayanya. Kapal yang selesai dibuat di Lisboa, pada 1502 ini, memiliki bobot 400 ton. Pada pelayaran perdana, kapal ini menjelajah dari Lisboa ke India. Bertindak sebagai nakhoda adalah Estevao da Gama, sepupu dari legenda penjelajah Portugis, Vasco da Gama.

Ukurannya yang besar memungkinkan Flor de la Mar memuat banyak rempah-rempah, komoditas yang bikin Portugis kaya dan jaya di masa itu. Sayangnya, ukurannya yang besar membuat Flor de la Mar tak bisa bermanuver, khususnya ketika melewati selat Mozambik yang arusnya cepat.

Dalam pelayaran pulang, salah satu awak, Thome Lopez, melapor ada kebocoran. Kapal terpaksa singgah di Mozambik, Afrika, selama dua bulan. Akhir 1503, kapal ini akhirnya tiba di Portugis lagi. Selain Estevao da Gama, Joao de Nova juga pernah menjadi nahkoda Flor de la Mar. Setelah kematian Joao da Nova, Flor de la Nova ikut serta dalam rombongan kapal yang dipimpin Afonso de Albuquerque dalam penaklukan Goa (India) dan Malaka tahun 1511. Flor de la Mar masuk dalam kapal utama yang dikawal kapal-kapal pengiring yang ukurannya lebih kecil. Padahal, kondisi kapal dianggap agak mengkhawatirkan.

Akhir tahun 1511, Afonso tiba di Malaka. Sebuah pesan dikirim ke Sultan Mahmud, yang isinya meminta pembebasan orang-orang Portugis yang ditawan secepatnya. Rupanya, Sultan mengulur waktu. Afonso marah dan mengerahkan armada perang yang ikut rombongannya menyerang raja Malaka itu. Sultan Mahmud tak berdaya dan kabur melarikan diri. Kerajaaannya jatuh ke tangan armada Afonso. Harta milik Sultan pun tak lepas jadi jarahan.

Tak lama setelah penaklukan, masih di akhir tahun 1511, Flor de la Mar dimuati 60 ton emas. Afonso sang nakhoda tertinggi rombongan memerintahkan angkat jangkar dari Malaka. Flor de la Mar dan kapal-kapal pengiringnya pun meninggalkan Malaka. Naas menimpa mereka di sekitar perairan Pedir, daerah Pidie, Aceh Barat. Badai, ombak dan kilat membuat kapal oleng dan sebagian karam. Namun, nakhoda utama rombongan itu selamat.

“Uang emas, perak, tembaga, dan timah dari Malaka, kebanyakan uang logam timah hilang dalam Flor de la Mar,” tulis Afonso yang berduka dalam laporannya yang berupa surat panjang.

Ketika kapal akan tenggelam, Afonso sempat menyelamatkan anak perempuan bawahannya. Tidak ada harta yang bisa selamat dari karamnya kapal, selain mahkota dan pedang emas dan cincin bermata batu delima, yang konon titipan dari Raja Siam untuk Raja Manuel di Portugis.

Deretan Kapal Karam milik VOC

Sepanjang tahun 11 Januari 1597 hingga 18 Februari 1686, kongsi dagang raksasa yang menguasai Nusantara, VOC telah kehilangan 64 kapal di sekitar perairan Indonesia. Sementara untuk total kapal yang karam sejak 1597 hingga 1800 berkisar 84 unit. Kapal-kapal itu karam karena bertempur, terbakar atau meledak karena kecelakaan, menghantam karang atau hilang tanpa kabar.

Buku Jejak Tinggalan Budaya Maritim Nusantara mencatat kapal-kapal VOC yang hilang antara lain kapal Cina yang hilang karena cuaca buruk pada juli 1608. Begitu juga kapal Waleheren di tahun yang sama. Kedua kapal, terakhir terlihat di Ternate. Di tahun 1620-an, kapal Helbot, Haan dan Grffioen hilang dalam perjalanan antara Ambon dan Jakarta. Selanjutnya ada kapal Rock (hilang pada 15 Februari 1645 di lepas pantai Ambon, Maastricht (terakhir terlihat Malabar pada 4 Agustus 1642 dalam perjalanan ke Jakarta), Zeemeeuw (di timur Jakarta pada 1653), Goede Hoop (dekat Ambon pada 13 April 1654), lalu Baterbloom (Barru pada Maret 1660).

Kisah kapal Robertus Hendrikus tentu akan menggiurkan pemburu harta karun. Kapal ini terbakar pada pagi hari, 10 Juni 1856. Kapal ini hendak berlayar ke Semarang, dengan membawa sekitar 80.000 sterling kepingan uang logam milik pemerintah, 1000 pical timah, 1500 pical kopi, sejumlah batu bara, dan karung goni. Tak ada kabar lagi bagaimana nasib muatannya.

Tahun 1857, kapal Lieutenent Admiral Stellingwerf, sebuah kapal layar Belanda juga hilang di perairan Jawa tengah. Kapal ini hilang ketika sedang berlayar dari Semarang ke Singapura. Kabarnya, kapal membawa mata uang logam dengan nilai ketika itu sekitar $25.000 - $30.000. Nilai itu bisa berjuta kali lipat pada masa sekarang ini.

Kapal Derkina Titia, kapal Belanda di bawah nahkoda Kapten Evink yang berlayar dari Macau ke Jawa. Kapal ini menghilang di Pulau Arends pada tanggal 17 September 1858. Namun, ada awak kapalnya yang berhasil tiba di Surabaya. Kapal Belanda lain, Agatha Maria pada 17 Juni 1861 menghilang di sekitar Cilacap. Kapal hendak berlayar dari Cilacap ke Amsterdam . Usaha pencarian dilakukan, namun tidak diketahui nasibnya.

Selain kapal-kapal Belanda, ada pula kapal dari Inggris, Amerika, Thailand, Perancis yang karam di lautan Indonesia. Kapal-kapal itu juga membawa sejumlah barang berharga sebelum tenggelam ke dasar laut.



Jung Isi Keramik

Tidak hanya kapal-kapal besar milik VOC, ada pula kapal-kapal kayu milik Tiongkok yang tenggelam di laut Indonesia. Meski kapal kayu, muatannya tak kalah berharga dari kapal-kapal megah milik VOC. Orang-orang Tiongkok itu semakin banyak yang datang ke Nusantara setelah VOC bubar. Mereka datang ke Indonesia memakai kapal kayu yang disebut jung.

Tek Sing merupakan salah satu jung berukuran besar, dengan panjang 50 meter, lebar 10 meter dan berat 1.000 ton. Tek Sing, yang bisa diartikan Bintang Sejati, berlayar dari Amoy, Hokkian menuju Jakarta di awal bulan Januari 1822. Selain membawa 2000 orang imigran dari daratan Tiongkok, Tek Sing juga membawa 350 ribu keping keramik.

Setelah berlayar selama sebulan dan melewat dua pertiga perjalanan, kapal Tek Sing dihantam musibah. Ketika melintas Selat Gaspar, antara Bangka dengan Belitung, Tek Sing menabrak karang. Kapal ini tenggelam hingga kedalaman 100 kaki pada 6 Februari 1822. Hanya 180 orang saja yang selamat dalam kecelakaan ini. Mereka yang selamat ini ditemukan kapal Inggris yang sedang melintas keesokan harinya.

Setelah 177 tahun kemudian, sekelompok penyelam pimpinan Michael Hatcher mengangkat keramik-keramik muatan Tek Sing. Sekitar Juni 1999, kelompok Hatcher berhasil mengangkut keramik buatan abad XIX. Selain keramik, ditemukan juga barang-barang dari kuningan dan perunggu, jam saku, uang kuno, pisau lipat, wadah lilin, wadah dupa dan lainnya. Dari hasil lelang keramik harta harun Tek Sing, pemerintah hanya menerima separuhnya yakni sekitar Rp90 miliar saja.

Dengan lautan yang sedemikian luas, dan posisi Indonesia yang sangat strategis, diperkirakan banyak kapal yang melintas dan membawa barang berharga. Kapal-kapal itu merupakan bagian dari sejarah Indonesia yang sangat berharga. Kini, mereka terkubur dan menjadi bagian dari kekayaan laut Indonesia.

Baca juga artikel terkait HARTA KARUN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight