Menuju konten utama

Kurangi Sampah Makanan, Bersama Petani Wujudkan Ketahanan Pangan

Indonesia menghasilkan jutaan ton sampah makanan setiap tahun. Gerakan mengurangi food waste jadi solusi memperkuat ketahanan pangan dan mendukung petani.

Kurangi Sampah Makanan, Bersama Petani Wujudkan Ketahanan Pangan
Ilustrasi makanan terbuang. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Setiap hari, Indonesia menghasilkan ribuan ton sampah makanan yang sebagian masih layak santap. Namun, di saat yang sama, banyak petani berjibaku memastikan pangan Indonesia tetap tersedia bagi ratusan juta penduduk.

Padahal, mengurangi sampah makanan atau food waste bisa memperkuat ketahanan pangan. Di sisi lain, langkah ini juga menjadi salah satu wujud penghormatan terhadap kerja keras para petani yang telah menanam, merawat, dan memanen hasil bumi.

Food Waste dan Ancaman Krisis Pangan

Data sampah makanan di Indonesia menunjukkan adanya masalah pemborosan pangan yang tidak bisa diabaikan. Laporan Food Waste Index dari UNEP pada 2024 menyatakan volume sampah makanan sektor rumah tangga di Indonesia mencapai 14,7 juta ton per tahun atau rerata 53 kg per kapita/tahun. Dari segi volume, data hasil estimasi berbasis model itu menunjukkan Indonesia sebagai penyumbang sampah makanan terbesar di Asia Tenggara karena jumlah populasinya yang besar, meski rerata per kapitanya relatif rendah dibandingkan negara-negara tetangga.

Angka bertambah besar jika memperhitungkan food loss atau pangan yang hilang sebelum sampai ke konsumen. Kajian dari Bappenas pada 2021 menemukan bahwa volume food loss and waste di Indonesia selama 2000–2019 rerata sekitar 23–48 juta ton per tahun. Kerugian ekonominya bahkan diperkirakan mencapai Rp213–551 triliun per tahun.

Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, mengatakan volume food loss dan food waste di Indonesia itu setara dengan kebutuhan makan sekitar 61–125 juta orang per tahun.

Berdasarkan perkiraan Badan Pusat Statistik (BPS), di sepanjang rantai pasok, Indonesia berpotensi kehilangan sekitar 31 persen pangan, dengan rincian sekitar 17% berupa food waste di tingkat konsumen dan 14% food loss pada tahap produksi serta distribusi.

Tak hanya mengancam ketahanan pangan, dampak sampah makanan terhadap lingkungan juga tidak sepele. Makanan yang membusuk di tempat pembuangan akhir melepaskan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang memiliki kemampuan memerangkap panas jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida.

Berbagai kajian memperkirakan emisi yang berasal dari food loss dan sampah makanan di Indonesia menyumbang 7,29% dari rerata emisi GRK Indonesia. Artinya, setiap makanan yang tersisa dan terbuang bukan cuma menyia-nyiakan jerih payah petani, tetapi juga ikut mempercepat krisis iklim yang bisa berujung pada penurunan produktivitas sektor pertanian itu sendiri.

Menyelamatkan Pangan Sama Pentingnya dengan Menanam

Upaya memperkuat ketahanan pangan kerap diidentikkan dengan menanam lebih banyak, memperluas lahan, dan meningkatkan produksi pertanian. Namun, melihat besarnya dampak food loss dan food waste, menjaga agar makanan tidak terbuang percuma sama pentingnya dengan menanam tanaman pangan.

Demi mengurangi volume makanan yang terbuang, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menggagas Gerakan Selamatkan Pangan (GSP) sejak 2022 lalu. Menurut Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, gerakan yang telah menjangkau 17 provinsi ini telah menyelamatkan lebih dari 224 ton pangan untuk disalurkan kepada 456 ribu penerima manfaat hingga 2025 lalu.

Agar dampak Gerakan Selamatkan Pangan makin besar, Bapanas menggalang kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pelaku ritel, UMKM, bank pangan, komunitas, hingga masyarakat. Bapanas juga terus mendorong perluasan cakupan gerakan ini di daerah. Pada awal September 2026, misalnya, Karawang menjadi kabupaten ke-58 yang secara resmi mendukung Gerakan Selamatkan Pangan melalui deklarasi dan pakta integritas.

Pemerintah pun sedang mengejar capaian lebih besar. Lewat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, Bapanas menargetkan pengurangan sisa pangan sekitar 3–5% per tahun guna menambah ketersediaan pangan nasional secara berkelanjutan.

Untuk mendukung gerakan ini, Bapanas mengembangkan sistem pelaporan digital via platformStop Boros Pangan, yang memungkinkan pelaku usaha maupun masyarakat melaporkan dan berkontribusi langsung dalam aksi penyelamatan pangan. Di Sulawesi Selatan, misalnya, telah tersedia fasilitas mobil dan laboratorium keamanan pangan agar makanan yang diselamatkan aman dikonsumsi sebelum disalurkan kepada masyarakat.

Kolaborasi pun tidak hanya melibatkan pemerintah dan dunia usaha, tetapi juga komunitas keagamaan dan masyarakat sipil. Kampanye seperti “Makan Habis Tanpa Sisa” yang digaungkan berbagai komunitas menunjukkan bahwa kesadaran menyelamatkan pangan mulai tumbuh dari akar rumput.

Hormati Kerja Petani, Perkuat Ketahanan Pangan!

Di balik setiap butir beras dan sayur yang sampai ke meja makan kita, ada jerih payah petani yang mengolah lahan, menghadapi cuaca tak menentu, hingga menanggung risiko gagal panen. Ketika makanan hasil kerja petani justru berakhir di tempat sampah, artinya kita menyia-nyiakan bukan hanya bahan pangan, tetapi juga waktu, tenaga, air, dan sumber daya yang telah dicurahkan di sepanjang rantai produksi.

Mengurangi sampah makanan bisa dikatakan sebagai bentuk paling sederhana dari menghormati kerja petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Karena itu, kesadaran untuk tidak mengambil atau membeli makanan secara berlebihan perlu dibangun sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Gerakan Selamatkan Pangan menegaskan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari, mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga menyebar ke lingkungan yang lebih luas. Kesadaran masyarakat untuk mengelola dan mengurangi sampah makanan bisa menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan Indonesia.

Mulai sekarang, yuk bareng-bareng bangun kebiasaan Stop Boros Pangan untuk cegah food waste seperti belanja bahan makanan sesuai kebutuhan, ambil porsi makan secukupnya, habiskan isi piring, olah lagi makanan tidak habis yang masih layak, serta donasikan surplus makanan ke food bank.

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis