Menuju konten utama

Korut Kembali Tembakkan Rudal Balistik Mendarat di Wilayah Jepang

Percobaan rudal balistik terbaru Korea Utara ini ini menjadikannya yang paling kuat dari tiga rudal yang telah diuji sejauh ini.

Korut Kembali Tembakkan Rudal Balistik Mendarat di Wilayah Jepang
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un meninjau uji coba kedua misil balistik jarak-menenngah Pukguksong dalam foto tanpa tanggal yang disiarkan Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA), Senin (22/5). ANTARA FOTO/KCNA/via REUTERS

tirto.id - Korea Utara telah melakukan uji coba rudal balistik jarak jauh yang mendarat di lepas pantai Jepang pada Selasa (28/11/2017). Hal ini memicu peluncuran rudal juga oleh Korea Selatan sebagai respons dan membawa kembali ketegangan tinggi ke dua negara setelah jeda lebih dari dua bulan.

Pentagon mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa senjata yang diuji adalah rudal balistik antarbenua (ICBM). Laporan awal dari Seoul menyarankan bahwa rudal itu berasal dari peluncur mobile dan ditembakkan sekitar pukul 03:00 waktu setempat.

Mengutip The Guardian, rudal tersebut dilaporkan telah terbang selama 50 menit dengan lintasan yang sangat tinggi, mencapai 4.500 km di atas bumi (lebih dari 10 kali lebih tinggi dari orbit Stasiun Antariksa Internasional NASA) sebelum turun hampir 1.000 km dari lokasi peluncuran di barat pantai Jepang.

Percobaan rudal balistik terbaru ini menjadikannya yang paling kuat dari tiga ICBM Korea Utara yang telah diuji sejauh ini.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, mengutuk peluncuran rudal tersebut sebagai "tindakan kekerasan" yang "tidak dapat ditoleransi" dan meminta sebuah pertemuan darurat dewan keamanan PBB.

David Wright, ahli fisika dan rudal di Union of Concerned Scientists, menghitung bahwa pada lintasan normal, rudal tersebut memiliki jarak tempuh 13.000 km, cukup untuk mencapai Washington, bagian pantai barat AS lainnya, Eropa, atau Australia.

Lebih lanjut, peluncuran lewat mobile itu bertujuan untuk menguji kemampuan baru dan menunjukkan bahwa Pyongyang dapat menyerang balik sebagai upaya pencegahan jika ada serangan terhadap rezim tersebut.

"Ini [rudal balistik] menjadi lebih tinggi, terus terang, daripada tembakan sebelumnya yang mereka lakukan," James Mattis, Menteri Pertahanan AS, mengatakan kepada wartawan. "Ini adalah upaya penelitian dan pengembangan untuk terus membangun rudal balistik yang dapat mengancam di manapun di dunia ini."

Mattis menambahkan program rudal Korea Utara "mengancam perdamaian dunia, perdamaian regional dan tentunya Amerika Serikat."

Peluncuran rudal Korea Utara ini dimungkinkan untuk menentang Presiden Trump setelah dia menempatkan negara tersebut dalam daftar negara mensponsori terorisme.

Presiden bereaksi dengan hati-hati terhadap berita peluncuran tersebut, bersikeras bahwa peluncuran ICBM Korea Utara tidak akan terjadi selama masa kepresidenannya. "Kami akan menjaganya ... ini adalah situasi yang akan kami tangani."

Dalam beberapa menit peluncuran, kepala staf gabungan Korea Selatan mengumumkan bahwa Seoul telah melakukan sebuah latihan yang melibatkan peluncuran rudal dalam “tembakan presisi”, menandakan bahwa mereka benar-benar merespons segera serangan dari Korea Utara.

Manning mengatakan: "Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara menentukan peluncuran rudal dari Korea Utara tidak menimbulkan ancaman bagi Amerika Utara, wilayah atau sekutu."

Rex Tillerson, Sekretaris Negara AS, mengecam peluncuran tersebut dan menambahkan: "Pilihan diplomatik tetap bertahan dan terbuka, untuk saat ini. Amerika Serikat tetap berkomitmen untuk menemukan jalan damai menuju denuklirisasi dan untuk mengakhiri tindakan berperang oleh Korea Utara."

Ini adalah tes rudal balistik pertama Korea Utara sejak 15 September. Uji coba rudal ini bisa jadi merupakan sebuah peringatan atas ancaman Donald Trump pada awal bulan ini. Presiden AS itu menyatakan jika Korea Utara menyerang AS dan sekutu-sekutunya akan menjadi "kesalahan perhitungan yang fatal."

Abe mengatakan kepada wartawan: "Kami tidak akan pernah menyerah pada tindakan provokatif [oleh Korea Utara]."

Ia menambahkan bahwa masyarakat internasional akan memberikan "tekanan maksimum" kepada Korea Utara untuk meninggalkan program rudal balistik dan nuklirnya.

Abe menyatakan bahwa Jepang telah mengajukan "protes kuat" dengan rezim di Pyongyang, yang dia tuduh mengabaikan "persatuan dan keinginankuat negara lain untuk solusi damai". Dia menambahkan: "Masyarakat internasional perlu bekerja sama untuk menerapkan sanksi sepenuhnya."

Baca juga artikel terkait RUDAL KOREA atau tulisan lainnya dari Yuliana Ratnasari

tirto.id - Politik
Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari