Menuju konten utama

Kenapa Negara Arab Tidak Membantu Palestina Melawan Israel?

Artikel ini akan menjelaskan kenapa negara-negara Arab tidak membantu Palestina melawan Israel. Arab sendiri punya sejarah pernah membela Palestina.

Kenapa Negara Arab Tidak Membantu Palestina Melawan Israel?
Warga Palestina mengevakuasi orang-orang yang terluka akibat serangan udara Israel di kamp pengungsi Bureij, Jalur Gaza, Kamis, 2 November 2023. (AP Photo/Mohammed Dahman)

tirto.id - Serangan Israel ke Palestina yang masih terus berkecamuk, menuai kecaman keras dari masyarakat global karena banyak pelanggaran HAM yang terjadi di dalamnya. Masyarakat juga bertanya-tanya kenapa negara-negara lain diam saja terhadap konflik ini?

Salah satu yang menjadi pertanyaan warganet adalah, kenapa negara-negara Arab tidak membantu Palestina?

Seperti diketahui, konflik Israel-Palestina masih terus berlanjut dan semakin meningkat setelah serangan rudal Hamas yang menewaskan ribuan warga Israel di awal Oktober 2023 kemarin.

Akibat serangan itu, Israel menyatakan perang terhadap Hamas dan menggencarkan serangan di beberapa wilayah yang diduga markas Hamas seperti di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Sejauh ini, menurut laporan AP News, jumlah korban meninggal dunia akibat serangan udara Israel di Palestina telah mencapai 9.000 orang lebih, menurut data pada 3 November 2023.

Israel menyerang wilayah yang berdekatan dengan RS Shifa dan Al-Quds di Kota Gaza pada 30 Oktober lalu. Wilayah ini menjadi tempat perlindungan bagi sekitar 19 ribu warga Palestina.

Saat itu, para pejuang Palestina terlibat bentrok dengan pasukan Israel di sebelah timur Khan Younis dan di Gaza utara.

Kantor berita Palestina, WAFA, melaporkan seorang warga Palestina bernama Amir Abdullah Sharbaji dikabarkan tewas usai terkena tembakan peluru tajam.

Di wilayah lainnya, Israel melepaskan serangan drone dan menghajar bangunan di Jenin, Tepi Barat. Kemudian di kawasan al-Saftawi, yang menewaskan 16 orang Palestina.

Dari sejumlah serangan yang semakin masif ini, pasukan Israel kerap menargetkan Jalur Gaza dan Tepi Barat yang selalu diklaim sebagai operasi kontra terorisme untuk menargetkan markas Hamas. Padahal, dua wilayah itu menjadi kamp-kamp pengungsi bagi warga Palestina yang tidak memiliki tempat tinggal.

Kenapa Negara Arab Tidak Membantu Palestina?

Mengutip Al Jazeera, Palestina kini disebut telah kehilangan sekutu Arab di tengah konfliknya dengan Israel yang terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir.

Negara-negara Arab disebut tidak lagi membela maupun membantu Palestina, usai mereka memiliki ketergantungan terhadap Amerika Serikat. AS sendiri sekutu terkuat Israel dalam hal senjata.

Negara-negara Arab sempat marah hingga mengecam tindakan pasukan Zionis yang melakukan pembersihan etnis Palestina di tahun 1948 untuk mendirikan negara Israel. Momen ini menjadi cikal bakal lahirnya konflik Israel-Palestina.

Ketika pasukan Zionis mulai membabi-buta melakukan serangan terhadap warga Palestina yang tidak bersalah, negara-negara Arab yang berada di tengah-tengah perjuangan anti-kolonial mereka sendiri, sempat mengangkat isu pembebasan Palestina ke status perjuangan pan-Arab.

Sayangnya, ketika rezim-rezim Arab baik Republik maupun Monarki sudah menjadi lebih mapan dan memiliki ketergantungan politik terhadap AS, mereka mulai kehilangan daya tarik dan atensi terhadap perjuangan Palestina.

Pemicu pengabaian itu tidak lain karena AS sendiri merupakan pendukung utama Israel dan proyek kolonialisme pemukimnya.

Seiring perkembangan zaman, Palestina saat ini disebut layaknya sebuah renungan dalam tatanan politik Arab, dimana akhirnya banyak negara yang berdamai dan menormalkan hubungan dengan Israel, termasuk negara kolonial yang tersisa di dunia Arab.

Saat ini, pemerintahan Arab disebut semakin otoriter. Hal ini membuat ruang untuk advokasi bagi perjuangan Palestina semakin sempit. Meningkatkan kontrol atas wacana publik, sensor dan kekerasan politik semakin memicu pembungkaman perbedaan pendapat di tanah Arab.

Negara Arab semakin dijauhkan dalam hal pembelaan perjuangan Palestina ketika ekspresi solidaritas dengan warga Palestina kerap dihadapkan dengan penindasan yang kejam di tengah rezim-rezim berusaha mengendalikan narasi perjuangan Palestina.

Jauh sebelum itu, tepatnya pada tahun 1977, Presiden Mesir Anwar Sadat sempat mengeluarkan sindiran bahwa Washington memegang 99 persen kartu di Timur Tengah. Runtuhnya Uni Soviet 14 tahun kemudian semakin mengukuhkan kenyataan bahwa Arab memiliki ketergantungan terhadap AS dan semakin meningkat.

Rezim-rezim di negara Arab saat itu kemudian berusaha menjaga hubungan baik dengan AS, salah satunya dengan cara mengizinkan Washington untuk mengendalikan upaya-upaya perdamaian di wilayah tersebut. Artinya, Arab menyerahkan konflik Israel-Palestina ke tangan AS.

Seiring meningkatnya kebutuhan politik dan kepentingan ekonomi yang sempit terhadap, akhirnya negara Arab semakin menurunkan atensi terhadap hak-hak rakyat Palestina agar AS tetap bisa menjamin kebutuhannya.

Salah satu kebijakan yang sangat kontras adalah kebijakan dari Mesir yang berbagi perbatasan dengan Jalur Gaza, namun Mesir menolak untuk mengizinkan warga Palestina menyeberang ke tempat aman.

Keterpurukan warga Palestina semakin diperburuk ketika kelompok militan Islam Palestina, Hamas, menginginkan gambar anak-anak Palestina yang menderita dan mati di reruntuhan. Mereka ingin agar negara-negara Arab di Timur Tengah tidak melakukan apapun terhadap warga sipil dan menginginkan jumlah korban yang terus bertambah.

Kendati Hamas kerap melantangkan serangan terhadap Israel, nyatanya kelompok ini juga memberikan dampak buruk bagi warga Palestina yang tidak bersalah, terutama di Jalur Gaza.

Baca juga artikel terkait ISRAEL PALESTINA atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Politik
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Dipna Videlia Putsanra