Kenalkan, Khabib Nurmagomedov, Juara Kelas Ringan UFC

Oleh: Nuran Wibisono - 11 April 2018
Dibaca Normal 4 menit
Belajar gulat melawan beruang, Khabib siap melawan siapapun di atas ring UFC.
tirto.id - Conor McGregor memang sempat jadi raja sekaligus selebriti di UFC. Dengan persona dan ketengilannya, pria Irlandia itu nyaris selalu mendapat tiga respons secara bersamaan: pujian, kebencian, juga cemoohan. Yang terakhir, salah satunya, datang dari Khabib Nurmagomedov, petarung kelas ringan asal Rusia.

"Kehebatan McGregor itu cuma dibesarkan oleh humas UFC. Bocahmu itu memulai tahunnya dengan menyerah seperti pengecut pada Nate Diaz. Tapi di akhir tahun dia bertarung untuk gelar. Gila memang. Aku ingin bertarung dengan si pengecut itu, karena itu bakalan jadi pertarungan nomor satu paling mudah di divisi kelas ringan," kata Khabib.

Itu kejadian pada 2016. Ia kesal karena tak kunjung mendapat kesempatan melawan McGregor untuk merebut gelar juara. Di sisi lain, McGregor terus-terusan mendapat lampu sorot, dianggap sebagai atlet tarung bebas terbesar sepanjang masa, dan banyak orang menganggap Khabib hanya berusaha mencari perhatian.

Tapi tidak. Khabib tak butuh perhatian dengan cara-cara bodoh. Catatan impresifnya sudah membuat orang melongok. Hingga 2016, ia bertarung 24 kali dan semua pertandingan itu dimenangkannya. Pertarungannya dengan Michael Johnson kemudian benar-benar membuat orang terbelalak.

Johnson, mantan petinju dengan catatan 27 pertandingan sempurna dan lama menekuni gulat, dibuat tak berdaya. Meski awal-awal sempat melontarkan arus pukulan yang menerjang wajah dan dagu Khabib, ia berakhir jadi samsak Khabib.

Dengan kelihaian gulatnya, Khabib berkali-kali membuat Johnson terjerembab dan menghujani wajahnya dengan pukulan keras. Semua berakhir saat Khabib melakukan kimura, membuat lengan Johnson tertekuk 180 derajat dan memaksa wasit menghentikan pertandingan.

"Aku menghormati Michael Johnson dan tak ingin melukainya. Saat aku melakukan kimura, aku melakukannya pelan-pelan. Aku tak ingin tangannya patah," ujar Khabib.

Sejak saat itu, Khabib terus memburu sabuk juara UFC seperti elang yang memburu ayam.

Juara Rusia yang Latihan Melawan Beruang

Khabib Nurmagomedov lahir pada 20 September 1988 di desa Sildi, yang masuk dalam Kabupaten Tsumandinsky, Dagestan, Rusia. Ia sudah belajar bela diri sejak kecil. Ayahnya, Abdulmanap, adalah atlit gulat terkenal dan pensiunan tentara. Di militer, Abdulmanap juga mengajar judo dan sambo —bela diri tradisional Uni Soviet.

Dalam sebuah wawancara dengan Mixfight, Abdulmanap menyebut bahwa sejak dulu Khabib adalah salah satu murid terbaiknya. Anak lelakinya itu belajar gulat, judo, juga sambo. Tak hanya itu, ia menyiapkan metode khusus untuk melatih Khabib: bergulat melawan beruang. Ini bukan kiasan.

Di umur yang masih 9 tahun, Khabib bergulat melawan beruang peliharaan keluarga. Meski beruang itu masih kecil, tapi ia beruang. Tubuhnya lebih besar ketimbang Khabib. Ada sebuah video tertanggal 23 September 1997 yang memperlihatkan Khabib kecil bergulat sembari diawasi beberapa pelatih. Khabib agak terengah dan berupaya keras menjatuhkan beruang itu. Si beruang tak mau kalah, ia berkali-kali membuat Khabib terpelanting. Kelak, Abdulmanap bercerita bahwa latihan itu lebih untuk mengeluarkan apa yang terbaik dari sang anak, sebuah upaya melawan rasa takut saat menghadapi sesuatu yang lebih kuat.

"Pada akhirnya, itu adalah ujian karakter ketimbang latihan fisik," kata Abdulmanap.

Infografik Khabib nurmagedov


Setelah berhasil melawan beruang, maka tak ada lagi yang perlu ditakuti Khabib ketika ia beranjak besar dan bertambah kuat. Setelah merasa aneka macam perkelahian jalanan tak membawa manfaat apa-apa, Khabib akhirnya memilih jalur tarung bebas profesional. Pada 2008 ia memulai debutnya.

Di setiap pertarungan yang dilaluinya, kemenangan selalu menyertai Khabib. Ia dominan dibanding lawan-lawannya. Apalagi yang bisa kau harapkan dari orang yang ketika bocah bergulat melawan beruang? Pada awal karier sebelum masuk ke UFC, ia bertanding 16 kali dan semua dimenangkan. UFC lalu tertarik untuk memanggilnya pada akhir 2011.



Pindah UFC hanyalah kepindahan yang tak berarti. Belum ada lawan yang sepadan dengannya. Pada debutnya, Khabib mengalahkan Kamal Shalorus, pegulat senior asal Iran, dengan rear-naked choke di ronde 3. Situs MMA Junkie menulis pertandingan debut Khabib sedikit berbau ramalan yang kelak menemui kebenaran.

"Pendatang baru UFC asal Rusia, Khabib Nurmagomedov mungkin namanya susah dilafalkan, tapi nama itu mungkin akan terus kamu ingat," tulis John Morgan.

Jalan Khabib terus mulus. Ia banyak mendapat pujian karena gaya bertarung yang eksplosif, ia mahir di pertarungan atas maupun pertarungan matras. Ketika mengalahkan Pat Healy, presiden UFC Dana White memuji Khabib.

"Gayanya membanting orang mengingatkanku pada Matt Hughes. Bocah baru ini menarik. Mungkin kami akan membuat hal besar dengannya," kata White.

Karena dianggap terlalu dominan, banyak orang mulai mencibir Khabib. Di berbagai forum penggemar tarung bebas, Khabib kerap dimasukkan sebagai petarung biasa saja namun dipuji berlebihan. Beberapa penggemar tarung bebas menganggap Khabib bisa menang karena lawan-lawannya yang terlampau mudah.

Tapi ketika Khabib berhasil menundukkan mantan juara UFC kelas ringan, Rafael dos Anjos, dan Michael Johnson, kritik semacam itu mulai reda dengan sendirinya. Kritikan pada akhirnya malah mampir ke Dana Wahite dan UFC karena tak kunjung memberi Khabib kesempatan bertarung untuk merebut gelar juara.

Kerumitan Merebut Sabuk Juara

Saat kesempatan itu datang pada September 2016, Khabib seharusnya melawan sang juara, Eddie Alvarez. Dana White sudah mengonfirmasi pertarungan ini. Namun Alvares memilih melawan McGregor. Karena ini, Khabib menyebut Eddie sebagai juara omong kosong.

Setelah melawan Johnson, nyaris setahun Khabib tak bertanding. Ia hanya berlatih terus menerus. Setelah menang melawan Edson Barboza pada Desember 2017, kesempatan merebut sabuk juara akhirnya datang.

McGregor sudah tak bertanding mempertahankan gelar selama 17 bulan. Ia lebih sibuk menambah pundi uang dengan, misalnya, menggelar pertarungan tak signifikan melawan Floyd Mayweather. Sabuk juara itu pada akhirnya dicabut. Khabib diberi kesempatan untuk merebutnya dengan pertandingan. Namun itu pun tak mulus.



Pada awalnya, pertarungan merebut sabuk juara ini melibatkan Khabib melawan Tony Ferguson, pemegang sementara sabuk juara kelas ringan. Namun ia harus mengundurkan diri karena cedera. Lawan kedua adalah Max Holloway, juara dari kelas bulu. Namun New York State Athletic Commission memutuskan Holloway tak fit untuk bertarung karena harus memangkas berat badan.

Kemudian opsi lawan berpindah ke Paul Felder, juga Anthony Pettis. Namun pada akhirnya, Al Iaquinta yang jadi lawan resmi Khabib. Lagi-lagi, Khabib dicemooh karena lawannya dianggap tak sepadan. Iaquinta yang juga berprofesi sebagai agen properti, terakhir bertarung setahun lalu. Apalagi Iaquinta hanya dikabari sehari sebelum pertarungan.

Benar saja, Khabib mendominasi pertarungan lima ronde itu. Menariknya, Khabib mencoba gaya baru. Ia tak lagi mendominasi pertarungan via renggut dan jatuhkan ala pegulat. Selepas ronde awal, Khabib memilih untuk lebih sering bertarung di atas, mengandalkan jab dan hook dan sesekali tendangan depan.

Sebenarnya, Iaquinta bisa dikalahkan di ronde 2 atau 3. Beberapa kali ia membiarkan lehernya tanpa pengawasan, membuat Khabib seharusnya bisa memitingnya dengan mudah. Tapi Khabib memilih tak melakukannya. Ia terus bertarung, seakan meluapkan segala kekesalan pada McGregor yang selama ini disimpannya —walau tampak ia setengah hati karena tahu lawannya tak punya persiapan yang cukup.



Pertarungan itu tak berakhir dengan baik. Di ujung ronde terakhir, wajah Iaquinta sudah bundas dan penuh darah. Karena pertandingan itu, Iaquinta harus melakoni perawatan medis intens dan harus istirahat selama 60 hari sebelum dibolehkan tanding lagi.

Sebelum wasit mengumumkan siapa pemenangnya, semua penonton sudah tahu siapa yang jadi juara. Khabib tersengguk ketika sabuk juara disematkan di pinggangnya. Sabuk yang sudah lama ia buru sekarang sudah ada di genggamannya.

"Kini tak ada lagi juara palsu. Tak ada lagi juara yang enggan mempertahankan sabuk juara. Sekarang UFC punya seorang juara, dan sang juara ini ingin mempertahankannya," tutur Khabib.

Perjalanan Khabib sepertinya masih akan panjang. Usianya masih 29. Sebagai petarung, ia punya banyak waktu untuk berbenah —termasuk membiasakan diri bertarung di atas, sesuatu yang coba ia tampakkan saat melawan Iaquinta. Staminanya yang sering dikritik, juga perlahan membaik.

Bagi UFC, Khabib yang jadi orang muslim Rusia pertama yang jadi juara UFC, berarti bisnis yang bakal mendatangkan banyak uang. Khabib sendiri pernah bilang bahwa Rusia adalah pasar besar, dengan 150 juta penduduk.

Sekarang Khabib sedang menatap lawannya di masa depan. Seperti yang ia bilang: ia ingin mempertahankan gelar juaranya. Lawan idealnya ada banyak. Dari Ferguson hingga Georges St-Pierre. Namun yang paling ideal tentu McGregor. Dari segi usia dan kemampuan bertarung, mereka setara. Ditambah lagi, ada api permusuhan yang sudah disulut sejak lama —termasuk kasus pelemparan bus yang membuat McGregor ditahan dan terancam hukuman penjara— rasanya pertarungan Khabib melawan McGregor akan jadi salah satu pertarungan UFC paling panas sepanjang masa.

"Kalau McGregor ingin sabuk juara kelas ringan," kata Khabib, "ia harus bertarung melawanku dulu."

Baca juga artikel terkait ATLET GULAT atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti