Kembali Berdaulat di Angkasa Indonesia

Pesawat tempur Hawk MK-53 (tengah) dikawal empat pesawat T-50i Golden Eagle dalam upacara penyambutan penerbangan terakhir Hawk MK-53 di Lapangan Udara Adisutjipto, Yogyakarta. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
- 9 April 2016
Dibaca Normal 3 menit
Armada tempur Indonesia sempat berjaya di era Soekarno. Kilau kejayaan itu secara perlahan meredup. Namun, ada upaya untuk kembali meraih kejayaannya lagi. Kali ini, kejayaan di atas kedaulatan negeri. Pesawat buatan Soviet yang memperkuat AURI tak dapat suku cadang yang layak. Pesawat AURI yang dikenal sebagai pesawat pembom, kini menjadi pesawat Hercules sebagai pesawat angkut.
tirto.id - Armada tempur Indonesia sempat berjaya di era Soekarno. Kilau kejayaan itu secara perlahan meredup. Namun, ada upaya untuk kembali meraih kejayaannya lagi. Kali ini, kejayaan di atas kedaulatan negeri.

Di masa kepemimpinan Soekarno, Angkatan Udara (AU) Indonesia sangat berjaya. Armada udara Indonesia sangat lengkap dan canggih berkat bantuan dari Uni Soviet. Inilah berkah dari perang dingin yang membuat Soviet berusaha keras untuk mencari kawan-kawan baru.

Indonesia dianggap sebagai negara yang potensial. Tak heran jika Soviet royal kepada Indonesia. Belanja alat-alat canggih untuk Angkatan Udara pun bukan lagi menjadi hal yang sulit. Itulah masa-masa di mana kekuatan AU Indonesia sangat diperhitungkan.

Efek Perang Dingin

Sebagai presiden yang memimpin Indonesia di awal kemerdekaan, Soekarno tentu sangat waspada dengan ancaman dari luar. Soekarno merasa perlu memperkuat armada laut dan udaranya juga, terutama sekitar masa-masa operasi Mandala Trikora pembebasan Irian Barat.

Angkatan Laut Republik (AL) dibekali dengan kapal-kapal canggih buatan Uni Soviet. Salah satunya kapal raksasa kelas Sverdlov berbobot 16.640 ton. Kapal yang dilengkapi 12 meriam besar kaliber 6 inci ini diberi nama KRI Irian. Sebelumnya, kapal ini pernah digunakan oleh Angkatan Laut Soviet selama satu dekade. Kapal ini menjadi sebuah armada yang ditakuti pada saat Konfrontasi Indonesia tahun 1964-1966.

Sementara Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dibekali dengan 20 Pesawat Pemburu Supersonic MiG-21, 30 Pesawat MiG 15, 49 pesawat MiG 17, 10 Pesawat Supersonic MiG-19, juga 26 pesawat pembom jarak jauh Tu-16 Tupolev. Tentu saja armada ini sangat mengesankan untuk sebuah negara yang baru saja merdeka dari penjajahan.

Belanja militer yang cukup besar ini tak lepas dari bantuan Uni Soviet. Kedekatan dengan Soekarno membuat Soviet rela memberikan bantuan hingga 2,5 miliar dolar kepada Indonesia ketika itu.

"Uni Soviet jelas tidak dapat memberikan pinjaman untuk kebutuhan memeroleh barang-barang konsumsi. Kalau kredit untuk membeli senjata, Uni Soviet sedia," tulis Rosihan Anwar dalam Sukarno, Tentara dan PKI.

Tak hanya itu, Indonesia dianggap potensial karena letaknya di Asia dan dekat dengan Australia. Ini penting karena meski era kolonialisasi kuno sudah berakhir, negara-negara barat tak bisa melepaskan pengaruh ekonomisnya dari sekitar Asia, dan juga Afrika. Australia juga dianggap akan selalu dekat dengan Inggris. Maka, menjadikan Indonesia sebagai benteng atas negara-negara kapitalis Blok Barat adalah penting. Uni Soviet ingin Indonesia kuat di bumi bagian selatan.

"Uni Soviet membutuhkan sekutu, sedangkan Indonesia membutuhkan dukungan dalam menyingkirkan sisa-sisa Pemerintahan Kolonial Belanda," Alexander Korolkov, jurnalis RBTH Indonesia.

Perang Dingin nampaknya membuat Uni Soviet menjadi kakak yang memanjakan adiknya yang bernama Indonesia. Indonesia tidak boleh jatuh dalam pengaruh Blok Barat. Hebatnya, Soekarno tak pernah merendahkan diri di hadapan Uni Soviet. Pemimpin Soviet bahkan memanjakan Soekarno. Konon, Soekarno pernah menunda kunjungannya ke Moscow sebelum makam Imam Bukhairi di temukan di Samarkand. Pemerintah Uni Soviet akhirnya menemukan makam itu.

Soekarno pun akhirnya mau berangkat ke Rusia. Hubungan kuat itu terbukti sangat berguna, dalam hal penguatan AURI.

Ditakuti Banyak Negara

Soviet memang membantu penguatan armada udara Indonesia. Namun, pesawat jet pertama yang dimiliki AURI bukanlah buatan Soviet, melainkan Inggris, dari pabrik De Havilland, yakni DH 115 Vampire. AURI menempatkan pesawat ini di Squadron Udara 11. Karena kesulitan suku cadang, AURI akhirnya memutuskan memakai pesawat buatan Soviet. Soekarno berhasil membuat Soviet mau membantu Indonesia dengan 20 Pesawat Pemburu Supersonic MiG-21, 30 Pesawat MiG 15, 49 pesawat MiG 17, 10 Pesawat Supersonic MiG-19, juga 26 pesawat pembom jarak jauh Tu-16 Tupolev. AURI pun semakin kuat.

Tu 16 Tupolev merupakan pesawat andalan Indonesia setelah 1957. Pesawat ini dibeli setelah AURI repot menghancurkan kekuatan Permesta dengan modal Pesawat Pembom B-25 buatan Amerika. Letnan Kolonel Salatun, Sekretaris Dewan Penerbangan, membaca majalah penerbangan asing yang kebetulan menyinggung Tu 16 Tupolev. Salatun menyampaikan kepada Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Suriadi Suriadarma soal pesawat itu.

"Dengan Tu-16, awak kita bisa terbang setelah sarapan pagi menuju sasaran terjauh sekali pun dan kembali setelah makan siang," kata Salatun, sebagaimana dilansir Majalah Angkasa edisi April 2011. Pesawat itu bisa diterbangkan dari Kemayoran. Sementara pangkalan Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur diperbesar agar bisa dijadikan tempat "parkir".

Ketika itu, hanya empat negara yang memiliki pesawat pembom tersebut yakni Amerika, Uni Soviet, Inggris, dan Indonesia. Pesawat ini punya jangkauan terbang hingga 7.200 km sekali terbang. Kecepatan maksimal terbangnya 1.050 km/jam. Kekuatan inilah yang membuat Indonesia disegani oleh Australia. Ini mengingat jarak Pulau Jawa ke Darwin, Australia tak lebih dari 3.000 km.

"Dengan kekuatan udara yang besar, Indonesia mempunyai bargaining position yang kuat terhadap beberapa negara besar seperti Belanda, Inggris, dan Australia. Dalam diplomasi pembebasan Irian Barat atau Trikora, begitu kuatnya Angkatan Udara Indonesia, hingga mampu memaksa Belanda meninggalkan Bumi Cenderawasih," jelas TNI AU dalam buku "Bakti TNI AU 1946-2003".

Kekuatan ALRI dan AURI Indonesia kembali ditunjukkan dalam Konfrontasi Malaysia. Soviet tidak mendukung Indonesia secara langsung. Namun, armada perang bikinan Soviet yang dimiliki Indonesia berhasil merepotkan Inggris yang mendukung pendirian Negara Malaysia. Sementara Indonesia menentang pendirian Negara Malaysia yang dianggap proyek neokolonialisme imperialisme alias Nekolim.

Belakangan, setelah jatuhnya Soekarno dan naiknya Soeharto, kekuatan AURI mulai berkurang. Semua itu tak lepas dari arus politik Indonesia yang berubah. Pemerintahan baru mengklaim memiliki politik luar negeri bebas dan aktif. Yang semula anti Amerika dan sekutunya, kini berkawan mesra. Uni Soviet pun jadi lawan terselubung. Akibatnya, pesawat-pesawat buatan Soviet yang memperkuat AURI itu tak dapat suku cadang yang layak. Beberapa di antaranya akhirnya rusak tak terawat.


Meraih Lagi Kejayaan

Setelah pesawat-pesawat buatan Soviet mulai tak bisa berlaga, Indonesia mulai mengkoleksi pesawat buatan Inggris atau Amerika. Pesawat AURI yang paling dikenal bukan lagi pesawat pembom, melainkan pesawat Hercules yang merupakan pesawat angkut. Beberapa pesawat tempur Indonesia adalah pesawat pemburu antara lain Hawk, F-16 atau F-5 Tiger. Pesawat-pesawat itu sama saja seperti MiG buatan Sovyet. Tak ada pesawat pembom jarak jauh semacam Tupolev. Alasannya, Indonesia negara cinta damai. Pesawat semacam itu dianggap tidak perlu di masa Orde Baru.

Di era anak Soekarno, Megawati Soekarnoputri berkuasa, Indonesia kembali memesan beberapa pesawat Rusia. Bukan MiG atau Tupolev melainkan Sukhoi. Setelahnya, Indonesia mulai mencoba membuat pesawat sendiri, meski masih juga mendatangkan pesawat dari negara lain.

Dulu, pernah ada orang semacam Nurtanio Pringgoadisuryo. Dari tangan Nurtanio, lahir “Si Kumbang” yang merupakan pesawat pengintai ringan bersenjata. Selain Nurtanio ada Yum Sumarsono yang sepanjang kariernya mati-matian hingga hilang salah satu tangannya untuk membuat helikopter. Yum dan Nurtanio melakukannya justru ketika TNI AU baru saja berdiri pada 9 April 1945. Nurtanio dan teknisi lain pernah membuat pesawat ringan dengan mesin Harley Davidson 500 cc di awal kemerdekaan.

Indonesia kini punya PT Dirgantara Indonesia (PT DI), penerus Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), yang pernah sukses membuat pesawat terbang. Sayangnya, langkah PT DI sempat tidak mulus, bahkan sempat terancam bangkrut. Namun, kini PT DI mulai bangkit.

Beberapa pesawat-pesawat ikut diproduksi Indonesia. Terbaru, PT DI menjalin kerja sama dengan Korea Aerospace Industries (KAI) untuk pembuatan jet tempur jenis fighter KF-X/IF-X atau berarti Korea Fighter eXperiment/Indonesia Fighter eXperiment. Pesawat ini disebut-sebut lebih canggih dari sukhoi. Jika pesawat itu terealisasi, maka Indonesia akan masuk jajaran elit negara-negara pembuat pesawat tempur.

TNI AU pernah berjaya di masa lalu. Tapi, kejayaan yang dibangun di atas sokongan negara lain, dalam hal ini Soviet. Kini, sudah saatnya angkatan udara Indonesia bangkit, dari sokongan dalam negeri. Karena bagaimanapun, negara berdaulatan adalah negara yang mandiri dalam banyak hal.

Baca juga artikel terkait AURI atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis:

DarkLight