Kecerdasan Emosional Itu Penting, Kenali Cara Melatihnya

Oleh: Widia Primastika - 12 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Kenali emosi Anda dan sekeliling. Bijaklah mengelolanya.
tirto.id - Intelligence Quotient (IQ) kerap dianggap sebagai penentu utama kesuksesan seseorang. Rosalie Holian dari RMIT University pernah menulis “EQ Versus IQ: What’s the Perfect Management Mix?” yang dimuat The Conversation mengatakan bahwa orang dengan IQ tinggi cenderung menjadi pemecah masalah yang baik. Mereka juga pintar menemukan solusi terbaik ketika dihadapkan pada sebuah situasi baru.

“Ketika seseorang dengan IQ tinggi juga memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, yang dapat diperoleh dari pengalaman serta kualifikasi pendidikan formal, maka mereka cenderung memiliki berbagai keterampilan,” ungkap Holian. Atas dasar inilah, orang yang memiliki IQ tinggi sering dianggap cocok menjadi pemimpin.

Namun, belakangan ini, pembicaraan tentang kecerdasan emosional juga mengemuka; intinya menunjukkan bahwa inteligensia saja tak cukup. Anda harus pandai mengelola emosi dengan baik.

Sebuah studi berjudul “It Pays to Have an Eye for Emotions: Emotion Recognition Ability Indirectly Predicts Annual Income” (PDF) yang dilakukan oleh Tasillo Momm menunjukkan bahwa tingkat emotion recognition ability (ERA) seseorang berhubungan secara tak langsung dengan penghasilan mereka setiap tahun.


“[...K]emampuan emosional memungkinkan seseorang tidak hanya memproses hal-hal yang sarat dengan muatan informasi secara efektif, namun mereka juga menggunakan informasi tersebut untuk mengatur dunia sosial organisasi untuk mendapatkan kemakmuran,” tulis Momm, dkk.

Apa yang Dimaksud Kecerdasan Emosional?

John D. Mayer dari University of New Hampshire (PDF) menyampaikan bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk memikirkan dan menggunakan emosi untuk meningkatkan kemampuan berpikir.

“Ini termasuk kemampuan untuk merasakan emosi dengan benar, untuk mengakses dan mengelola emosi untuk membantu pikiran, untuk memahami emosi dan pengetahuan tentang emosi, dan untuk merefleksikan emosi sehingga bisa mengatur emosi dan pertumbuhan intelektual,” ungkap Mayer.

Mayer juga mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional berarti terlibat dalam kapasitas untuk merasakan emosi, berasimilasi dengan emosi perasaan, memahami informasi dari emosi-emosi tersebut.

Dalam sebuah artikel berjudul “Emotional Intelligence as a Standard Intelligence” (PDF) yang ditulisnya bersama David R. Caruso, Peter Salovey, dan Gill Sitarenios, Mayer menuliskan tentang konsep pengukuran kecerdasan emosional yang berkorelasi dengan sebuah hubungan.

“Ketika hubungan seseorang dengan orang lain atau objek berubah, pahamilah emosi orang atau objek tersebut. Apakah orang yang dipandang sebagai ancaman yang ditakuti, atau sebuah objek yang disukai,” tutur Mayer, dkk.

Kecerdasan emosi mengacu pada kemampuan untuk mengenali makna-makna emosi dan hubungan-hubungannya, serta menggunakannya sebagai dasar penalaran dan pemecahan masalah. Oleh karena itu, emosi digunakan untuk meningkatkan aktivitas kognitif.


Dalam tulisannya yang lain, “What is Emotional Intelligence” (PDF) Mayer menunjukkan tahap-tahap kecerdasan emosi.

Tahap pertama adalah merasakan emosi, yakni kemampuan untuk mengidentifikasi emosi di wajah: kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, dan ketakutan mudah untuk dikenali. Kemampuan seseorang untuk merasakan emosi secara akurat melalui wajah atau suara orang lain bisa menjadi permulaan penting untuk memahami emosi secara mendalam.

Tahap kedua adalah menyampaikan bahwa manusia bisa memfasilitasi pikiran dengan emosi, yakni kemampuan untuk memanfaatkan informasi emosional dan secara langsung untuk meningkatkan pemikiran. Dalam tahapan ini, emosi penting untuk mendorong kreativitas. Perubahan suasana hati dan mood positif berpengaruh terhadap pemikiran kreatif.

Tahap ketiga adalah memahami emosi, yakni kemampuan manusia untuk memahami informasi emosi dalam sebuah hubungan, transisi dari satu emosi ke lainnya, serta informasi linguistik tentang emosi. Mayer menjelaskan: kebahagiaan biasanya mendorong keinginan untuk bergabung dengan orang lain, marah mendorong keinginan untuk menyerang atau menyakiti orang lain, ketakutan mendorong keinginan untuk melarikan diri.

Yang terakhir adalah tahap mengelola emosi. Mayer mengatakan bahwa hal tersebut bisa dilakukan apabila seseorang memahami emosi.

“Ketika seseorang berada dalam zona kenyamanan emosional, menjadi mungkin untuk mengatur dan mengelola emosi seseorang dan orang lain, sehingga dapat mengembangkan diri sendiri dan orang lain dan tujuan di lingkungan sosial,” tutur Mayer, dkk.

Memanfaatkan Kecerdasan Emosional

Dalam artikel berjudul “Emotional Intelligence” (PDF), Peter Salovey dan John D. Mayer menulis bahwa suasana hati dan emosi secara sistematis bisa bermanfaat dalam pemecahan masalah.


“Pertama, perubahan emosi dapat memfasilitasi pembentukan beberapa rencana masa depan. Kedua, emosi positif dapat mengubah organisasi memori sehingga materi kognitif lebih terintegrasi dan beragam ide dipandang lebih terkait,” kata Salovey dan Mayer.

Selain itu, mereka juga berpandangan bahwa emosi dapat membantu mereka keluar dari sebuah proses dan fokus pada kebutuhan yang lebih mendesak, dan yang terakhir, emosi bisa digunakan untuk membantu kinerja pada tugas kecerdasan yang kompleks.

Mood juga tak kalah penting. Menurut mereka, mood positif akan berdampak positif pada pemecahan masalah kreatif. Seorang individu dengan suasana hati yang positif lebih mungkin memilah masalah.

Infografik kecerdasan emosional


Melatih Kecerdasan Emosional

Jika memang kecerdasan emosional penting, bagaimana cara melatihnya? Psikolog Bradley Busch pernah menulis artikel berjudul “Emotional Intelligence: Why It Matters and How to Teach It” yang diterbitkan The Guardian. Ia menunjukkan cara mengasah kecerdasan emosional di sekolah, di antaranya mengajarkan anak menjadi pendengar aktif.


“Kemampuan mendengarkan aktif adalah bagian penting dari membantu menciptakan komunikasi dua arah yang sejati—dan itu jauh lebih dari sekedar memperhatikan,” kata Busch.

Dengan mengajak anak menjadi pendengar aktif, mereka akan terlibat dalam dialog dan dapat menanggapi orang lain melalui bahasa tubuh mereka, imbuhnya.

Selain itu, sekolah juga bisa mengajarkan anak kosakata untuk menyampaikan perasaan mereka agar siswa mampu memahami perbedaan makna seperti sedih, kecewa, dan kesal.

“Cara sederhana untuk memperkenalkan ini kepada siswa adalah memainkan permainan alfabet dalam kelas. Anda melihat berapa banyak emosi berbeda yang dapat anda peroleh untuk setiap huruf dalam alfabet. Setelah itu, diskusikan perbedaan di antara masing-masing, apa yang mungkin mendorong emosi, dan bagaimana siswa dapat merespons secara pribadi,” ungkap Busch.

Meningkatkan kecerdasan emosional anak juga bisa dilakukan dengan mengembangkan kesadaran diri mereka. Tujuannya: ketika bertemu orang lain, anak tak membiarkan citra diri yang terlalu tinggi mempengaruhi perilaku dan interaksi sosial. Anak juga perlu diajarkan untuk berempati ketika sedang bersama orang lain.

Empati merupakan kemampuan untuk mengambil perspektif orang lain tanpa menghakimi, mengenali emosi mereka, dan mampu menyampaikan perspektif kembali. Merefleksikan kembali perspektif orang lain membantu orang lain merasa dipahami dan bisa meningkatkan dukungan.

Baca juga artikel terkait INTELLIGENCE QUOTIENT atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight