Kala Grab dan Gojek Goyah Akibat Corona

Pengemudi Gojek menggunakan sekat pelindung saat uji coba penggunaannya pada armada Gojek di Shelter Gojek Stasiun Sudirman, Jakarta, Rabu (10/6/2020). tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Ahmad Zaenudin - 24 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Akibat pandemi Corona, Grab PHK karyawan.
“Sejak kami mulai menjalankan langkah-langkah menghadapi krisis kesehatan global ini, saya berharap tidak perlu mengirimkan pesan seperti ini,” tutur Anthony Tan, pendiri sekaligus Pemimpin Eksekutif Grab, dalam surat yang dikirimkan Tan pada para karyawannya, tertanggal 16 Juni 2020.

“Dengan berat hati,” tulis Tan, “hari ini saya umumkan bahwa kami akan melepaskan sekitar 360 Grabbers”. Grabbers merujuk pada karyawan Grab.

Pemutusan hubungan kerja yang dilakukan Grab pada kurang dari 5 persen total karyawannya itu tak lain merupakan dampak langsung pandemi COVID-19. “Pandemi ini kemungkinan akan mengakibatkan resesi yang berkepanjangan” dan karenanya, jika Grab ingin bertahan, perusahaan “harus mempersiapkan diri untuk masa pemulihan yang panjang,” misalnya dengan “meninjau semua komponen biaya, mengurangi pengeluaran, dan menerapkan pemotongan gaji untuk manajemen senior,” demikian Tan.

“Grab harus menjadi organisasi yang lebih ramping untuk mengatasi tantangan ekonomi pasca pandemi,” tegas Tan.

Sebulan lalu, sebagaimana diwartakan Channel News Asia, Tan Hooi Ling, salah satu pendiri lain Grab, menyatakan bahwa perusahaannya, di tengah pandemi Corona, tengah bersiap menghadapi “musim dingin yang panjang”. Ling menyebut secara keseluruhan pendapatan Grab jauh lebih kecil dibandingkan pra-pandemi COVID-19 sehingga “Grab bersiap menghadapi skenario terburuk,” skenario yang akhirnya diumumkan Tan.

Langkah Grab diikuti perusahaan ride-hailing lainnya. Selasa (23/06/2020), kompetitor Grab di Asia Tenggara, Gojek, melakukan langkah serupa, mem-PHK 430 karyawannya--setara dengan 9 persen total karyawan Gojek--akibat pandemi. Ini merupakan dampak dari penutupan 3 layanan Gojek: GoClean, GoMassage, dan GoFood Festival. Aksi Gojek cukup mengejutkan, di bulan Maret lalu, Andre Soelistyo, ko-Pemimpin Eksekutif Gojek, menegaskan bahwa perusahaannya diharapkan akan pulih dari pandemi “dalam beberapa bulan ke depan”.

Jika melihat lebih jauh, tak hanya perusahaan-perusahaan ride-hailing yang terkikis akibat diterpa pandemi. Airy, misalnya. Startup yang merangkul hotel-hotel bertarif murah dan menawarkannya kepada masyarakat melalui aplikasi ini tak sebatas merumahkan atau mem-PHK karyawannya, tetapi terpaksa mengakhiri bisnis secara keseluruhan--alias bangkrut--akibat pandemi. Hal buruk yang sebetulnya membayangi Grab ataupun Gojek.

Pencipta Lapangan Kerja yang Sedang Porak Poranda

Menjelang Ramadan 2015, Gojek meluncurkan program “Ceban Menjelang Ramadhan”. Melalui program itu, pengguna Gojek dapat diantarkan ke tujuannya masing-masing--tak lebih dari 25 kilometer--hanya dengan ongkos Rp10 ribu. Strategi promosi tersebut sukses. Nadiem Makarim, pendiri Gojek yang saat ini menjabat Menteri Pendidikan RI, menyebut promo itu sukses besar, dan “Gojek meledak menjadi layanan aplikasi No.1 di Jakarta.”

Di awal kemunculan, layanan ojek online dari Gojek mematok tarif Rp4.000 per kilometernya, sementara Grab membanderol tarif Rp3.000 per kilometer. Lambat laun, tarif berubah-ubah, Gojek misalnya, menjadi Rp2.200 di bulan Juni 2018. Semenjak Maret 2020, melalui peraturan pemerintah, batas bawah per kilometer layanan ojek online, entah Gojek ataupun Grab, bernilai Rp2.250 per kilometer dan batas atas Rp2.650 per kilometer.

Tentu, melalui strategi “bakar uang” yang dilakukan Gojek dan Grab (seperti yang diterjemahkan dalam program “Ceban Menjelang Ramadhan”) pengguna masing-masing layanan membayar di bawah harga sebenarnya, alias murah alias di kemudian hari para pengguna ojek online.

Gojek dan Grab, singkat kata, menjadi sangat menyatu dengan masyarakat. Pada 2019, merujuk rilis yang dikeluarkan Gojek, para pengemudi Gojek secara keseluruhan telah menempuh perjalanan sejauh 5 juta kilometer. Mengkomparasikan dengan hasil riset Kementerian Perhubungan yang menyebut jarak rata-rata sekali perjalanan ojek online adalah 8,8 kilometer, artinya ada lebih dari 560 ribu trip di tahun 2019 yang dilakukan Gojek. Pada awal 2019 silam, Grab mengklaim bahwa layanan antar mereka (ojek dan taksi online) telah menempuh 3 miliar perjalanan.

Hasil gemilang itu jelas terjadi sebelum pandemi COVID-19. Ketika SARS-CoV-2, virus di balik Corona muncul, segalanya berubah. Alasannya sederhana. Dengan belum ditemukannya vaksin atau obat penyembuh Corona, satu-satunya yang dapat dilakukan umat manusia adalah menjaga jarak dengan manusia lainnya, melalui physical/social distancing. Masalahnya, tentu saja, layanan-layanan Gojek dan Grab adalah layanan berbasis kontak fisik dengan pelanggannya. Maka, ketika Corona mewabah, bisnis Gojek dan Grab amburadul, khususnya ketika pemerintah memberlakukan lockdown--atau di Indonesia diterjemahkan dalam PSBB.

Koya Jibiki dalam laporannya untuk Nikkei Asian Review menyatakan bahwa jumlah pemesanan layanan ojek/taksi online Grab turun hingga 24 persen per 26 Maret silam. Sementara Gojek turun 11 persen.

Layanan Gojek dan Grab tentu bukan hanya ojek/taksi online, tetapi juga pemesanan makanan, pengantaran barang, dan dompet digital. Masalahnya, layanan-layanan non-ojek/taksi online itu sangat berhubungan erat dengan layanan ojek/taksi online. Laporan Katadata, misalnya, menyebut total transaksi GoPay telah menembus angka Rp89,5 triliun per Februari 2019. Dan dari angka transaksi itu, 70 persennya digunakan untuk membayar layanan-layanan yang termaktub dalam aplikasi Gojek, khususnya GoRide dan GoFood.

Sederhana saja, di Indonesia Gojek memiliki 29,2 juta pengguna aktif bulanan. Jika tiap penggunanya memiliki sisa saldo GoPay sebesar Rp1.000 saja, Gojek kehilangan saldo mengendap sebesar Rp29,2 miliar. Saldo yang jika dibiarkan saja di bank akan menghasilkan Rp146 juta per bulan, merujuk suku bunga simpanan bank BCA.

Uang manis itu hilang karena Corona.




GoRide dan GrabBike, karena pemberlakuan PSBB, jelas tak bisa diandalkan mendulang keuntungan bagi Gojek/Grab karena masyarakat terpaksa tinggal di rumah. Sayangnya, ini juga terjadi untuk layanan pesan makanan. GoFood contohnya. Catherina Hindra Sutjahyo, Chief Food Officer Gojek, sebagaimana diwartakan Kompas, menyatakan bahwa meski awalnya GoFood lebih banyak dipesan di waktu jam makan malam, tetapi kini pemesanan GoFood “ramai di saat waktu makan siang”. Artinya, GoFood lebih laris dipesan para pekerja dari tempatnya bekerja. Ketika dipaksa WFH, GoFood terkikis.

Singkat kata, segala lini bisnis Gojek dan Grab terkikis karena Corona. Ketika PSBB mulai dilonggarkan, masyarakat belum benar-benar pulih beraktivitas seperti sebelum Corona. Data yang dipublikasikan Tomtom dalam 7 hari terakhir menyebut, meskipun, misalnya, di Jakarta PSBB telah dilonggarkan dengan mengizinkan kantor-kantor kembali buka, kepadatan lalu-lintas masih kalah macet dibandingkan sebelum Corona. Pada 18 Juni kemarin, kepadatan lalu-lintas pukul 18.00 hanya berada di titik 42 persen (dari skala 100 persen, yang artinya paling macet). Sementara itu, di saat yang sama setahun sebelumnya, kepadatan ada di titik 85 persen. “Musim dingin” tampaknya masih panjang.

Masalahnya, perusahaan pun tidak dapat berhemat. Salah satu alasannya, sebagaimana dilaporkan Jibiki, Gojek dan Grab adalah perusahaan-perusahaan “pencipta lapangan kerja.” Laporan Katadata pada 2016 yang mengutip Badan Pusat Statistik menyebut bahwa ojek online, yang diinisiasi oleh Gojek dan Grab, sukses menurunkan angka pengangguran di Indonesia. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun dari 7,56 juta pada Agustus 2015 menjadi 7,03 juta pada Agustus lalu. Artinya, jumlah pengangguran telah berkurang 530 ribu orang dalam setahun terakhir. Ojek online mendongkrak jumlah pekerja di sektor jasa yang meningkat dari 1,52 juta menjadi 19,5 juta orang. Secara spesifik, pekerja di sektor transportasi meningkat 500 ribu menjadi 5,6 juta orang.

Gojek dan Grab pun harus menanggung beban untuk menghidupi mitra-mitranya di masa pandemi. Grab merogoh kocek sebesar $40 juta sebagai bantuan finansial mitranya. Sementara itu, Gojek mengucurkan Rp100 miliar sebagai bantuan para mitra. Pada 7 April lalu, Gojek memberikan kupon Rp5.000 bagi para mitranya yang dapat dimanfaatkan di restoran tertentu.

Beban finansial itu mengancam Gojek dan Grab di masa pandemi.

Baca juga artikel terkait STARTUP atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight