Kabut Asap Pekat Kembali Menyelimuti Beberapa Wilayah di Sumatera

Oleh: Antara - 11 Oktober 2019
Dibaca Normal 1 menit
Intensitas kabut asap di sejumlah wilayah di Sumatera kembali meningkat sejak Rabu (11/10/2019).
tirto.id - Kualitas udara di Kota Palembang kembali menurun pada level berbahaya akibat asap kiriman dari wilayah terpapar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan, Jumat (11/10/2019). Seperti diberitakan Antara, asap pekat yang menyelimuti Kota Palembang mengakibatkan jarak pandang terbatas disertai suhu udara dingin. Intensitas asap tersebut mulai meningkat sejak Kamis sore, setelah hujan ringan di beberapa lokasi.

"Asap ini kiriman dari wilayah Banyuasin I, Tulung Selapan dan Mesuji yang berada di arah tenggara Kota Palembang," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Bambang Beny Setiaji.

Berdasarkan data air visual terintegrasi satelit hingga pukul 08.30 WIB, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Palembang berada pada angka 359 dengan kategori berbahaya atau setara 309 mikrogram/meter PM 2,5.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan, Ansori, menambahkan bahwa intensitas asap terus berlanjut dan meningkat seiring menyebarnya titik panas yang berjumlah 414 titik selama 24 jam terakhir.

“263 titik atau setengahnya ada di Kabupaten OKI yang berada di sisi tenggara Kota Palembang,” jelas Anshori kepada Antara.

Kondisi kabut asap tersebut dikeluhkan masyarakat beberapa hari terakhir, khususnya warga yang harus beraktivitas di luar ruangan, seperti pengemudi ojek daring.

“Kami memang harus terbiasa dengan asap, apalagi pada waktu-waktu tertentu, seperti malah hari itu mata rasanya jadi lebih perih,” ucap Saiful,, salah seorang pengemudi ojek daring kepada Antara.

Meski begitu, para siswa tetap bersekolah dan belum ada instruksi libur dari dinas pendidikan setempat.



Kota Pekanbaru Kembali Berasap

Sementara itu, jumlah titik panas yang menjadi indikasi awal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera naik jadi 543, jumlah tersebut meningkat dibanding hari Kamis (10/10/2019) sore yang berjumlah 405 titik. Hal itu menyebabkan Kota Pekanbaru kembali diselimuti kabut asap tebal pada Jumat (11/10/2019) pagi.

Dari jumlah tersebut, titik panas paling banyak ada di Provinsi Sumatera Selatan (310 titik), diikuti Lampung (96 titik), Jambi (86 titik), Bangka Belitung (35 titik), dan bengkulu (1 titik).

Sedangkan di Provinsi Riau, Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Sukisno, menyebutkan 15 jumlah titik panas di Provinsi Riau, yakni di Kabupaten Kuansing (1 titik), Indragiri Hilir (4 titik), dan Indragiri Hulu (10 titik). Dari jumlah tersebut, ada 10 titik api karhutla yang terletak di Kabupaten Indragiri Hulu (8 titik) dan Indragiri Hilir (2 titik).

“Kota Pekanbaru terpantau asap dengan jarak panjang dua kilometer,” ujar Sukisno dilansir Antara.

Berdasarkan pantauan Antara, karhutla masih terjadi di daerah pinggiran Pekanbaru, seperti daerah Air Hitam. Selain itu, kebakaran lahan gambut juga masih terjadi di Rimbo Panjang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar, yang berbatasan dengan Pekanbaru.

Namun, dua kebakaran lahan di lokasi itu tak terpantau sebagai titik panas oleh satelit. Selama tiga hari terakhir, upaya pemadaman dari darat dan udara menggunakan bom air terus dilakukan di Rimbo Panjang. Namun, kebakaran tersebut belum sepenuhnya padam karena lahan gambut dan vegetasi di sekelilingnya sangat kering,

Sejak Rabu (9/10/2019), sejumlah warga Kota Pekanbaru mulai mengeluhkan bau asap, terutama pada malam dan pagi hari. “Kalau pagi hari terasa baunya menyengat,” ujar seorang Warga, Andika Dyas (37) kepada Antara.

Andika menambahkan, asap ercampur embun sangat pekat terasa di sekitar Jalan Tuanku Tambussai dan daerah Panam pada Kamis (10/10) lalu.

“Saya sampai harus menyalakan lampu mobil karena asapnya pekat, takut ditabrak kendaraan dari arah berlawanan,” katanya.


Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan menarik lainnya Antara
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Antara
Penulis: Antara
Editor: Widia Primastika
DarkLight