Periksa Data

Jejak Keruh Kualitas Udara di Indonesia, Terburuk di Asia Tenggara

Penulis: Fina Nailur Rohmah - 1 Jul 2022 12:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Kualitas udara Jakarta terkategori tidak sehat selama 2 pekan, bagaimana kondisi kualitas udara Indonesia selama 2 tahun ke belakang?
tirto.id - Kualitas buruk udara Jakarta belakangan sempat menyita perhatian masyarakat. Per 28 Juni 2022 pukul 09.02 WIB, Jakarta masih bertengger di 10 deretan kota paling berpolusi di dunia. Berdasarkan data dari situs pemantau kualitas udara IQAir, kadar polusi udara Jakarta saat ini mencapai 101 standar Amerika Serikat (US AQI) dan masuk dalam kategori unhealthy for sensitive groups atau tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Artinya, menurut situs IQAir, kualitas udara seperti ini memiliki efek negatif pada populasi rentan seperti anak kecil, lansia, dan mereka yang memiliki tingkat kesehatan yang buruk. Orang-orang yang sehat juga bisa terpengaruh manakala terpapar dalam jangka waktu lama.

Kembali ke kualitas udara Jakarta, kota ini bahkan sempat mencetak peringkat pertama terburuk sedunia pada 21 Juni 2022 pukul 08.50 WIB. Jika memperhatikan data harian IQAir, kualitas udara Jakarta ini telah berada di kondisi yang tidak sehat sejak Selasa (14/6/2022) dan berlangsung 2 pekan hingga Minggu (26/6/2022).

Data tersebut dikumpulkan dari 16 kontributor, mulai dari stasiun pemerintah seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dan Departemen Luar Negeri AS. Selain itu ada pula organisasi nirlaba yakni Jakarta Against Coal dan Greenpeace Indonesia, serta sejumlah perusahaan.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berkomentar, bilamana kondisi udara Jakarta buruk selama 2 bulan berturut-turut, maka ada yang salah dengan kota tersebut. Lain halnya jika ada satu hari buruk kemudian kembali normal, artinya ada peristiwa yang terjadi di hari itu.

"Perlu kita lihat kualitas udara tidak ada pembatasan administrasinya, tidak ada. Jadi ada memang emisi dari dalam kota, tapi juga ada pergerakan dari berbagai wilayah," terangnya di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, seperti dinukil dari Detik, Rabu (22/6/2022).

Lantas, apa penyebab kondisi buruk udara Jakarta dan bagaimana kualitas udara Indonesia selama 2 tahun terakhir? Bagaimana dampak yang mungkin muncul dan apa yang seharusnya dilakukan pemerintah?

Emisi Lokal dan Regional?

Situs IQAir menyebut salah satu polutan utama yang digunakan dalam menghitung indeks kualitas udara adalah PM2.5. PM2.5 atau Fine Particulate Matter adalah materi mikroskopis berukuran tidak lebih dari 2,5 mikrometer dengan berbagai efek merugikan bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), polutan tersebut terutama berasal dari aktivitas manusia berkaitan dengan pembakaran bahan bakar fosil. Untuk mengukur kualitas udara, WHO sendiri mengukur polutan lain seperti konsentrasi rata-rata dari nitrogen dioksida (NO2).

Kadar PM2.5 di Jakarta pada 28 Juni 2022 pagi tercatat sebesar 35,5 µg/m³ (mikrogram per meter kubik), lebih tinggi 7,1 kali dari standar baku mutu yang direkomendasikan WHO. Perlu diingat bahwa WHO sempat merevisi pedoman kualitas udara pada tahun 2021 setelah terakhir diperbarui pada 2005. Nilai baku mutu udara ambien PM2.5 versi WHO kini lebih ketat, yakni di level 5 µg/m³ secara tahunan dan 15 µg/m³ dalam waktu pengukuran 24 jam.

Selain Jakarta, kecamatan Pasar Kemis Provinsi Banten juga menunjukkan kualitas air yang tidak sehat, dilanjutkan dengan Kota Denpasar, Kota Depok, dan Kabupaten Serang yang memperlihatkan kualitas udara tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Sementara itu, 5 besar daerah paling bersih di Indonesia adalah Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau, Kota Cirebon Jawa Barat, Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT), kecamatan Kayu Agung Sumatera Selatan, dan kota Pangkalpinang Kepulauan Bangka Belitung, masih berdasarkan data IQAir pada 28 Juni 2022 pukul 09.02 WIB.

Indeks kualitas udara IQAir didasarkan pada standar Amerika Serikat yang menggolongkan indeks 0 sampai 50 sebagai kategori baik, indeks 51 hingga 100 dalam klasifikasi sedang, dan rentang 101 – 150 termasuk tidak sehat bagi kelompok sensitif. Untuk kategori tidak sehat adalah ketika indeks kualitas udara berkisar antara 151 sampai 200.

Secara umum, sepanjang 2021, IQAir mencatat skor Indonesia mencapai 97, atau sedang. Namun, konsentrasi PM2.5 selama 2021 di Indonesia 6,9 kali jumlah standar kualitas udara WHO. Jakarta sendiri dihitung sebagai kota paling berpolusi di Indonesia pada tahun 2021 dengan skor 110, dibanding kota paling tidak berpolusi yakni Indralaya di Sumatera Selatan dengan skor 17.

Namun demikian, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar menampik peringkat terburuk sedunia kualitas udara Jakarta. Katanya, data situs IQAir berbeda dengan yang digunakan pemerintah. Berdasarkan analisia yang dimilikinya, urutan DKI Jakarta justru berada di nomor 44 dari deretan negara lain.

“Itu kan hasil monitoring analisis pakai metode tertentu dari swasta, ada instrumen yang dia pakai. Saya tidak bermaksud membela diri, tetapi kita lihat dari metode yang biasa dipakai,” pungkas Siti di Istana Kepresidenan, Senin (20/6/2022), mengutip situs berita Antara.

Indonesia sendiri memang menggunakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dengan kategori baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, dan berbahaya. Akan tetapi, Juru Kampanye Iklim Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu berpendapat, bicara mengenai udara seharusnya tidak memperdebatkan pihak pemantau.

“Mereka [IQAir] pakainya standar US bukan ISPU, ini mungkin yang masih dibantah sama mereka [pemerintah]. Karena secara formal officially, kita harus memang secara legal mengumumkan kepada publik itu secara ISPU bukan AQI US. [….] AQI US udah jadi standar yang lumayan global dipakai, kenapa? Karena sudah mengakomodir kelompok tidak sehat untuk kelompok sensitif,” katanya saat dihubungi Tirto, Rabu (29/6/2022).

Melalui siaran pers tertanggal 24 Juni 2022, BMKG menyatakan beberapa faktor yang memengaruhi tingginya konsentrasi PM2.5 di wilayah Jakarta dan sekitarnya, termasuk sumber emisi lokal seperti transportasi dan residensial, maupun sumber regional dari kawasan industri dekat Jakarta. Konsentrasi PM2.5 ini cenderung melonjak pada waktu dini hari sampai pagi dan menurun di siang hingga malam hari.

Selain itu, peningkatan konsentrasi PM2.5 belakangan juga dipengaruhi pola angin yang memperlihatkan pergerakan massa udara dari arah timur dan timur laut menuju Jakarta. Peningkatan kali ini juga memiliki korelasi positif dengan kadar uap di udara yang dinyatakan tinggi oleh parameter kelembapan udara relatif, merujuk BMKG.

Menduduki Peringkat 1 Asia Tenggara

Apabila menengok ke belakang, rerata kadar PM2.5 di Indonesia pada tahun 2021 menukik turun dari 2020 sebesar 40,8 µg/m³ menjadi 34,3 µg/m³, menurut laporan World Air Quality 2021. Kabar baiknya, Indonesia memimpin dalam perbaikan kualitas udara dibanding 5 negara lain yakni Myanmar, Vietnam, Laos, Thailand, dan Kamboja dalam penurunan level PM2.5 di regional Asia Tenggara.

Namun demikian, terlepas dari peningkatan yang terjadi, IQAir dalam publikasi tahunan World Air Quality memposisikan Indonesia sebagai peringkat 1 negara paling berpolusi se-Asia Tenggara. Kedudukan ini bahkan konsisten selama 2019 hingga 2021.

Laporan Energy Policy Institute di University of Chicago (EPIC) tahun 2022 berjudul “Air Quality Life Index (AQLI)” menyebut, polusi udara adalah “beban utama” negara-negara Asia Tenggara. Menurut laporan tersebut, area paling berpolusi pada tahun 2020 adalah area yang mengelilingi kota seperti Mandalay, Hanoi, dan Jakarta, dimana para penduduknya kehilangan 3 hingga 4 tahun harapan hidup.

Mengacu pada laporan World Air Quality 2021 pula, kualitas udara yang buruk terus menerus terjadi di kota-kota padat penduduk. Di Indonesia, Jakarta masih mencatat kualitas udara terburuk dengan konsentrasi PM2.5 tahunan sebesar 39.2 μg/m3, tujuh kali lipat standar WHO.

Dari 6 kota terpadat di Indonesia, hanya Makassar yang melaporkan pengurangan konsentrasi PM2.5 secara signifikan pada 2021. Pengurangan kadar PM2.5 di Indonesia secara keseluruhan disumbang dari pengurangan konsentrasi partikel tersebut di kota berpenduduk sedikit, seperti Bogor, Pekanbaru, dan Denpasar.

Ketimbang tahun 2018, konsentrasi tahunan PM2.5 di setiap kota pada 2020 juga terbilang turun menyusul berbagai langkah pembatasan penyebaran virus COVID-19. Laporan EPIC juga membeberkan penyebab lain terkait menurunnya kadar PM2.5 di Indonesia pada awal tahun 2020, yakni lebih sedikitnya jumlah kebakaran dibanding 2019, tahun ketika terjadinya kebakaran di pulau Sumatera dan Kalimantan.
Publikasi World Air Quality 2020 pun mengungkap hal senada, bahwa sumber utama polusi udara di Indonesia mencakupi pembakaran lahan dan kebakaran hutan. Tapi di samping itu, kontributor lain adalah urbanisasi dan ledakan populasi yang membutuhkan banyak pembangunan baru dan menyerap energi. Sementara energi Indonesia sendiri kebanyakan dipasok oleh bahan bakar fosil yang mencemari, dengan minyak dan batu bara sebagai kontributor yang signifikan, merujuk laporan itu pula.

Sebuah studi dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) tahun 2020 menyingkap, polusi lintas batas di sekitar provinsi Banten dan Jawa Barat menjadi kontribusi utama polusi udara Jakarta. Hal itu difasilitasi oleh faktor meteorologi seperti lintasan angin yang menyebabkan polutan NO2, Belerang Dioksida (SO2), dan PM2.5 tersebar.

Transisi Energi dan Riset Inventarisasi Emisi

WHO mengemukakan, polutan PM2.5 mampu menembus jauh ke dalam paru-paru dan memasuki aliran darah sehingga berdampak pada pernapasan. Partikel ini juga dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular dan stroke, di samping juga dapat menyerang organ lain dan menyebabkan penyakit lainnya.

Seperti tertulis dalam rilis pers WHO, Senin (4/4/2022), sebanyak 99 persen populasi global bahkan tercatat menghirup udara melebihi batas kualitas udara WHO, dengan orang-orang di negara berpenghasilan rendah dan menengah mengalami keterpaparan lebih tinggi.

Laporan AQLI juga menyebut bahwa polusi partikulat telah memangkas 2,2 tahun dari harapan hidup rata-rata global, dibanding negara-negara yang memenuhi standar WHO. Dampak terhadap angka harapan hidup ini bisa disejajarkan dengan merokok dan enam kali lipat HIV/AIDS.

Oleh karenanya Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyoroti pentingnya mempercepat transisi energi ke sistem yang lebih bersih dan lebih sehat.

“Harga bahan bakar fosil yang tinggi, keamanan energi, dan urgensi untuk mengatasi tantangan kesehatan kembar dari polusi udara dan perubahan iklim, menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk bergerak lebih cepat menuju dunia yang jauh lebih sedikit bergantung pada bahan bakar fosil,” mengutip rilis pers WHO.

Di lain sisi, Bondan dari Greenpeace Indonesia menilai pemerintah perlu membuat kajian inventarisasi emisi untuk mengetahui sumber polusi dan menentukan kebijakan yang diambil.

“Sehingga taun depan kita bikin lagi riset inventarisasi emisi, kita lihat perubahannya, signifikan gak kebijakan yang diambil dengan sumber pencemarnya itu. […] Nah selama ini gak bisa kita match kayak gitu, sehingga keberhasilannya sulit diukur,” katanya.

Bondan berujar, saat warga negara melayangkan gugatan soal polusi udara Jakarta pada 2019, hakim juga memerintahkan presiden untuk membuat baku mutu udara ambien untuk melindungi kelompok sensitif. Artinya, standar KLHK tahun 2021 harus direvisi kembali lantaran belum bisa melindungi kelompok sensitif.

“Kelompok sensitif apa nih, kelompok sensitif kalau saya bilang kan kelompok rentan ya. Rentan yang saya bilang ya tadi, anak-anak, ibu hamil, dan termasuk penyintas Covid. Juga kelompok rentan secara ekonomi sebenernya, ketika kualitas udara tidak sehat ini kan gak semua mampu beli masker, gak semua mampu beli air purifier. Artinya ya harus melindungi semua masyarakat itu, kelompok rentan itu,” pungkasnya kepada Tirto.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Fina Nailur Rohmah
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty

DarkLight