Advertorial

Jalan Panjang Mencari Metode Pengobatan Melawan Kanker

Ilustrasi Konsultasi Dokter Dengan Pasien. foto/istockphoto
Oleh: Advertorial - 29 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Banyak orang yang gentar dengan kemoterapi akhirnya memilih metode pengobatan lain untuk melawan kanker.
Pada 2007, Indonesia kehilangan salah satu penyanyi terbaiknya, Chrisye. Pelantun “Lilin-Lilin Kecil” itu menderita kanker paru sejak 2005. Ketika dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Chrisye sempat diberitahu bahwa ia akan menjalani pengobatan kemoterapi.

Meski menjalani kemoterapi, Chrisye enggan berhenti bernyanyi. Dia beberapa kali tampil di televisi. Dalam buku biografi Chrisye, The Last Words of Chrisye (2010), disebutkan bahwa efek kemoterapi itu tampak betul: “Wajah Chrisye yang membengkak, rambutnya yang habis....”

Hal serupa juga dialami oleh almarhum Sutopo Purwo Nugroho yang dikenal sebagai Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Sosok yang ramah dan sigap menjawab pertanyaan terkait bencana alam ini mengumumkan dirinya terkena kanker paru stadium IV pada 2018 silam.

Sama seperti Chrisye yang masih tetap menyanyi, Sutopo tetap aktif bekerja, memberi informasi, dan menjadi juru bicara BNPB, terutama di jagat Twitter. Sering pula Sutopo memberi kabar tentang pengobatan kanker yang ia derita, termasuk soal efek samping kemoterapi yang ia sebutkan, mulai dari mual, muntah, pusing, nafsu makan hilang, dada terasa sesak dan nyeri, dan lainnya.

Kemoterapi memang seperti pedang bermata dua. Ia adalah pengobatan yang hingga sekarang dianggap paling ampuh dalam membunuh sel kanker. Namun ia juga punya efek samping yang tidak kalah menyakitkan. Beberapa efek samping yang umum ditemui, antara lain: mual dan muntah, rambut rontok, kulit jadi kering, hingga masalah kesehatan mental.

Banyak orang yang gentar dengan kemoterapi akhirnya memilih pengobatan lain. Memang ada beberapa opsi lain untuk mengatasi kanker, salah satu yang sedang banyak dibicarakan adalah Imuno Onkologi (IO).

Mengenal Terapi Imuno Onkologi

Nama Imuno Onkologi (IO) ini mungkin masih terasa sedikit asing bagi sebagian besar orang, karena metode ini lebih banyak dikenal sebagai immunotherapy. Secara sederhana, IO adalah standar pengobatan terkini untuk pasien kanker paru stadium akhir, dengan cara memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Di Indonesia, metode pengobatan ini baru bisa diakses pada Agustus 2017, dengan akses dari Kementerian Kesehatan.

Lantas, bagaimana cara kerja metode IO ini?

Pada dasarnya, manusia punya sel imun yang secara otomatis akan membunuh sel kanker. Masalahnya: sel kanker ini kuat hingga bisa menghasilkan zat yang melemahkan respons imun. Dengan terapi IO, pelemahan sel imun ini bisa dicegah, sehingga sel imun bisa membunuh sel kanker.

Penelitian lain yang dilakukan oleh University of Wollongong, Australia, pada 2019 menyatakan angka median survival—angka tengah harapan hidup yang didapatkan oleh pasien ketika diberikan sebuah jenis pengobatan—pasien kanker paru stadium akhir yang menjalani terapi imuno onkologi mencapai 30 bulan, sekitar dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan kemoterapi.

“Sangat signifikan. Ada satu penelitian yang menunjukkan, pada penderita kanker paru stadium 4 dengan kadar PD-L1 di atas 50 persen, apabila diobati dengan obat ini, harapan hidup 5 tahun pasien yang tadinya kurang 5 persen, bisa berlipat hingga 5 kali lipat, menjadi 25 persen,” ujar dr. Johan Kurnianda, SpPD, KHOM, FINASIM, dokter bidang hematologi onkologi medik dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Senada dengan penjelasan dr. Johan, jurnal yang ditulis oleh Sun Wo Lim dan Myung-Ju Ahn, berkesimpulan bahwa imuno onkologi bisa jadi pilihan optimal untuk penanganan pasien yang punya PD-L1 tinggi.

Karena IO memanfaatkan imun di dalam tubuh, kualitas hidup pasien jadi lebih terjaga. Terapi ini disebut tidak menyebabkan kerontokan rambut, hanya sedikit menyebabkan perasaan mual atau muntah, serta tidak menghilangkan nafsu makan.

“Meski bukan berarti tidak ada efek samping, ya. Tapi profil efek sampingnya itu lebih bisa diterima oleh penderita ketimbang, misalkan, efek kemoterapi,” lanjut dr. Johan.

Studi yang dilakukan tujuh peneliti kanker juga menemukan hasil serupa. Dalam studi berjudul “Immuno-Oncology 101: Overview of Major Concepts and Translational Perspectives”, meski perlu ada peningkatan perkara optimalisasi, mereka juga menulis bahwa, “imunoterapi menunjukkan manfaat klinis yang mengesankan pada penderita kanker yang berbeda, dan para onkologis mulai menaruh perhatian pada Imuno Onkologi.”

Teknik pengobatan ini memang sangat diperlukan oleh penderita kanker di Indonesia, terutama pasien kanker paru. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, Indonesia menempati posisi ke 8 di Asia Tenggara sebagai negara dengan penderita kanker terbanyak dengan angka 136/100 ribu penduduk. Kanker paru adalah kasus terbanyak yang menimpa laki-laki Indonesia, yakni sebanyak 19,4 per 100 ribu penduduk, dengan rata-rata kematian 10,9 per 100 ribu penduduk.

Pahami kanker paru dan pengobatan Imuno Onkologi lebih lanjut dengan mengunjungi laman www.lawankankerdaridalam.com.

Artikel ini disponsori oleh MSD Indonesia
DarkLight