Jalan Hidup Si Gila Marcelo Bielsa

Oleh: Eddward S Kennedy - 19 Agustus 2018
Dibaca Normal 5 menit
Marcelo Bielsa membawa Salim Lamrani, seorang profesor sejarah, sebagai penerjemahnya.
tirto.id - Ketika Marcelo Bielsa tiba di Leeds United untuk menggantikan Paul Heckingbottom pada 15 Juni 2018, klub tersebut tidak akan pernah sama lagi.

Ini kali keenam Bielsa melatih klub Eropa. Espanyol (1998) menjadi pelabuhan pertama pelatih yang dijuluki El Loco (Si Gila) tersebut di Benua Biru. Berselang 13 tahun setelahnya, Bielsa malang melintang di berbagai klub: Athletic Bilbao (2011–2013), Marseille (2014–2015), Lazio (2016), hingga Lille (2017). Sejak pertama kali melatih pada 1990 hingga sekarang, total sudah ada 12 tempat, baik nasional maupun klub, lokal ataupun internasional, yang pernah dilatih Bielsa.

Curriculum Vitae (CV) Bielsa jelas tebal, hanya saja semua itu tak segendang sepenarian dengan raihan trofinya. Namun memang demikianlah Bielsa dipandang: ia masyhur bukan karena bolak-balik naik podium untuk mengangkat trofi, melainkan karena filosofi kepelatihannya. Itu yang membuat banyak pelatih hebat saat ini menyanjung namanya.

“Tak peduli berapa banyak gelar yang ia raih, bagi saya ia adalah pelatih terbaik di dunia," kata Pep Guardiola.

Pencapaian Bielsa dari segi trofi memang mengenaskan. Bersama tim nasional Argentina, misalnya, cuma mentok hingga medali emas Olimpiade 2004. Sementara bersama klub, ia hanya pernah meraih dua kali gelar Liga Argentina dan sebiji trofi Copa Libertadores dengan Newell's Old Boys (1991 & 1992). Gelar Liga Argentina juga pernah ia raih bersama Velez Sarsfield pada 1998.

Pelatih kelahiran 22 Juli 1955 itu lebih dikenal publik terkait metode kepelatihannya yang cenderung kontroversial karena dianggap terlalu menguras fisik pemain. Pendekatan taktiknya pun kerap nyeleneh, untuk tidak mengatakan “revolusioner”. Bielsa selalu memiliki racikan taktikal sendiri yang, bagi sebagian orang, dianggap sukses mengangkangi dikotomi tradisional Cesar Luis Menotti dan Carlos Bilardo, dua pelatih asal Argentina lain yang memiliki ideologi bersebrangan: sepakbola artistik dan pragmatis.

Ada dua ciri khas utama Bielsa: garis pertahanan tinggi dan man-to-man marking. Dalam laga apa pun, ia selalu menerapkan garis pertahanan tinggi, bahkan amat tinggi sejak menit awal. Ia tidak menyukai zonal marking, dan akan mendikte para anak buahnya untuk menempel ketat lawan satu per satu. Karena pendekatan ini, maka ketika timnya mendapatkan bola, para pemain diharuskan pula melakukan improvisasi.

Saat masih melatih Marseille, Bielsa bahkan dianggap melakoni laga tanpa formasi kala melawan Paris Saint-German di Ligue 1 pada 2015 silam. Di atas kertas, ia memang menerapkan 3-3-3-1 (3-3-1-3 saat menyerang), sementara PSG tampil menggunakan 4-3-3. Sejak menit awal, Bielsa sudah memberi instruksi kepada pemainnya untuk melakukan man-to-man marking yang ekstrem.

Dengan demikian, penempatan posisi para penggawa Marseille pun tergantung kepada tempat lawan mereka berada. Jeremy Morel dan Rod Fanni bertugas mengawal pergerakan Zlatan Ibrahimovic dan Edinson Cavani—keduanya dapat bertukar penjagaan sewaktu-waktu. Alaixys Romao terus memepet Javier Pastore. Mario Lemina menempel ketat Marco Verratti. Benjamin Mendy selalu mengikuti pergerakan Thiago Motta. Brice Dja Djedje kerap bertarung dengan Blaise Matuidi. Andre Ayew dan Florian Thauvin bertanggung jawab terhadap kedua bek sayap PSG. Sementara striker Andre-Pierre Gignac juga bekerja khusus untuk mengganggu Thiago Silva.

Melalui pendekatan tersebut, serangan selalu dilakukan dengan cepat disesuaikan posisi berdirinya lawan masing-masing. Kombinasi man-to-man marking dan improvisasi tersebut memperlihatkan hasilnya saat Marseille menyarangkan gol kedua ke gawang PSG. Kendati pada akhirnya justru PSG yang berhasil memenangkan laga dengan skor 3-2.

Menyaksikan bagaimana sepakbola dimainkan dalam taktik Bielsa memang menarik. Persoalannya, kegilaan semacam itu hanya akan berjalan jika memiliki skuat dengan fisik tangguh. Selain itu, tingginya garis pertahanan dan man-to-man marking ekstrem dalam taktik Bielsa kerap menimbulkan banyak celah di pertahanan yang amat rentan dieksploitasi lawan. Itulah kenapa efek positif taktik Bielsa hanya muncul sesekali atau pada awal musim digelar saja. Selebihnya: skuat kehabisan tenaga.

Di Leeds, sikap nyeleneh Bielsa kembali muncul. Namun bukan soal taktik atau metode latihan, melainkan ketika ia memilih seseorang bernama Salim Lamrani sebagai penerjemahnya.

Siapakah Salim Lamrani?

Dalam dunia sepakbola, Salim Lamrani bukan siapa-siapa. Namun justru karena itulah Le Monde, salah satu surat kabar di Perancis, menyebut Lamrani sebagai "the most overqualified man in Ligue 1". Pertanyaannya kemudian: Siapa Lamrani sebenarnya?

Lamrani adalah seorang seorang profesor sejarah dari Paris-Sorbonne University dengan bidang kajian Iberian and Latin American Studies. Di kampus tersebut dan di Universitas Reunion, dia mengajar mata kuliah Cuba-US Relation. Berbagai risetnya tentang Kuba juga sudah banyak yang dibukukan. Salah satu di antaranya adalah State of Siege: The US Economic Sanctions Against Cuba yang dianggap Noam Chomsky merupakan "studi mendalam terkait konsekuensi dramatis dari kebijakan embargo Amerika terhadap Kuba."

Lamrani juga menjadi anggota dari beberapa lembaga penelitian: Center for Interdisciplinary Research on the Contemporary Iberian Worlds (CRIMIC), Interdisciplinary Group on the Hispanic Antilles and Latin America (GRIAHAL), Center for Cultural History of Contemporary Societies (CHCSC), serta Academic Council of the Revista Latina de Comunicacion Social of the University of La Laguna.

Berbagai riset maupun esai-esainya juga banyak tersebar di berbagai situsweb. Ia juga merupakan penulis aktif di Voltaire Network Intenational, sebuah jejaring pers non-blok berisi ulasan-ulasan mengenai hubungan internasional yang dibuat oleh intelektual Prancis, Thierry Meyssan, dengan berlandaskan 10 prinsip dari Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955. Di sana, Lamrani sudah menulis sebanyak 193 artikel terhitung sejak 2005-2014. Ia pun juga memiliki kolom sendiri di Huffington Post dan Palestine-Solidarity.

Dengan segala pencapaiannya tersebut sebagai seorang intelektual muda, nama Lamrani cukup disegani di kalangan akademisi. Jurnalis Le Monde Diplomatique, Ignacio Ramonet, misalnya menganggap Lamrani sebagai “connoisseur terbaik dari Perancis yang dapat menunjukkan wajah Kuba saat ini.” Buku terakhir Lamrani, yang terbit 2016 lalu, juga merupakan penghormatan untuk mendiang Fidel Castro. Judulnya: Fidel Castro: Hero of The Underprivileged.

Infografik Marcelo Bielsa


Relasi Lamrani dan Bielsa sejatinya sudah terjalin sejak El Loco menangani Lille pada musim lalu. Namun kekaguman Lamrani dimulai ketika pelatih asal Argentina tersebut menangani klub idolanya, Marseille, musim 2014-2015. Ia bahkan sempat menulis sebuah esai panjang yang merangkum perjalanan El Loco ketika melatih Les Phocéens. "Marcelo Bielsa and The Marseilles Epic: A Factual Assessment".

Bagi Lamrani, Bielsa merupakan pelatih yang memiliki “komitmen total terhadap sepak bola, dan memiliki perilaku, sikap moral, serta etika yang sangat kuat dalam dunia yang diselewengkan uang dan kemunafikan.” Selain itu, ia juga menyebut bahwa Bielsa telah “memberikan atraksi sepakbola terindah sepanjang 20 tahun terakhir kepada sepakbola Perancis.”

Sebagai seorang idealis cerdas yang juga memiliki kemampuan multilingual, (Lamrani dapat berbicara dalam bahasa Inggris, Italia, Spanyol, dan Perancis), terutama juga lantaran fokus studi Lamrani berkiblat ke Amerika Latin, tak sulit bagi Bielsa untuk memutuskan bekerja sama dengan sang doktor. Maka sejak pekan ketiga ketika Lille menghadapi Caen dalam lanjutan Ligue 1 bulan Agustus 2017, Lamrani pun sudah tampak mendampingi Bielsa dalam tiap wawancara atau konferensi pers.

Faktor lain yang membuat Bielsa menjadikan Lamrani sebagai penerjemahnya adalah karena ia memang sangat menjaga betul apa yang akan diucapkannya kepada media asing. Hal tersebut sempat disinggung Romain Laplanche, penulis biografi Marcelo Bielsa, The Bielsa Mystery.

“Bielsa berbicara dengan sangat presisi dan tertata. Ia terbiasa dalam menggunakan retorika tertentu. Saya pikir, Bielsa ingin retorika ini dihormati, terutama ketika ia berbicara kepada pers," kata Laplanche.

Staf Lain Kepercayaan Bielsa

Selain Lamrani, Bielsa juga membawa beberapa stafnya yang lain. Beberapa nama terhitung baru, sementara sebagian lagi sudah bekerja sama dengannya sejak lama. Sebagaimana dilansir Yorkshire Evening Post, Mereka antara lain: Pablo Quiroga, Diego Reyes, Diego Flores, Carlos Corberan, Marcos Abad, Benoit Delaval, Ruben Crespo, dan Jorge Garcia Valera.

Pablo Quiroga adalah “orang lama” kepercayaan Bielsa. Ia sudah mendamping Bielsa sebagai asisten sejak El Loco menangani Cile pada 2007 dan juga ikut serta ke Athletic Bilbao. Sama-sama orang Argentina, Bielsa mendeskripsikan Quiroga sebagai “virtual billboard” karena kecerdasannya dalam menganalisis video pertandingan. Demikian pula dengan Diego Reyes yang juga menjadi asisten kepercayaan Bielsa sejak 2008. Keduanya disebut si pelatih berada dalam “lingkaran besi” timnya.

Diego Flores terhitung baru bekerja sama dengan Bielsa. Pria Argentina berusia 37 tahun tersebut bergabung ke dalam tim kepelatihan Bielsa di Marseille ketika ia masih menempuh studi di Irlandia. Kini di Leeds ia menjadi technical coach. Sementara Carlos Coberan merupakan pelatih U-23 musim lalu Leeds ketika Bielsa tiba. Pria asal Spanyol inilah yang menjadi jembatan penghubung para pemain muda agar dapat menjadi pilihan di tim pertama Leeds. Menguasai dua bahasa, Spanyol dan Inggris, Coberan dianggap cocok dengan filosofi kepelatihan Bielsa.

Marcos Abad sudah berada di Leeds sejak Thomas Christiansen menjadi pelatih menggantikan Darryl Flahavan. Ketika Christiansen dipecat lalu digantikan oleh Paul Heckingbottom—yang belakangan dipecat juga—Abad masih dipercaya untuk menjadi pelatih kepala penjaga gawang. Abad memang tidak pernah bermain secara profesional, tetapi ia memiliki lisensi UEFA Pro dan sempat menjadi pelatih penjaga gawang di Elche dan Middlesbrough.

Bielsa sudah merasakan kekaguman terhadap Benoit Delaval, seorang pelatih kebugaran Perancis, ketika ia menangani Lille. Delaval, yang juga lulusan sports science dari Clairefontaine, lembaga sepakbola nasional Perancis, sudah bekerja di Lille sejak 2006 dan tetap di sana ketika Bielsa dipecat Bielsa pada Desember lalu. El Loco kemudian menghubungi Delaval ketika ia menerima tawaran melatih Leeds.

Ruben Crespo juga merupakan nama baru yang dibawa Bielsa di sektor pelatih kebugaran. Sebelumnya ia bekerja untuk Hull City selama 18 bulan hingga akhir musim lalu. Crespo juga sempat bekerja di Thailand dan Rusia, di sebuah klub bernama Torpedo Avarmir. Lalu nama terakhir adalah Jorge Garcia Valera, seorang analis yang sebelumnya sempat bekerja sama dengan Diego Simeone di Atletico Madrid dan Levante.

Dengan berbagai warna baru yang dibawa Bielsa ke Leeds, patut dinanti apakah ia dapat membangunkan The Peacocks dari tidur panjang. Sejauh ini penampilan Leeds cukup impresif. Salah satunya terlihat ketika mereka mengalahkan Derby County 4-1, klub Inggris lain yang kini ditangani oleh Frank Lampard.

Baca juga artikel terkait LEEDS UNITED atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Eddward S Kennedy