IPO, Strategi Bisnis yang Sedang Dihindari Start-up

(Ilustrasi) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.
Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 1 September 2016
Dibaca Normal 2 menit
Dua dekade yang lalu, hampir seluruh perusahaan teknologi di dunia memiliki alur pengembangan bisnis yang jelas. Mulailah perusahaan dari nol, mengumpulkan dana sebanyak mungkin dari investor modal ventura, berkembang, dan go public secepat mungkin. Sayangnya, model demikian terasa usang di zaman sekarang.
tirto.id - Perusahaan yang ingin berkembang dan melakukan ekspansi, memiliki sejumlah opsi untuk pendanaannya. Go public atau menjual saham ke publik adalah salah satunya. Tak hanya itu, go public akan meningkatkan brand perusahaan, terutama di mata investor internasional.

Ketika nama perusahaan tercatat di bursa saham, kredibilitas perusahaan tersebut menjadi lebih terjamin. Ini karena mereka diwajibkan untuk membeberkan laporan keuangannya setiap triwulan. Semua bisa meneropong, melihat, menganalisa kondisi keuangannya. Jika ternyata bagus, perusahaan itu berpeluang untuk mendapatkan pendanaan lanjutan.

Namun opsi demikian bukan lagi favorit, terutama untuk perusahaan-perusahaan start-up besar asal Amerika Serikat. Start-up dengan valuasi tertinggi di dunia, Uber, boleh dikata "memimpin" pergerakan tren ini.

Perusahaan-perusahaan start-up saat ini telah diguyur dengan banyak sokongan dana dari perusahaan-perusahaan pemodal privat, hal yang membuat valuasi mereka membumbung tinggi. Hasilnya, banyak dari perusahaan tersebut yang kemudian menjadi ragu-ragu untuk melakukan IPO. Ketakutan valuasi tersebut jeblok akibat dari reaksi para investor publik yang kritis menjadi alasan utama mereka.

"[Hal itu] terutama sebagai akibat dari kondisi pasar saat ini yang telah menjadi jauh lebih konservatif dalam beberapa tahun terakhir," menurut Vineet Jain, pendiri perusahaan file sharing Egnyte, seperti dikutip dari Techworld.

Hal ini sudah dibuktikan dari jebloknya nilai saham perusahaan teknologi dunia dengan nama yang cukup dikenal seperti Zynga (turun 75 persen dari harga IPO-nya), Twitter (turun 30 persen), dan Groupon (turun 85 persen), seperti dikutip dari Forbes. Perusahaan-perusahaan tersebut pada awalnya memang menikmati peningkatan nilai saham yang luar biasa beberapa waktu setelah IPO. Namun, nilainya kemudian terus menukik turun di pasar saham yang kejam.

Hingga pertengahan tahun ini, menurut data dari Bloomberg hingga 27 Juli, hanya tiga perusahaan teknologi yang disokong oleh perusahaan pemodal ventura mengambil langkah go public di AS, yakni Acacia Communications Inc., Twilio Inc. and Impinj Inc. Secara total, ketiganya berhasil menghimpun dana sebesar $346,3 juta.

Menurut penelitian oleh profesor keuangan Jay Ritter dari University of Florida, usia rata-rata perusahaan-perusahaan teknologi yang melakukan IPO pada tahun 2014 dan 2015 lebih lama jika dibandingkan dengan tahun 1999, yang merupakan periode booming perusahaan dot-com.

Pada 2014 dan 2015, usia rata-rata perusahaan yang melakukan IPO adalah 11 tahun, sementara pada masa booming perusahaan dot-com, usia rata-ratanya adalah 4 tahun.

Sementara itu, berdasarkan laporan dari para auditor PricewaterhouseCoopers (PwC), total terdapat 118 perusahaan teknologi yang melakukan IPO pada tahun 2014. Jumlah tersebut kemudian jatuh menjadi 92 perusahaan di tahun 2015, dan diprediksi tren penurunan itu akan berlanjut di tahun 2016.

Di AS, jumlah perusahaan teknologi yang melakukan IPO di tahun 2015 turun hampir separuhnya menjadi 31 perusahaan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni sebanyak 56 perusahaan.



Chief Executive Officer (CEO) Uber Travis Kalanick bahkan secara terang-terangan mengatakan jika ia sebisa mungkin akan menunda Uber untuk go public. Seperti dikutip dari Business Insider, Travis mengatakan bahwa Uber mungkin akan go public pada suatu saat dalam periode 10 tahun ke depan.

"Kadang-kadang mereka [investor] bertanya [mengenai IPO]. Apa yang saya katakan kemudian adalah kami memiliki kewajiban untuk pada akhirnya menemukan likuiditas kepada investor. Tapi hal yang lebih penting adalah kita juga memiliki ribuan karyawan yang memiliki saham [yang memberikan] darah, keringat, dan air mata mereka untuk membuat Uber sebuah perusahaan besar," kata Travis.

"Jadi saya mengatakan bahwa kita akan melakukan IPO selambat-lambatnya semanusiawi mungkin. Momen itu akan datang satu hari sebelum karyawan dan orang lain penting saya lainnya datang ke kantor saya dengan garpu rumput dan obor. Kami akan IPO satu hari sebelum itu. Apa kau mengerti?"

Travis meyakini, jika sebuah perusahaan hanya diperbolehkan IPO jika bisa mempertahankan struktur yang tidak birokratis.

Senada dengan Travis, CEO InsideSales.com Dave Elkington mengatakan terdapat batasan-batasan yang nantinya akan dijumpai oleh perusahaan-perusahaan start-up ketika mereka memutuskan untuk go public.

Elkington mengatakan, dengan IPO, perusahaan kemudian akan dipaksa untuk masuk dalam "pelaporan kuartalan yang terus berulang," hal yang menurutnya akan membatasi kemampuan perusahaan untuk membuat keputusan jangka panjang, demikian seperti dikutip dari Techworld.

Selain itu, situasi saat ini juga membuat start-up tidak melakukan IPO. Elkington mengatakan, saat ini perusahaan-perusahaan tersebut sudah dapat mengumpulkan milyaran dana tanpa perlu go public. Sementara untuk penerimaan pasar dan merek, ia berargumen bahwa perusahaan-perusahaan tersebut sudah menjadi pembicaraan oleh masyarakat di dunia.

Sebagai catatan, start-up global semacam Uber hingga saat ini telah berhasil mengumpulkan dana sebesar $12,5 miliar hanya dari investor modal ventura dan perusahaan-perusahaan besar.

Di sisi lain, perlu diingat bahwa banyak pula start-up yang saat ini dijual akibat kehabisan dana setelah "membakar" modal mereka dan tidak dapat menemukan lagi investor yang mau menanamkan modalnya. Akuisisi Wal-Mart Stores Inc. terhadap Jet.com, sebuah start-up e-commerce yang memiliki ambisi besar untuk menantang Amazon.com, senilai $3,3 miliar beberapa waktu yang lalu adalah bukti konkritnya.

IPO saat ini memang bukan menjadi pilihan yang utama bagi para pemain dalam industri start-up teknologi. Hal ini mengingat pasar modal adalah tempat di mana profitabilitas perusahaan adalah yang utama, dan bukan tempat di mana panji "pertumbuhan perusahaan adalah segalanya" yang sering menjadi pijakan utama start-up teknologi berlaku.

Namun, mengingat persaingan untuk memperebutkan investor semakin sengit dan semakin pilih-pilihnya para investor tersebut untuk menanamkan modal mereka pada start-up teknologi, maka mau tidak mau, IPO tetap akan menjadi jalan terakhir yang dapat ditempuh, secemerlang apapun start-up teknologi tersebut.

Baca juga artikel terkait TEKNOLOGI atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight