iPhone 12 Rilis: Tenang, Ponsel Lawas Anda Baik-Baik Saja

Iphone 12 Pro. foto/Apple.com
Oleh: Ahmad Zaenudin - 16 Oktober 2020
Dibaca Normal 5 menit
Iphone 12 baru saja dirilis. Sama seperti ponsel-ponsel Android anyar lainnya, tak ada faktor "wow".
“Hari ini adalah awal dari era baru iPhone,” ujar Tim Cook, Chief Executive Officer Apple dalam peluncuran iPhone 12, tepat pukul 00.00, Rabu (13/10/2020). Penguasa Apple yang naik tahta pada 2011 ini menyatakan versi paling baru iPhone, iPhone 12, akan menggunakan standar telekomunikasi seluler tertinggi saat ini, 5G. Teknologi 5G, terang Cook, “akan menghadirkan level kekuatan baru untuk mengunduh dan mengunggah (konten), streaming video berkualitas tinggi, dan video game yang lebih responsif.”

VP iPhone Product Marketing Kaiann Drance menambahkan, Apple “merancang ulang (iPhone) guna mengemas teknologi-teknologi baru ke dalam bentuk yang lebih kecil.” iPhone 12 memang memukau dari spesifikasinya. Semua varian iPhone 12, yakni iPhone 12, iPhone 12 mini, iPhone Pro, dan iPhone Pro Max, menggunakan prosesor terbaru dan tercepat saat ini, A14 Bionic, yang diklaim mengandung 11,8 miliar transistor. Lalu, untuk dua varian “profesional”, Apple menyematkan sistem tiga kamera, yang terdiri dari lensa ultrawide, wide, dan telephoto dengan masing-masing memanfaatkan resolusi sebesar 12 megapiksel. Untuk menghasilkan foto/video yang memukau di malam hari selayaknya kamera profesional, Apple menyematkan Lidar pada dua varian tersebut.

Merujuk laporan Brian X. Chen untuk The New York Times, sistem kamera profesional ala iPhone 12 merupakan bagian dari falsafah terbaru dunia fotografi--khususnya fotografi ponsel--bernama computational photography. Karena memiliki ruang terbatas, produsen ponsel tidak mungkin menyematkan sensor gambar dan sistem lensa seperti yang digunakan DSLR ataupun mirrorless. Maka, untuk meminimalisir ketertinggalan soal kualitas dengan DSLR, produsen ponsel mengalihkan proses penciptaan foto/video kepada komputer, kepada prosesor yang tersemat di ponsel, dan kepada algoritma khusus yang ditanam. Untuk iPhone 12 Apple, Apple mengalihkan proses penciptaan foto/video pada Smart HDR 3 yang tertanam di A14 Bionic. Plus, tentu saja, Lidar.


Sebagaimana disinggung Cook, semua varian iPhone 12 menggunakan teknologi 5G di spektrum mmWave dan sub-6Ghz.

Tentu, untuk dapat merasakan keunggulan iPhone 12, ada harga tak murah yang harus dibayar. Varian termurah iPhone 12 dibanderol seharga $829. Varian terendah iPhone 12 Mini seharga $729. Varian termurah iPhone 12 Pro seharga $999. Dan varian terendah iPhone 12 Pro Max seharga $1.099. Harga yang terhitung sangat mahal untuk sebuah ponsel, terutama karena tahun depan Apple sangat mungkin meluncurkan kembali iPhone yang lebih canggih.

Sesungguhnya, jika ponsel yang Anda miliki saat ini masih rutin menerima pembaruan, khususnya pembaruan sistem operasi dan pembaruan aplikasi, atau paling tidak “security patch”, tidak ada alasan untuk membeli iPhone 12 atau ponsel-ponsel terbaru dan tercanggih lain dari berbagai produsen. Pun, karena senjak generasi pertama iPhone dan generasi pertama ponsel Android, ponsel-ponsel yang dirilis hanya menyajikan “upgrade” tanpa ada sesuatu yang benar-benar “wow”, produsen ponsel tak seharusnya menggebu-gebu merilis ponsel baru--sebagaimana yang dilakukan Google, pemilik Android sekaligus lawan Apple, pada 2020 ini.

Ketika Google merilis Pixel 5, yang muncul adalah produk yang biasa-biasa saja. Bukan dalam artian jelek, melainkan bagus tapi minim faktor "wow".



Saatnya Berkata Cukup

“Benih Google sebagai perusahaan ponsel,” tulis Steven Levy dalam In The Plex: How Google Thinks, Works, and Shape Our Lives (2011), “muncul tak lama selepas perusahaan ini pindah kantor dari Palo Alto ke Mountain View pada bulan Agustus 1999 silam”. Setelah ditinggalkan Google, sebuah perusahaan baru menempati kantor lama raksasa mesin pencari tersebut. Perusahaan baru bernama Danger itu didirikan mantan pegawai Apple bernama Andy Rubin.

Melalui Danger, Rubin menciptakan Sidekick, sebuah ponsel yang menurut Levy bisa dianggap sebagai smartphone karena memiliki IQ sedikit lebih tinggi dibandingkan ponsel biasa. Kala itu, di saat dunia masih terpaku dengan ponsel yang hanya bisa digunakan untuk melakukan panggilan telepon dan SMS, Sidekick melangkah sedikit lebih jauh. Sidekick, terutama, diciptakan untuk dapat melakukan percakapan berbasis instant messaging, Yahoo Messenger misalnya. Dan sebagaimana namanya, keyboard fisik akan muncul tatkala bagian samping ponsel ini di-”kick”. Terang Rubin, karena “teknisi-teknisi Danger menyukai Google,” Danger membenamkan sistem pencarian Google pada Sidekick.

Dalam kunjungannya ke Stanford University di suatu hari di tahun 2002, Rubin memperkenalkan Sidekick ke khalayak umum. Yang unik, salah satu yang sangat tertarik dengan Sidekick adalah sosok bernama Larry Page, satu dari dua pendiri Google. Kembali merujuk Levy, Page menyebut Sidekick “keren.”

Tentu, karena saat itu Page belum kepikiran soal ponsel, ia tak melakukan aksi bisnis apapun untuk Sidekick. Di sisi lain, beberapa tahun selepas Page menyebut produk bikinan Danger itu “keren,” Microsoft mengakuisisi Danger. Dengan kekuatan Danger, Microsoft kemudian meluncurkan Microsoft Kin--satu dari sekian banyak artefak kegagalan Microsoft di ranah ponsel.

Usai menjual Danger pada Microsoft, Rubin yang seorang teknisi dan pebisnis kemudian mendirikan perusahaan baru: Android. Namun, jika melalui Danger ia melahirkan ponsel utuh, software dan hardware, di Android Rubin melakukan strategi berbeda. Rubin, melalui Android, hanya akan menciptakan sistem operasi bagi ponsel, bukan ponsel utuh. Pikir Rubin, Android bisa menjadi solusi bagi produsen ponsel atau telekomunikasi yang ingin mengembangkan sistem operasinya sendiri. Produsen ponsel fokus mengembangkan ponsel di sisi hardware, Rubin di sisi software. Dan untuk menarik minat, Rubin memutuskan memberikan Android secara cuma-cuma, tanpa ada biaya lisensi.


Lantas, jika Rubin menggratiskan Android, bagaimana ia memperoleh untung? Sederhana, Rubin akan mempraktikkan cara kerja Red Hat atau Canonical. Kedua perusahaan tersebut memberikan cuma-cuma distro linux mereka, Red Hat dan Ubuntu, tetapi mematok tarif untuk dukungan teknis dan lain hal.

Karena hanya menciptakan sistem operasi, bukan ponsel utuh, Rubin perlu banyak dukungan, termasuk dukungan dari produsen ponsel untuk mau menggunakan Android, serta dukungan keuangan. Awalnya Rubin sukses mengamankan kerjasama dengan HTC. Sayangnya, HTC hanya berjanji untuk mau menggunakan Android, bukan untuk memberikan dukungan dana. Walhasil, pada 2004 Rubin terbang ke Korea Selatan untuk bertemu Samsung dan melobi sokongan dana.

Tapi, keberuntungan belum memihak Rubin. Samsung, terang Levy, menyebut kerja Rubin untuk merealisasikan sistem operasi bernama Android terlalu ambisius. “Perusahaanmu yang hanya punya delapan karyawan ini terlalu besar khayalannya," kata Samsung. "Kami saja, yang punya dua ribu karyawan, tidak punya khayalan sebesar itu.”

Tak putus asa, Rubin mengunjungi Larry Page.

Rubin sesungguhnya hanya ingin meminta Google mau menjadi mesin pencari bawaan di Android, sebuah kerjasama bisnis yang tak berbeda jauh seperti yang dipraktikkan Google dengan Mozilla Firefox. Ketika Google setuju menjadi mesin pencari bawaan di browser Firefox, Mozilla memperoleh uang yang tak sedikit. Tak dinyana, sesampainya di rumah, Rubin menerima email dari Page: “Bagaimana jika Google membeli Android?”

Di bulan Juli 2005, Android resmi menjadi bagian Google.

Berkat tangan Google, masalah Rubin terkait dukungan dana dan dukungan produsen agar mau menggunakan Android teratasi. Usai mengucurkan dolar tak terhingga, Google membentuk Open Handset Alliance--suatu kesepakatan dari banyak produsen ponsel untuk mau menggunakan Android, yang lucunya melibatkan Samsung.

Lantas, mengapa banyak produsen ponsel mau bergabung dalam Open Handset Alliance? Alasannya sederhana, Eric Schmidt, CEO pertama Google, berujar bahwa “Google tidak akan masuk ke bisnis ponsel (sebagai pencipta hardware), tetapi kami hanya memastikan bahwa Google ada di ponsel-ponsel (yang menggunakan Android).”

Awalnya, tim Android yang dikepalai Rubin hendak menciptakan sistem operasi ponsel berkode “Sooner,” suatu sistem operasi yang dirancang untuk dapat bekerja di ponsel-ponsel serupa Sidekick atau BlackBerry yang memiliki keyboard fisik. Namun, di Januari 2007, Apple mendefinisikan ulang apa yang disebut ponsel melalui iPhone. Maka, “Sooner” akhirnya menjadi “never”, dan Android beralih menciptakan sistem operasi berkode “Dream”. Ya, “Dream” memang menjiplak iOS, sistem operasi yang tersemat pada iPhone.

Akhirnya, di bulan September 2008, Android mengudara. Ponsel bikinan HTC bernama HTC Dream menjadi ponsel Android pertama di dunia.

Di tahun-tahun awal kemunculan Android, Google selalu berkata bahwa mereka tidak akan menciptakan ponsel utuh, ponsel Google, atau Gphone. Sayangnya, karena Android dapat digunakan produsen manapun, muncul ponsel-ponsel Android yang biasa-biasa saja, bahkan cenderung busuk. Bahkan, ponsel-ponsel Android acap kali disebut sebagai “iPhone bagi rakyat miskin.” Tak ingin terhina, Google akhirnya menciptakan Nexus. Uniknya, proses penciptaan Nexus dialihkan ke rekan-rekan Google yang bergabung dalam Open Handset Alliance. Pemberitaan Wired pada 2009, yang mengutip sumber internal HTC, menyebutkan kerjasama dengan HTC (dan produsen lain) untuk membuat Nexus bertujuan agar para produsen ponsel Android tahu bagaimana seharusnya membuat ponsel.

Nexus One adalah ponsel Android pertama Google. Ponsel ini mengusung SoC Snapdragon berkekuatan 1 GHz, dengan layar berukuran 480 x 800 piksel dan RAM sebesar 512 megabyte. Kala pertama meluncur, Januari 2010, Nexus One dijual seharga $530 atau $180 versi kontraknya.

Lagi-lagi, karena diproduksi produsen yang berbeda-beda, Nexus kurang greget dibandingkan iPhone--dan penjualannya mengecewakan. Akhirnya, Google meluncurkan ponselnya sendiri, Pixel.

Pixel merupakan ponsel yang dibuat Google untuk menghadapi iPhone--juga varian-varian tercanggih Android dari berbagai produsen, khususnya Samsung. Lihatlah, pada Pixel generasi pertama (2016), Google membenamkan Snapdragon 821. Lalu, pada Pixel 2 (2017) Google menggunakan Snapdragon 835, dan menggunakan Snapdragon 845 dan Snapdragon 855 pada Pixel 3 (2018) dan Pixel 4 (2019), alias prosesor tercanggih di waktu itu. Tak ketinggalan, Google pun memasukkan layar, sistem kamera, serta teknologi-teknologi tercanggih lainnya. Masalahnya, lagi-lagi iPhone dan Android pasca-generasi pertama memang hanya berkutat pada “upgrade”. Plus, merujuk data Statista, orang-orang di seluruh dunia rata-rata mengganti ponsel mereka dalam tempo 28,1 bulan.

Ponsel lama, meskipun tak semanis ponsel baru dan telah memiliki banyak goresan karena usia, memang baik-baik saja, khususnya jika tetap masih memperoleh pembaruan sistem operasi atau paling tidak security patch.

Akhirnya, sebagaimana ditulis Geoffrey A. Fowler untuk The Washington Post, “Google telah memutuskan untuk berhenti berusaha sekuat tenaga dengan smartphone terbarunya”. Google hanya menggunakan Snapdragon 765G sebagai prosesor Pixel 5 yang baru keluar bulan lalu. Ini versi yang terbilang “uzur” jika dibandingkan dengan flagship lain yang rilis pada tahun yang sama.

Prosesor tercanggih, sistem kamera memukau, ataupun memiliki layar ganda untuk ponsel memang memikat. Masalahnya, sehebat apapun ponsel, kebanyakan manusia menggunakannya untuk kebutuhan yang biasa-biasa saja. Selain untuk menelepon dan mengirim pesan, ponsel digunakan untuk memperoleh hiburan. Entah untuk menonton video di Youtube, Netflix, atau mendengarkan musik di Spotify. Ya, ponsel, merujuk Alan J. Reid dalam The Smartphone Paradox: Our Ruinous Dependency in the Device Age (2018) memang menjadi “kepanjangan tangan manusia saat ini”. Tapi lagi-lagi ponsel hanya digunakan untuk keperluan-keperluan mendasar: menulis catatan, membaca berita, pengingat jadwal, kebutuhan layanan keuangan, dan lain sebagainya. Meskipun saat ini banyak produsen ponsel menggunakan embel-embel “profesional” bagi ponsel ciptaan mereka, toh kerja-kerja profesional, khususnya yang terkait dengan komputasi, sukar dilakukan hanya dengan menggunakan ponsel.

Ya, kamera ponsel memang semakin canggih. Namun, sebagaimana ditulis Sam Kieldsen untuk Wired, kamera yang benar-benar profesional (DSLR atau mirrorless) tetap menjadi senjata utama kalangan “profesional”. Ya, ponsel-ponsel canggih hari ini memang dapat melakukan machine learning, tetapi IBM Watson tetap lebih mempesona untuk melakukan proses komputasi yang rumit. Dan meskipun iOS merupakan “anak kandung” dari iOS, Xcode sebagai alat pembuat aplikasi bagi iPhone atau iPad, sayangnya, hanya ada di dalam tubuh komputer Mac.

Terkadang ponsel, tutur Reid dengan bijak, "memang dapat melakukan apa yang kita perintah. Namun, paling banyak, manusia memang harus beradaptasi dengan ponsel yang ada di genggamannya saat ini.” Ponsel yang saya, Anda, atau siapapun genggam saat ini sejujurnya memang masih baik-baik saja untuk tetap digunakan. Produsen-produsen ponsel memang harus berani berkata “cukup” jika tak punya sesuatu yang benar-benar “wow” untuk disajikan untuk pelanggannya.

Baca juga artikel terkait IPHONE 12 atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight