Imlek 2018: Tim Gegana Sterilisasi Vihara dan Klenteng di Mataram

Oleh: Alexander Haryanto - 15 Februari 2018
Dibaca Normal 1 menit
Usai melakukan sterilisasi, pihak kepolisian menempatkan sejumlah personel pengamanan di setiap vihara yang ada di Kota Mataram.
tirto.id - Vihara dan klenteng yang menjadi tempat ibadah etnis Cina dalam merayakan Tahun Baru Imlek di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) dipastikan aman karena telah disterilisasi oleh Tim Gegana.

Kasubbag Humas Polres Mataram AKP I Made Arnawa mengatakan bahwa Tim Gegana telah selesai melakukan sterilisasi.

"Ini (Klenteng Po Hwa Kong) tempat terakhir, semua steril," kata Arnawa di Klenteng Po Hwa Kong di Ampenan, Kamis (15/2/2018).

Sebelumnya, Tim Gegana wilayah itu telah melaksanakan sterilisasi di tiga vihara antara lain, Vihara Sanata Dharma Maitreya di Jalan Rajawali II, Cakranegara Barat, Vihara Kong Tee di Jalan Kenari Raya, Sweta, dan Vihara Avalokitesvara, Jalan Ahmad Yani, Selagalas.

"Jadi ada empat titik yang menjadi lokasi kegiatan persembahyangannya, satu di Ampenan, tiga di wilayah Cakranegara," ujar Arnawa.

Usai melakukan sterilisasi, pihak kepolisian menempatkan sejumlah personel pengamanan di setiap vihara yang ada di Kota Mataram. Termasuk di salah satu vihara yang menggelar tanpa kemeriahan Tahun Baru Imlek, yakni di Vihara Vinalakirthi, Jalan Lalu Mesir, Abian Tubuh.

"Meskipun di Vihara Vinalakirthi hanya menggelar persembahyangan biasa saja, tapi kita tetap melakukan penjagaan," ucap Arnawa.


Di tempat terpisah, Klenteng Pasar Gede Solo atau Klenteng Tien Kok Sie sudah melakukan persiapan jelang Tahun Baru Imlek 2018 yang tiba pada Jumat (16/2/2018).

Beberapa perlengkapan yang disiapkan di antaranya lilin, dupa, dan berbagai macam buah segar. Masing-masing dari perlengkapan ibadah tersebut memiliki makna sendiri.

"Kalau lilin artinya untuk penerangan dan ini bermakna agar kita terus diberikan penerangan ketika menjalani kehidupan, selanjutnya kalau dupa bertujuan untuk menambah konsentrasi ketika berdoa," kata Pengurus Klenteng Tien Kok Sie, Cakra Wibawa, di Solo, Jawa Tengah.

Sedangkan buah, kata dia, biasanya umat yang datang untuk beribadah ke klenteng membawa berbagai macam buah dengan warna yang berbeda, di antaranya apel yang mewakili warna merah, pir warna putih, dan jeruk warna kuning.

"Paling tidak ada lima warna, buahnya bisa berbagai macam. Tetapi ada yang membawa satu buah kegemaran keluarga, selanjutnya dibawa pulang untuk dinikmati bersama. Maknanya agar keluarga tersebut diberikan keselamatan," katanya.


Pihaknya pun memastikan kesiapan menerima kunjungan umat dari dalam maupun luar kota pada peringatan Tahun Baru Cina 2018.

"Kami sudah mempersiapkan diri sejak dua minggu yang lalu, mulai dari membersihkan klenteng hingga mempersiapkan perlengkapan ibadah umat. Biasanya umat mulai banyak datang malam ini [Kamis] dan Jumat pagi," kata Cakra.

Baca juga artikel terkait IMLEK atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Sosial Budaya)

Sumber: antara
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Alexander Haryanto
a