Mozaik

Rentang Panjang Jejak Politik Berdarah Henry Kissinger

Kontributor: Chris Wibisana, tirto.id - 3 Des 2023 00:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Henry kombinasi sempurna seseorang yang menguasai teori realpolitik, sekaligus menggenggam kekuasaan untuk bereksperimen demi kepentingan nasional AS.
tirto.id - Satu hal yang tak pernah lekang di ingatan saya dari mata kuliah Dinamika Hubungan Internasional Pasca 1945 adalah intermeso dosen saat membawakan materi tentang Perang Vietnam.

"Dengan masyarakat yang semakin cepat melupakan, cucu-cucu kalian barangkali hanya akan mengingat Perang Vietnam dalam tiga nama: Ho Chi Minh, Kissinger, dan Rambo," ujarnya.

Tiga nama itu memang menggambarkan Perang Vietnam secara singkat, seperti kutipan Anthony Bourdain dalam A Cook’s Traveler (2001) yang menegaskan sentralitas Kissinger di tengah konflik paling berdarah setelah Perang Dunia II.

"Lihatlah apa yang dilakukan oleh Henry Kissinger di Kamboja, dan Anda akan bernafsu memukulinya sampai mati dengan tangan telanjang. Saksikan apa yang dia kerjakan di sana, dan Anda tak akan pernah paham bagaimana dia tidak diseret ke [Pengadilan HAM Internasional di] Den Haag di sebelah [Slobodan] Milosevic," tulisnya.

Bourdain mengacu pada "pengeboman rahasia" yang dilakukan Kissinger di Kamboja pada 1969, mendahului invasi Amerika Serikat setahun berikutnya. Sampai hari ini, metode itu adalah salah satu cara paling edan dalam sejarah perang untuk mengorek musuh keluar dari kantong-kantong persembunyian di perbatasan Vietnam-Kamboja.

Hasilnya, Viet Cong tidak ketemu. Dengan perintah "Tembak apa saja yang melayang atau bergerak", sedikitnya 50 ribu jiwa rakyat sipil melayang menyusul krisis politik di Kamboja yang mengantarkan Khmer Merah merebut kekuasaan dari Pangeran Norodom Sihanouk.

Nama Kissinger terpatri dalam perang saudara yang memisah Pakistan dengan Bangladesh pada 1971. Dia pula yang mengusahakan normalisasi hubungan diplomatik AS–Tiongkok pada 1972. Juga melakukan diplomasi ulang-alik Yerusalem-Damaskus sebanyak 30 kali selama 19 hari Perang Yom Kippur 1973, yang memungkinkan Israel selamat dari kehancuran lantaran diterkam negara-negara Arab.

Kissinger juga memberikan lampu hijau atas nama Gedung Putih kepada Pemerintah Indonesia untuk melancarkan invasi ke Timor Leste pada 1975. Namanya terasosiasi dengan darah jutaan orang tak bersalah demi hegemoni Amerika Serikat di kawasan Asia-Afrika, mandala perebutan pengaruh di tengah kecamuk Perang Dingin.

Ia adalah landasan pacu yang memungkinkan hegemoni Amerika Serikat meluncur cepat dan mulus ke atas panggung politik internasional. Telapak tangannya yang berdarah-darah ikut menulis ulang sejarah dunia sambil memastikan ode kepahlawanan AS tercetak di setiap halamannya.


Ketelatenan Seorang Pemanjat

Heinz Alfred lahir dari pasangan Louis dan Paula Stern Kissinger di Furth, sebuah kota di Jerman yang tidak lebih luas dari Karawang, pada 27 Mei 1923. Ia yang sejak kecil menunjukkan bakat cemerlang di kelas sebagai kutu buku dan gila sepak bola, dibesarkan dalam tradisi religius Yahudi yang mengedepankan kesederhanaan dan kerja keras.

Latar belakang ini lebih dari cukup untuk menyeret keluarga Kissinger ke tubir penderitaan saat antisemitisme mulai merebak di Jerman setelah Adolf Hitler dan Partai Buruh Nasional Sosialis menjadi pemenang pada Pemilu 1933.

"Dr. Kissinger adalah seorang yang kuat, tetapi Nazi tetap sanggup meremukkan jiwanya," ujar Fritz Kraemer, karib Kissinger sekaligus mentor intelektual pertamanya, seperti dikutip Walter Isaacson dalam Kissinger: A Biography (2005).

Godam antisemitisme mulai menghantam keluarga Kissinger saat Hukum Nuremberg diberlakukan pada 1935. Hukum yang mencabut hak kewarganegaraan semua orang Yahudi ini memperparah perundungan yang telah diterima Heinz kecil, kali ini dengan menjadikan ayahnya pengangguran.

Masa pubertas Heinz dilalui dengan menelan semua persekusi, sampai ibunya berhasil menghubungi seorang sepupu di New York yang menyediakan tumpangan bagi mereka di Upper West Side, Manhattan.

Dengan sedikit perabot dan satu bagasi, keluarga ini melarikan diri pada 1938 dengan kapal Prancis, Ile de France, beberapa bulan sebelum Kristallnacht memerangkap semua orang Yahudi yang tak sempat bermigrasi untuk memasuki neraka kesengsaraan.

Di Amerika Serikat, Heinz bersalin nama menjadi Henry. Pada usia 16, ia mulai bekerja sebagai buruh pabrik krim cukur sambil mengenyam pendidikan menengah di sekolah malam.

Setahun kemudian, ia mendaftar ke City College New York yang tidak memungut uang sekolah, dengan capaian nilai tertinggi di kelas. Sebelum kariernya sebagai akuntan mapan, ia telah dikirim wajib militer, dan ditempatkan di Divisi Infanteri ke-84 di Camp Claibourne, Louisiana.

"Saat Divisi 84 dimobilisasi ke Jerman dalam Pertempuran Bulge, ia (Henry) mendapati dirinya berhasil menaklukkan orang-orang yang dulu mempersekusi dan mengirim keluarganya ke pengasingan," tulis Thomas W. Lippman dalam obituari Kissinger di The Washington Post, 30 November 2023.

Kemenangan dalam pertempuran itu, juga keberhasilan divisinya melucuti senjata Gestapo, membuat Henry diganjar Medali Perunggu dan naik pangkat menjadi sersan.


Setelah menggantung seragam U.S. Army dan kembali menjadi warga sipil pada 1947, Henry diterima di Harvard University. Di Kampus ini ia bertemu dengan William Yandell Elliott, profesor ilmu sejarah yang membukakan jalan bagi Henry muda untuk mengeksplorasi bakat intelektualnya.

Dengan merintis majalah beroplah kecil, Confluence, sebagai forum diskusi masalah luar negeri yang memikat para akademia, ditambah satu artikelnya yang terbit di majalah bergengsi Foreign Affairs, Henry menjadi bintang baru dalam semesta akademia ilmu politik Amerika.

Digembleng Elliott dengan dasar-dasar pemikiran ilmu politik dan sejarah, Henry menulis skripsi berjudul "The Meaning of History" sepanjang 383 halaman—yang hingga bertahun-tahun disebut "Aturan Kissinger", yakni panjang maksimal sebuah skripsi bagi mahasiswa strata satu.

Sempat bekerja sebagai konsultan pemerintah di Perang Korea, Henry kembali ke kampus untuk mengejar gelar doktor (Ph.D) yang ia raih pada 1954.

Disertasinya yang berjudul "A World Restored" dibukukan pada 1957. Sampai hari ini menjadi salah satu buku klasik mahasiswa Hubungan Internasional seluruh dunia, terutama untuk memahami logika balance of power dan realpolitik dalam konteks Perang Dingin.

Setelah bertahun-tahun melanglang buana, Henry akhirnya kembali ke New York sebagai cendekiawan muda dan cemerlang yang diperbantukan dalam Council on Foreign Relations. Ia bergabung dalam sebuah kelompok kerja yang ditugaskan mengkaji pengaruh senjata nuklir terhadap kebijakan luar negeri.

Produk akhir pokja ini adalah sebuah buku setebal 450 halaman bertajuk Nuclear Power and Foreign Policy yang terbit pada 1957. Buku ini menggebrak pasar dan menjadi best-seller dengan caranya sendiri: memantik diskusi tentang senjata nuklir, sekaligus merekomendasikan cara terbaik untuk mencegah perang ialah menggentarkan lawan dengan ancaman "perang nuklir terbatas".


Dari Harvard ke Washington

Selagi kariernya moncer sebagai akademikus, reputasi Henry berdengung hingga keluar menara gading. Ia diundang Nelson Rockefeller, anggota Partai Republik sekaligus penasihat Presiden Dwight D. Eisenhower untuk masalah-masalah luar negeri. Pendapat-pendapatnya, yang disampaikan tertulis maupun di acara berita televisi, disimak dan dinantikan.

Citranya mulai terbangun sebagai cendekiawan muda terbaik yang mampu dihasilkan generasi pasca-perang. Rockefeller yang di kemudian hari menjadi Wakil Presiden Gerald Ford, menjadi patron politik Henry.

"Di Harvard, Henry mulai mengatur rapat dan diskusi para cendekiawan yang menganalisis krisis saat itu, Perang Vietnam. Diskusi panjang itu menjelajahi hubungan antara tindak-tanduk militer di lapangan, sekaligus peluang kesuksesan melalui diplomasi. Hasil-hasil diskusi selalu memperlihatkan, kemenangan hanya akan tercapai lewat diskusi," catat David E. Sanger dalam obituari Kissinger di The New York Times, 30 November 2023.

Puncaknya, nama Henry keluar dari mulut Henry Cabot Lodge, senator dari Massachusetts yang berpengalaman sebagai duta besar di Vietnam. Ia merekomendasikan Henry saat Nixon menyusun kabinetnya setelah memenangkan Pemilu 1968.

Oleh Nixon, Henry dipilih sebagai National Security Adviser. Jabatan ini adalah mesin utama Gedung Putih dalam menentukan postur keamanan nasional dan pilihan sikap dalam kebijakan luar negeri.

Sebagai penasihat keamanan negara adidaya, Henry praktis memegang kontrol hampir penuh atas politik internasional—peluang yang ia manfaatkan optimal, dan dunia pun menyaksikan polah Amerika Serikat yang tidak membiarkan setetes pun kedigdayaan hard power AS tersia-sia.

Tak mengherankan, sampai hari ini, Henry dijuluki sebagai salah satu eksekutif politik paling berkuasa di muka bumi.


Sebagai menteri luar negeri, Henry adalah kombinasi paripurna seseorang yang menguasai teori realpolitik, sekaligus menggenggam kekuasaan untuk bereksperimen dengan pengetahuan teoretis yang ia miliki demi kepentingan nasional Amerika Serikat.

Sepak terjangnya merentang dari Delta Mekong sampai ke tepi Laut Mediterania; dari Beijing, Moskwa, sampai negara-negara Amerika Latin. Menjadikan dasawarsa 1970-an sebagai titik balik politik internasional, sekaligus dekade paling menarik dan berdarah dalam sejarah Perang Dingin.

Sebagai tangan kanan Nixon dalam urusan polugri, Henry memantapkan wajah kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap negara-negara Asia dan Afrika, termasuk Indonesia.

Selama pemerintah negara-negara itu dapat menyediakan stabilitas dan sanggup menjamin kepentingan nasional AS tetap aman, Washington akan tutup mata terhadap tindak represif dan wajah bengis kediktatoran yang mereka lakukan.

"Begitulah realisme Kissingerian: cara pandang agar Amerika Serikat mengabaikan rezim-rezim yang berperilaku brutal membasmi lawan-lawannya selama stabilitas terjamin. ‘Realisme’ semacam ini mendorong Kissinger mendukung berkuasanya Augusto Pinochet di Chile, maupun Shah di Iran," tulis Anthony Lewis dalam kolom “The Fruits of ‘Realism’” yang terbit di The New York Times, 7 September 1999.

Infografik Mozaik Henry Kissinger
Infografik Mozaik Henry Kissinger. tirto.id/Parkodi


Suara yang Tak Padam

Karier politik Henry tutup buku setelah James Earl Carter melenggang masuk ke Gedung Putih pada 1977. Namun, ini tidak menjadikannya surut.

Ia membuka firma konsultan yang menyediakan nasihat masalah-masalah luar negeri untuk perusahaan multinasional, terutama dalam pertimbangan bisnis. Dengan modal nama, ia membawa firmanya terkoneksi ke berbagai perusahaan nomor wahid di pelbagai sektor yang rela membayar mahal untuk memperoleh rekomendasi seorang Henry Alfred Kissinger.

Sesekali memberi kuliah umum dan guru besar tamu sejumlah kampus Ivy League, Henry memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyatakan pandangan-pandangannya tentang soal-soal luar negeri. Kiprahnya sebagai intelektual-selebritas menjadikan personanya mendongkrak rating berbagai acara televisi yang ia hadiri sebagai bintang tamu.


Henry mafhum akan kekuatan kata-kata. Dia terus menulis dan menjaga ingatannya tetap tajam meskipun fisiknya melemah. Pengalaman dan kiat-kiatnya selalu ia bagikan untuk para politikus dan pengambil kebijakan petahana yang menganggap ritual sowan kepadanya sebagai kewajiban sebelum pertimbangan strategis diambil.

Pendapat Henry didengar oleh 12 presiden, sejak Eisenhower dalam merumuskan kebijakan nuklir, sampai Trump dalam merumuskan pendirian terhadap Tiongkok. Khusus yang terakhir, Trump tahu betul bagaimana Beijing memandang hormat Henry lantaran jasanya membuka jalan Tiongkok keluar dari keterkungkungan di balik tirai bambu Mao Zedong.

Kematian yang menjemputnya pada 29 November 2023 merupakan kawan terakhir Henry. Semua rekan segenerasinya telah berpulang sejak dekade 1990-an, termasuk mantan bosnya, Nixon, yang meninggal pada 1994. Dengan mengalami kesempatan untuk hidup sebagai centenarian, kematian Henry patut dirayakan.

Para pendukung dan pencintanya akan merayakan keabadian warisan pemikiran Kissinger yang terpaku kekal dalam setiap denyut nadi kebijakan luar negeri AS. Sedangkan para pengkritik dan pembencinya merayakan kematian Kissinger sebagai kisah klasik matinya seorang gentho dalam cerita silat, sekaligus dentang pertama dari lonceng kematian supremasi Amerika Serikat di panggung politik internasional.

Baca juga artikel terkait HENRY KISSINGER atau tulisan menarik lainnya Chris Wibisana
(tirto.id - Politik)

Kontributor: Chris Wibisana
Penulis: Chris Wibisana
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight