Menuju konten utama

Hari Puisi Nasional 2022: Sejarah, Cara Memperingati & Link Twibbon

Hari Puisi Nasional dirayakan bertepatan dengan peringatan hari wafatnya salah satu legenda penyair terkemuka asal Indonesia, Chairil Anwar.

Hari Puisi Nasional 2022: Sejarah, Cara Memperingati & Link Twibbon
Chairil Anwar. FOTO/Wikipedia

tirto.id - Hari Puisi Nasional selalu diperingati setiap 28 April. Tahun ini Hari Puisi Nasional akan jatuh pada hari Kamis.

Hari Puisi Nasional dirayakan bertepatan dengan peringatan hari wafatnya salah satu legenda penyair terkemuka asal Indonesia, Chairil Anwar.

Chairil Anwar adalah seorang penyair yang telah melahirkan 96 karya, termasuk 70 puisi. Berkat dedikasinya di bidang sastra, Chairil Anwar dinobatkan sebagai pelopor Angkatan 45.

Chairil Anwar lahir pada 26 Juli 1922 dan wafat 28 April 1949. Chairil Anwar terkenal dengan gagasan puisinya yang mendobrak. Puisi “Aku", yang ditulis tahun 1943, dimuat di majalah Timur pada 1945, dianggap sebagai puisi yang besar pengaruhnya pada Angkatan 45.

Selain "Aku" beberapa puisi Chairil Anwar yang terkenal adalah “Karawang-Bekasi”, “Diponegoro”, “Senja di Pelabuhan kecil”, “Doa”, hingga “Selamat Tinggal”.

Cara merayakan Hari Puisi Nasional

Beragam cara bisa dilakukan untuk ikut merayakan Hari Puisi Nasional salah satunya adalah memasang foto dengan twibbon, berikut beberapa link twibbon yang bisa Anda gunakan,

Selain menggunakan twibbon dan memasangnya di sosial media, Anda juga bisa mengunggah beberapa kutipan puitis untuk ikut memeriahkan Hari Puisi Nasional dari sejumlah sastrawan Indonesia.

Sajak-sajak Chairil Anwar kaya dengan citraan dan ungkapan-ungkapan yang baru bila dibandingkan dengan sajak-sajak para penyair Pujangga Baru.

Dapat dikatakan bahwa dalam setiap sajaknya terdapat citraan penglihatan. Penderitaan digambarkan sebagai luka yang tercacar di muka:

Selamat Tinggal

Aku berkaca

Ini muka penuh luka

siapa punya?

Kepada Peminta-minta

Jangan lagi kau bercerita

Sudah tercacar semua di muka

Nanah meleleh dari muka

Sambil berjalan kau usap juga

Sajak Putih

Di hitam matamu kembang mawar dan melati

Berikut ini adalah sejumlah puisi yang dibuat oleh Sitor Situmorang.

Pelarian (Juni 1949)

Malam dan gubuk-gubuk mcnclan deru kota

Lampu-lampu menjauh

Yang ada hanya bayangan dan tubuh

Malam dan deru kota

Aku jalan dengan kenangan cinta lama

Tidak bisa lupa dan membedakan seribu muka

Cinta kamarin?

Ah, pengembara tak bisa mcmbanding dekapan seribu kota

Seperti pelaut berobah rencana di setiap pelabuhan

Angin malam sampai juga

di tempat aku mengusap Iuka

Terkenang pantai lama makin jauh

Ziarah dalam Gereja Gunung

Di mana aku berada kau ada

Bayangan satu-satunya, demikian kurasa.

Benarkah kau ada di sunyi begini

Di kedinginan ruang gereja sendiri?

Dari luar sampai ke ruang ini

Siut burung yang memuja pagi.

Jika aku ada di sini, hanyalah aku sendiri

Serta dingin udara tak dipanasi matahari.

Amin.

Sementara itu, puisi tentang kemerdekaan ini dibuat oleh Sapardi Djoko Darmono.

Kepada Bunda

Terkenang di hati mengarang sari,

Yang kupetik dengan berahi

Dalam kebun jantung hatiku,

Buat perhiasan Ibunda-Ratu.

Baca juga artikel terkait HARI PUISI NASIONAL atau tulisan lainnya dari Nur Hidayah Perwitasari

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Iswara N Raditya