12 Februari 2019

Gordon Banks, Benteng Legendaris di Gawang Inggris

Oleh: Tyson Tirta - 12 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Gordon Banks adalah kiper legendaris Inggris. Dia melakukan penyelamatan gemilang saat Inggris melawan Brazil pada Piala Dunia 1970 di Meksiko.
tirto.id - Sebanyak 97 ribu pasang mata hadir sebagai saksi langsung pertandingan akbar final Piala Dunia 1966 di Stadion Wembley, London. Di luar lapangan, puluhan juta penonton lain menyaksikan pertandingan itu lewat siaran televisi.

Tim nasional Inggris asuhan Alf Ramsey menghadapi Jerman Barat yang sebelumnya memukul Uni Soviet 2-1 dan membantai Uruguay empat gol tanpa balas. Inggris pun tak kalah meyakinkan. Mereka melibas Argentina dan Portugal meski dengan skor tipis.

Kedua tim berbaris di lorong stadion, bersiap mengukir sejarah. Beberapa saat kemudian, Uwe Seeler, kapten Jerman Barat bersalaman dengan kapten Inggris, Bobby Moore, dan pertandingan pun dimulai.

Pada menit-menit awal, pertahanan Inggris digempur. Tapi penjaga gawangnya tampil gemilang hingga mampu meredam beberapa tembakan membahayakan. Penjaga gawang itu bernama Gordon Banks. Belakangan ia didaulat sebagai kiper Inggris paling legendaris sepanjang masa.

Meski demikian, pada menit ke-12, gawang Banks jebol. Ia terpaksa memungut bola dari jalanya sendiri yang disarangkan pemain Jerman Barat Helmut Haller. Namun enam menit kemudian, Geoff Hurst menyamakan kedudukan. Pertandingan berjalan alot hingga dilanjutkan lewat perpanjangan waktu, dan Inggris akhirnya keluar sebagai juara.

Penampilan brilian Gordon Banks membuatnya kembali dipercaya mengawal gawang Inggris pada putaran final Piala Dunia 1970 di meksiko. Di babak penyisihan grup, Inggris tergabung di grup 3 bersama Brazil, Rumania, dan Cekoslovakia. Inggris lolos dari fase grup dengan catatan cukup baik. Mereka hanya sekali kalah saat melawan Brazil. Namun, justru dalam pertandingan itulah aksi penyelamatan Gordon Banks paling dikenang.

Sejak awal pertandingan, meski Inggris tampil menyerang, tetapi Banks pun terus dibombardir para pemain Brazil yang dipenuhi sejumlah bintang bertalenta seperti Pele, Jairzinho, dan Tostao. Ketika pertandingan memasuki menit ke-10, Carlos Alberto--pemain bertahan Brazil--menggiring bola menyisir sisi kiri pertahanan Inggris. Ia mengirimkan umpan terobosan kepada Jairzinho yang telah siap melepaskan umpan silang ke tengah. Di kotak penalti Inggris, pele dan Tostao siap menyambut umpan itu. Beberapa detik kemudian, sesuatu yang menggemparkan dunia pun terjadi. Bola silang disambar Pele dengan sundulan kepala yang sempurna ke sisi kanan bawah gawang Inggris.

Sepersekian detik setelah menyundul bola, Pele mengangkat kedua tangannya, bersiap melakukan selebrasi. Namun, selebrasi itu tak terjadi. Gordon Banks melakukan aksi penyelamatan nan gemilang. Sambil mengempaskan tubuhnya, ia menepis bola hingga meluncur ke samping gawang. Konon, sampai hari ini Pele tidak menyangka sundulan sempurnanya tidak berbuah gol.

Inggris akhirnya menyerah setelah Jairzinho merobek gawang Banks di babak kedua. Meski demikian, kedua tim berhasil melaju ke perempat final. Di babak ini Banks absen karena sakit. Inggris pun tumbang dan terpaksa pulang duluan setelah dikalahkan Jerman Barat 3-2. Sementara Brazil terus melaju dan menjadi kampiun Piala Dunia 1970.

Mengenang aksi penyelamatannya itu, Banks tetap datar.

“Saya yakin perhatian yang begitu besar dan penghargaan yang tinggi terhadap aksi penyelamatan itu adalah karena aksi itu terjadi di hadapan penonton global yang menyaksikan di seluruh dunia”, ujarnya dalam otobiografinya bertajuk Banksy: My Autobiography (2003:571).

Dalam beberapa kesempatan lain, penjaga gawang rendah hati itu kerap mengenang momen itu dengan guyon khas orang Inggris. Itu juga yang ia lakukan di masa tuanya yang bersahabat dengan Pele, sambil terus memujinya sebagai pemain terbaik dunia. Pele sendiri selalu mengakui Banks sebagai kiper hebat. Pada 2004, dalam rangkaian acara perayaan 100 tahun asosiasi sepakbola dunia FIFA, Pele memuat nama Gordon Banks dalam daftar 125 pemain bola terbaik yang masih hidup.

Infografik Mozaik Gordon Banks
Infografik Mozaik Gordon Banks. tirto.id/Sabit

Bertanding sampai Akhir

Gordon Banks melanjutkan kariernya di Stoke City yang pada 4 Maret 1972 berhasil menjuarai Piala FA setelah mengalahkan Chelsea di partai final. Di luar dugaan, pertandingan itu menjadi awal dari babak akhir perjalanan karier Banks. Pada bulan Oktober tahun itu, sebuah kecelakaan mobil membuatnya harus kehilangan penglihatan sebelah kanan.

Setelah kecelakaan itu ia tak pernah lagi bermain untuk tim nasional Inggris, meski hari-harinya tetap diisi dengan menjadi pemain sepak bola. Ia bahkan sempat dua tahun membela Fort Lauderdale Strikers, klub sepakbola asal Amerika Serikat, sebelum menutup kariernya dengan satu kali bermain untuk St. Patrick’s Athletic di liga Irlandia. Musim 1977-1978 menjadi musim terakhir karier sepakbola Banks.

Setelah pensiun dari ingar bingar dunia sepakbola, Banks mendapatkan berbagai penghargaan yang diraihnya sebagai penjaga gawang. International Federation of Football History & Statistics (IFFHS) menempatkannya di urutan kedua dalam daftar kiper terbaik abad ke-20. Ia hanya kalah dari Lev Yashin, kiper legendaris Uni Soviet, dan unggul satu peringkat dari legenda Italia, Dino Zoff.


Sementara Football Writers’ Association mendaulatnya sebagai pemain terbaik liga Inggris musim 1971-1972. Torehan prestasi gemilangnya juga membuat FIFA menganugerahinya gelar penjaga gawang terbaik dunia selama enam tahun berturut-turut sejak 1966 hingga 1971.

Di masa tuanya, kiper legendaris kelahiran Sheffield Desember 1937 itu bertarung melawan kanker ginjal yang menyerangnya. Pada 2018 sempat beredar rumor yang mengatakan Banks meninggal karena kanker, tapi kala itu keluarganya menyanggah dan menyebut berita itu adalah hoaks murahan. Baru pada 12 Februari 2019, tepat hari ini dua tahun lalu, Stoke City dan anggota keluarganya mengumumkan bahwa Gordon Banks telah berpulang.

Baca juga artikel terkait GORDON BANKS atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh
DarkLight