Glenn Fredly: Jejak Aktivisme dan Suara dari Timur

Oleh: Alexander Haryanto - 9 April 2020
Dibaca Normal 3 menit
Glenn Fredly meninggal di usia 44 tahun akibat penyakit meningitis.
tirto.id - Glenn Fredly adalah salah satu musikus yang amat langka di Indonesia. Pergaulannya tak hanya sebatas kalangan artis saja, tetapi bisa dengan mudah menembus sekat-sekat batas sosial, termasuk kalangan aktivis. Hal yang cukup jarang terjadi.

Pada 2012 lalu, ia pernah terlibat dalam gerakan budaya Voice From The East (VOTE), digagas oleh berbagai LSM, termasuk Kiara, Jatam, KontraS, Walhi dan AMAN. Kampanye ini menyoroti empat aspek yakni, demokrasi, hak ekonomi, lingkungan hidup dan kekerasan yang menjadi sumber ketimpangan di Indonesia timur.

Kala itu, Glenn bersama VOTE mengelilingi kampus-kampus di Yogyakarta untuk menyuarakan berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia Timur. Selain itu, mereka juga mengadakan konser dan acara diskusi. Gerakan ini juga didukung oleh artis Astrid dan Edo Kondologit, penyanyi kelahiran Papua.

Di sisi lain, ia juga mendirikan Green Music Foundation (GMF) yang menjadi wadah bagi para musisi untuk menyalurkan kepeduliannya pada lingkungan dan berfokus pada pengawalan terhadap isu pemanasan global.

Dalam wawancaranya bersama Mongabay, Glenn mengatakan, hal yang membuatnya tergerak dalam gerakan Voice From The East karena wilayah Indonesia Timur yang sangat kaya akan sumber daya alam, tetapi kekayaan itu hanyak dijadikan objek eksploitasi.

"Alam dirusak, masyarakat adat tergusur, hutan ditebangi, tambang dikeruk, orang dibunuh karena konflik perebutan akses ekonomi antara masyarakat dan perusahaan yang tak kunjung usai," kata Glenn kepada Mongabay, pada 2012 lalu.

Di sisi lain, menurut Glenn, apa yang sudah diberikan oleh Indonesia Timur untuk pemerintah pusat tidak sebanding dengan apa yang didapat masyarakat di wilayah itu.

"Menyedihkan melihat di Indonesia timur, sampai sekarang masyarakat di sana masih miskin, sarana dan prasarana pendidikan, pembangunan masih berbeda jauh dengan Jawa serta kesehatan yang sangat memprihatinkan," ungkap Glenn.

Selain itu, Glenn bilang, masyarakat yang melawan kebijakan tidak adil itu akan dihadapkan langsung dengan aparat. Padahal, masyarakat punya hak untuk menolak kebijakan yang merugikan mereka, tutur Glenn.

"Nah peran VOTE di sini adalah untuk merajut dan mengajak masyakarat luar untuk tahu apa yang terjadi Indonesia Timur. VOTE melakukan koreksi terhadap kinerja pemerintah selama ini, harapannya jelas, agar pemerintah melakukan perbaikan terhadap kebijakannya yang lebih pro rakyat."


Selain itu, jejak aktivisme Glenn juga ditunjukkannya kepada gerakan masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa, dalam sebuah konser yang digelar di Hard Rock Cafe Bali pada Oktober 2013.

“Saya mendedikasikan konser malam ini untuk sebuah move anak-anak muda di Bali. Saya lihat ketulusan movement itu dari cara mereka menyampaikan pesan. Tidak terkesan menggurui. Datang dari hati. Movement itu bernama saya buka baju,” katanya sebelum menyanyi.

Kaos yang dikenakan tertulis ‘Tolak Reklamasi Bali’ Ia membuktikan diri sebagai sahabat aktivis. Mantan suami selebritas Dewi Sandra ini kembali lagi ke Bali empat tahun berikutnya pada 2017 dengan ikut dalam konser bertajuk United We Loud yang membawa misi penolakan reklamasi Bali.

“Saya sebagai pendatang. Kalian bisa bersenang-senang di Bali, kalian juga punya tanggung jawab menjaga Bali,” katanya.

Glenn juga sangat vokal dalam menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan yang digogok DPR RI dan berujung kemenangan musisi. DPR RI akhirnya mengurungkan niat pembahasan RUU.

Dalam wawancara khusus dengan Tirto pada Februari 2019, Glenn menyampaikan kekecewaannya kepada tim perumus RUU, kendati sejak tahap perancangannya pada 2015 telah dimintai pendapatnya.

“50 tahun musik Indonesia ini, yang kelewat adalah penghitungan dan pengelolaan industri. Ada yang di depan sekarang hanya bisnisnya saja. Ini bikin gap makin besar antara musisi sejahtera dan tidak. Ini yang bikin apatisme musisi terbentuk dengan sendirinya, maka ada kesan elitis. Kalau ada bahasa termarjinalkan, saya termasuk ke situ. Masalah keberimbangan kontrak yang masih saya perjuangin hingga hari ini,” kata Glenn.

Keterlibatannya dalam aktivisme di antaranya mewujud dalam film bertema toleransi. Bersama Angga Dwimas Sasongko, Glenn memproduseri film Filosofi Kopi dan Cahaya dari Timur: Beta Maluku yang diganjar penghargaan di Festival Film Indonesia 2014.

Lagunya "Sabda Rindu" dan "Nyali Terakhir" jadi elemen utama film Surat dari Praha. Kini, Glenn berpulang untuk selama-lamanya karena sakit pada 8 April 2020. Selamat jalan Glenn. Karya dan aktivismemu abadi.

Untuk menggambarkan tentang Glenn ini, musisi yang juga fokus pada isu lingkungan dan sosial, Danto "Sisir Tanah" menuliskannya dengan:

Dia bisa mengenakan peci, juga penutup kepala adat Papua maupun Bali dengan senyum yang sama seperti saat mengenakan topi hariannya di atas panggung.

Dia bicara soal eksil '65 di acara Haul Gus Dur, bicara Bali Tolak Reklamasi di Hard Rock Cafe Bali, bicara Papua di Java Jazz Festival, dan tentu saja membela alam dan manusia Maluku di setiap kesempatan. Semua diucapkan dengan wajah tersenyum.

Saya tidak mengenalnya secara pribadi. Tetapi saya tau dia adalah teman baik kawan saya yang ultra nasionalis, sekaligus teman baik kawan saya yang anarkis, juga teman baik kawan saya yang agamis.

Percayalah, itu semua tidak mudah. Butuh kesadaran, kesabaran, dan yang pasti komitmen sangat kuat untuk eksis dan diterima dalam beragam dimensi yang berbeda. Dan dia sanggup.
ㅤㅤ
Begitulah. Bila seorang penyair pernah menulis: "Sakit itu, siapa pun tak di situ", maka saya ingin mengutip sebuah lirik di lagu Tohpati yang dinyanyikan dengannya: "Jejak langkah yang kau tinggal, mendewasakan hatiku. Jejak langkah yang kau tinggal, takkan pernah hilang s'lalu." ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Selamat jalan Glenn Fredly.


Baca juga artikel terkait GLENN FREDLY atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Musik)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Agung DH
DarkLight