Menuju konten utama

Filipina Lapor Temuan Kasus COVID-19 Lokal Varian Delta

Wakil Menteri Kesehatan Maria Rosario Vergeire mengatakan, ada 16 kasus baru varian Delta ditemukan di negara tersebut, termasuk 11 transmisi lokal.

Filipina Lapor Temuan Kasus COVID-19 Lokal Varian Delta
Seorang wanita menerima vaksin virus corona (COVID-19) buatan China Sinovac Biotech di lokasi vaksin lantatur bagi pasien terbaring di tempat tidur dan warga berkebutuhan khusus, di Kota Makati, Metro Manila, Filipina, Jumat (7/5/2021). (ANTARA FOTO/REUTERS/Lisa Marie David/HP/djo)

tirto.id - Departemen Kesehatan Filipina mendeteksi kasus COVID-19 lokal pertama varian Delta, saat total kasus varian yang sangat menular di negara Asia Tenggara itu naik menjadi 35, pada Jumat (16/7).

Ada 16 kasus baru varian Delta ditemukan di negara tersebut, termasuk 11 transmisi lokal, dengan 15 kasus sembuh dan satu kematian. Demikian Kata Wakil Menteri Kesehatan Maria Rosario Vergeire.

Enam dari 11 kasus terdeteksi di wilayah Mindanao utara di Filipina selatan. "(Enam kasus) merupakan bagian dari kasus klaster besar, yang muncul antara 23-28 Juni. Semuanya ditandai sebagai kasus sembuh," tambahnya.

Sementara itu, dua kasus ditemukan di Metro Manila, satu kasus di Luzon tengah dan dua lainnya di Filipina tengah, kata Vergeire.

Filipina sebelumnya melaporkan 19 kasus varian Delta dari sampel warga Filipina yang tiba di tanah air dan langsung melakukan isolasi.

Sebanyak 18 pasien sembuh dan satunya lagi meninggal, menurut DOH.

Filipina melarang masuk pelancong asal Indonesia, India, Pakistan, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka, Oman, dan Uni Emirat Arab untuk mengekang varian Delta.

Hingga Kamis (15/7), tercatat 1.490.665 kasus terkonfirmasi dan 28.314 kematian COVID-19 di negara tersebut.

Apa Itu Virus Corona Varian Delta?

Varian Delta adalah menjadi satu di antara beberapa varian yang menjadi mutasi virus Corona jenis baru COVID-19.

Saat ini varian Delta juga dituding menjadi biang kerok meningkatnya kasus positif COVID-19 secara cepat di Indonesia. Lalu, bagaimana varian delta itu bsa muncul?

Seorang ahli bioteknologi di University of Bologna, Italia, Daniele Mercatelli dalam studi berjudul "Geographic and Genomic Distribution of SARS-CoV-2 Mutation" (Journal of Frontiers in Microbiology Vol. 11 2020), mengatakan bahwa Corona ternyata merupakan makhluk hidup yang tersusun oleh RNA beruntai-tunggal untai-positif (single-stranded positive-strand RNA).

Lantas, berdasarkan pada fakta biologis inilah yang menuntun kelahiran varian Delta. RNA, atau ribonucleic acid (asam ribonukleat), secara sederhana merupakan DNA (deoxyribonucleic acid/asam deoksiribonukleat) versi mungil, turunan molekul asam nukleat yang berfungsi sebagai medium penyimpanan kode genetik, khususnya untuk mewariskan sifat kepada keturunan.

RNA tersusun dari empat protein, yakni spike, envelope, membrane, dan nucloecapsid. Keempatnya menyusun kode genetik seperti kode binari pada komputer.

Andai '01100001' pada binari menghasilkan 'a' (kecil) di layar komputer, misalnya, maka kode 'CUU' yang termuat dalam RNA akan memerintahkan organisme untuk menambah leusina (salah satu asam amino yang berperan dalam pembentukan otot) pada keturunannya.

SAR-CoV-2 juga memiliki RNA sepanjang 29.903 asam amino (atau dapat dianalogikan sebagai 'baris kode' dalam dunia komputer).

Salah satu yang membedakan RNA dengan DNA adalah tidak adanya enzim yang bekerja untuk melakukan proofreading (pengoreksi).

Misalpun ada maka, enzim pengoreksi pada RNA terlalu lemah, tak sehebat milik DNA. Bagi makhluk hidup yang tersusun oleh DNA, dan karenanya memiliki enzim pengoreksi (bernama polymerases), ketika ia berkembang biak, maka keturunannya akan memiliki kode genetik yang identik (atau tidak jauh berbeda) dengan induknya, yang terjadi karena polymerases melakukan proses pengecekan kode genetik yang diturunkan.

Sedangkan pada RNA, yang tidak memiliki (atau memiliki tetapi enzimnya lemah), tidak dapat melakukan pengecekan ini.

Sehingga, saat makhluk yang tersusun dari RNA berkembang biak, mutasi--perubahan kode genetik pada keturunannya sangat mungkin terjadi.

Kemungkinan terjadinya mutasi pada makhluk hidup yang disusun oleh RNA adalah 10 pangkat -6 hingga 10 pangkat -4.

Artinya, di setiap satu juta virus SARS-CoV-2 yang baru lahir, satu hingga 100 di antaranya memiliki kode genetik yang tak serupa dengan induknya.

Berdasarkan analisis terhadap 48.637 genom SARS-CoV-2 yang diperoleh dari Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) pada pertengahan 2020 lalu dan membandingkannya dengan Wuhan-HU-1, Mercatelli menemukan tujuh mutasi genetik.

Baca juga artikel terkait CORONA COVID-19 atau tulisan lainnya dari Yandri Daniel Damaledo

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Iswara N Raditya