Ekonom Nilai Pemanfaatan Kekayaan Laut Belum Optimal

Reporter: Abdul Aziz - 31 Maret 2016
tirto.id - Ekonom senior Soebroto menilai pemanfaatan kekayaan laut saat ini belum optimal. Padahal hal tersebut bisa mendorong perekonomian ekonomi nasional tumbuh sesuai potensinya pada kisaran tujuh persen.

“Kita baru bisa mencapai pertumbuhan tujuh persen dengan segala kekuatan pembangunan yang selama ini belum kita pakai, salah satunya kekayaan laut. Karena pembangunan kita baru berdasarkan kekayaan alam dari darat,” kata dia dalam diskusi yang diselenggarakan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), di Jakarta, Kamis (31/3/2016).

Menurut dia, potensi kekayaan alam dari laut sangat besar, namun pemanfaatannya belum memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat.

“Indonesia ini sebesar 70 persen terdiri dari laut, dan 30 persen daratan, tapi yang 70 persen ini belum dimanfaatkan. Padahal banyak perikanan, pertambangan di laut, pariwisata maupun transportasi yang bisa dioptimalkan,” kata dia.

Mantan Menteri Pertambangan dan Energi pada era Orde Baru ini menambahkan, pemerintah telah berada pada jalur yang tepat untuk mendorong perekonomian, karena memiliki para menteri yang mempunyai perhatian terhadap pemanfaatan potensi dari laut.

Dengan penguatan potensi dari dalam negeri itu, kata dia, dalam jangka panjang perekonomian nasional tidak lagi rentan terhadap tekanan global, dan bisa tumbuh sebesar tujuh persen seperti yang diproyeksikan sejak beberapa tahun lalu.

Namun, Soebroto mengingatkan upaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tujuh persen, tidak hanya berasal dari keunggulan sektor tertentu, tapi juga membutuhkan kerja sama antara pemerintah dengan para pemangku kepentingan.

“Bahkan di 2019 mungkin pertumbuhan masih di kisaran 6 persen-6,5 persen. Harapannya kita mengajak para pimpinan nasional, elit politik, pengusaha, akademisi, 'civil society' untuk bergerak mewujudkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi,” kata dia. (ANT)

Baca juga artikel terkait KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Abdul Aziz

DarkLight