Efek Buruk Terlalu Bahagia

Ilustrasi. Efek buruk terlalu bahagia. Foto/iStock
Oleh: Patresia Kirnandita - 29 Juni 2017
Dibaca Normal 2 menit
Meski jadi tujuan hidup banyak orang, bahagia bisa menjelma mudarat. Emosi bahagia memiliki serangkaian efek buruk jika muncul berlebihan.
tirto.id - “Too much of something is bad enough,” demikian dilantunkan oleh grup musik yang berjaya pada era 90-an, Spice Girls. Aneka hal di dunia ini memang baik jika dikecap atau dilakukan secara berimbang.

Namun malangnya, tak semua orang mengamini petuah tadi. Banyak orang yang mengidam-idamkan kebahagiaan sebagai gong perjalanan hidup. Tak sedikit orang yang memakai kacamata kuda ketika mengejar sesuatu yang mereka anggap bisa memuaskannya. Ketika hal tersebut tercapai, tidak jarang ia merasakan emosi positif yang membuncah sampai-sampai mengarah pada destruksi untuk diri sendiri. Tidak cuma itu, ledakan kebahagiaan bisa jadi merupakan gejala patologi.

June Gruber, Ph.D., asisten profesor Psikologi dari Yale University, menulis di Greater Good Magazine sejumlah mudarat yang dapat terjadi ketika seseorang merasakan kebahagiaan yang berlebihan. Dalam kadar yang wajar, kebahagiaan memang memompa kreativitas. Namun, saat kebahagiaan yang dirasakan tak terkontrol, hal ini justru membuat seseorang kesulitan menyalurkan kreativitasnya. Gruber mengambil kasus khusus seperti mania.

Dalam situs Psych Central, mania atau manic episode dideskripsikan sebagai kondisi ketika seseorang mengalami suasana hati dan penilaian diri yang membubung, hilangnya keinginan tidur, munculnya banyak pikiran dalam sekejap, dan kesulitan berfokus. Orang dalam keadaan mania juga mengalami peningkatan aktivitas berlandaskan gol dan sering melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan di luar kebiasaan sehari-hari.

Singkat kata, mania mirip dengan perasaan euforia atau optimisme ekstrem. Orang yang mengalami hal ini merasa mereka berada di puncak dunia dan mampu melakukan apa pun yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Kondisi mania bukanlah suatu penyakit psikologis tersendiri, tetapi ia menjadi bagian dari gangguan bipolar yang merupakan salah satu patologi.

Sekilas, seperti tidak ada yang salah dengan pengalaman semacam ini. Akan tetapi, di balik hal-hal yang tampak positif tersebut, terdapat efek samping yang dapat merusak.

Pertama, ketika suasana hati begitu baik, ia mempunyai kecenderungan membuat berbagai proyek akibat adanya luapan ide di kepala. Malangnya, hal ini tak melulu disertai perencanaan yang baik untuk mewujudkannya. Ia bisa juga menghabiskan sepanjang hari tanpa beristirahat sedikit pun untuk menyelesaikan proyek-proyek tersebut. Tak hanya lelah mental, kondisi fisik pun melemah karena aktivitas ekstrem seperti ini.

Gruber juga memaparkan, saat semangat orang bahagia begitu menggebu, ia berpotensi untuk melakukan hal-hal berisiko tinggi. Konsumsi alkohol, narkotika, makanan, serta aktivitas seksual berlebihan adalah segelintir hal berisiko yang potensial dilakukan. Begitu pun aktivitas berbelanja tanpa rem yang membuat jebol dompetnya.

Bahkan, dalam studi yang dilakukan Howard S. Friedman dkk., ditemukan risiko kematian lebih tinggi pada anak-anak usia sekolah yang tampak bahagia berlebihan. Ini dimungkinkan oleh prilaku mengambil risiko tinggi yang sejalan dengan argumen Gruber.

Seiring dengan pendapat bahwa kebahagiaan berlebih mampu menurunkan level kreativitas, Gruber melihat hal ini dapat berdampak terhadap kehidupan dan karier seseorang. Ketika merasa dirinya sudah memenuhi target tertentu, ia akan merasa malas untuk mengembangkan diri di tempat kerja. Keinginan untuk berkompetisi dengan rekan kerja lainnya pun berkurang.

Serangkaian studi terkait efek buruk terlalu bahagia di kantor pun pernah dilansir Time. Chak Fu Lam dari Suffolk University menyatakan bahwa emosi positif yang sedang dialami seseorang membuat ia merasa tak perlu berinisiatif dan proaktif ketika bekerja. Survei 2013 yang dilakukan lembaga konsultasi Leadership IQ menunjukkan bahwa di lebih dari 40% perusahaan yang diteliti, pekerja berperforma rendah perusahaan menyatakan bahwa mereka bahagia dan merasa terikat dengan pekerjaannya.

“Para pekerja berperforma rendah sering kali mengambil pekerjaan paling mudah karena manajer mereka tidak meminta macam-macam kepadanya,” ungkap Mark Murphy, CEO Leadership IQ. Selama dapat bersenang-senang di kantor, orang-orang macam ini cenderung tidak ambil pusing apakah mereka sudah cukup menorehkan prestasi di perusahaan atau mengembangkan aneka kemampuan yang bermanfaat bagi diri sendiri kelak.



Melihat fakta-fakta semacam ini, tak heran bila mereka yang tak bahagia-bahagia amat di tempat kerja justru berpotensi mengungguli rekan-rekannya.

Gretchen Spreitzer, profesor bidang Manajemen dan Organisasi dari University of Michigan mengatakan, “Pekerjaan yang menuntut fokus tinggi mungkin saja membutuhkan lebih sedikit energi positif. Bila Anda terlalu senang, akan lebih sulit bagi Anda untuk berkonsentrasi sehingga pekerjaan sulit atau membosankan pun tak kunjung terselesaikan.” Intinya, sebagaimana emosi-emosi lain, bahagia pun mesti diekspresikan atau disalurkan pada konteks-konteks yang tepat.

Terkait dengan proses mengejar kebahagiaan, Gruber juga menyatakan bahwa ada kalanya hal ini malah membuat orang kian jauh dari kepuasan hidup. Ia mengutip studi Iris Mauss yang menemukan bahwa semakin orang berjuang meraih kebahagiaan, semakin mungkin mereka menyetel standar yang begitu tinggi untuk hal yang dianggapnya membahagiakan. Ketika hal itu tak teraih, kekecewaanlah yang akhirnya mencuat.

Ragam penggambaran kebahagiaan di media-media populer, seperti film atau musik, juga sering kali berandil membentuk standar tinggi kebahagiaan orang-orang, demikian imbuh Gruber yang juga menulis jurnal bertajuk “A Dark Side of Happiness? How, When, and Why Happiness Is Not Always Good.”

Tak ada yang salah dengan berangan tinggi dan berharap bisa bahagia setelah mencapainya. Namun, yang tak kalah penting untuk diingat adalah menikmati tiap detail yang dilewati pada saat menjalani proses saat ini. Saat kebahagiaan telah tercapai pun, bukan hal yang bijak untuk melampiaskannya tanpa tedeng aling-aling dan tanpa kewaspadaan pada efek samping yang bisa ditimbulkannya. Semua yang berlebihan, sekalipun dianggap sebagai hal yang baik, tak akan pernah lepas dari sisi gelap.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Zen RS
DarkLight