Menuju konten utama

Dwi Soetjipto, Jago Lobi yang Tenggelam di Pertamina

Kesuksesan Dwi Soetjipto di Semen Indonesia tak berulang di Pertamina. Hanya selama 2 tahun 3,5 bulan ia menjabat sebagai Dirut sebelum akhirnya dicopot.

Dwi Soetjipto, Jago Lobi yang Tenggelam di Pertamina
Dirut PT. Pertamina Dwi Soetjipto (kedua kanan) bersama Presdir PT. Shell Indonesia Darwin Silalahi (kedua kiri), Senior Vice President Integrated Supply Chain (ISC) PT. Pertamina Daniel S. Purba (kanan) dan GM Product East, Trading & Supply Shell International Eastern Trading Company (SIETCO) Leong Wei Hung memberikan keterangan usai penandatanganan adendum kerjasama di Kantor Pertamina Jakarta, Rabu (31/8). Foto: Antara

tirto.id - Dwi Soetjipto sudah melalui beragam penolakan, protes sebelum akhirnya berhasil melakukan konsolidasi Semen Gresik Group, yang akhirnya bertransformasi menjadi Semen Indonesia. Jalannya tidak mudah karena dia sempat menjalani "pengasingan" dan didemo selama berhari-hari oleh karyawan Semen Padang.

Setelah sukses menggawangi transformasi Semen Indonesia, Dwi mendapat tanggung jawab yang lebih besar memimpin Pertamina. Sayangnya, kilau kinerjanya di Semen Indonesia tak berulang sebelum akhirnya dicopot sebelum masa jabatannya berakhir.

Jalan Berliku di Semen Padang

12 Mei 2003, Dwi Soetjipto mendapatkan amanah untuk memimpin Semen Padang. Ketika itu, situasi sedang sangat sulit. Semen Padang menolak rencana pemerintah untuk digabungkan dengan Semen Gresik.

“Tongkat estafet yang diberikan ke saya bagaikan tongkat panas. Saya yang selama ini sering dianggap sebagai musuh karena dinilai menentang spin off semakin mendapat perlawanan. Setelah diangkat menjadi direktur utama, saya dan kawan-kawan direksi dilarang masuk ke kantor Semen Padang,” kata Dwi Soetjipto dalam bukunya Road to Semen Indonesia (2014).

Jabatan baru di Semen Padang tidak dilakoni dengan mulus. Dwi bersama jajaran direksi baru bahkan harus berkantor di Hotel Pangeran, di pusat Kota Padang. Ini dikarenakan Serikat Pekerja Semen Padang memblokade akses pintu, sebagai bagian dari aksi penolakan atas jajaran direksi baru.

“Kami memutuskan tidak menempuh cara anarkistis dan destruktif. Tidak konfrontasi dengan karyawan, tidak bersikap frontal, dan menempuh cara yang legal. Kami memilih menepi sembari menyusun strategi,” jelas Dwi.

Di saat Semen Padang “dikuasai” oleh karyawan yang menolak manajemen baru, Dwi dan jajaran direksi lain melakukan lobi-lobi kepada pemerintah daerah setempat, tokoh adat, hingga kelompok masyarakat. Sayangnya, pendekatan personal gagal hingga akhirnya manajemen menempuh jalur hukum.

Dwi dan direksi Semen Padang lainnya akhirnya bisa berkantor, empat bulan setelah RUPS. Namun, masalah tidak berhenti di situ. “Saya memiliki setumpuk pekerjaan rumah untuk membereskan urusan keuangan Semen Padang. Sudah dua tahun manajemen lama Semen Padang tak menyerahkan laporan keuangan. Selain itu, Semen Padang juga memiliki tunggakan utang hingga Rp100 miliar dan di ambang kebangkrutan."

Lobi-lobi yang dilakukan oleh Dwi, dengan bantuan Semen Gresik sebagai induk perusahaan akhirnya bisa menyelamatkan Semen Padang. Bank Mandiri dan BCA akhirnya mau mengucurkan Rp305 miliar dan bisa menyelamatkan Semen Padang untuk sementara waktu.

Permasalahan lain yang dihadapi adalah tidak maksimalnya produksi akibat rusaknya sejumlah fasilitas. Dari kapasitas produksi 5,24 juta ton, Semen Padang hanya bisa mengeluarkan 4,5 juta ton.

Butuh dua tahun bagi Dwi Soetipto untuk membenahi Semen Padang. Pada akhirnya, utilitas pabrik membaik, produksi meningkat, sehingga kinerja keuangan kembali lancar. Konsolidasi dengan karyawan juga semakin membaik berkat lobi-lobi yang dilakukan Dwi.

Atas kesuksesannya mengawal Semen Padang, Dwi mengatakan: “Saya memilih jalur diplomasi seni dan olahraga. Pendekatan ini menurut saya lebih berhasil karena karyawan merasa ‘diorangkan’. Mereka merasa didengar dan dianggap sebagai keluarga besar.”

Pindah ke Semen Gresik

27 Juni 2005, Dwi Soetjipto diangkat menjadi Direktur Utama Semen Gresik Group. Ketika itu, Semen Gresik sedang menghadapi masalah yang tidak ringan karena di ambang perpecahan. Menggabungkan Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa menjadi satu perusahaan nyatanya tidak mudah. Resistensi kuat muncul ketika Semen Gresik ditunjuk sebagai induk perusahaan. Karena itu, ide awal Dwi ketika ditunjuk sebagai Dirut Semen Gresik adalah melakukan konsolidasi.

“Ketika melontarkan membangun konsolidasi untuk membangun sinergi, saya merasa seperti ‘Lone Ranger’, berjuang sendiri, teriak-teriak sendiri. Tidak sedikit orang yang sini dengan ide tersebut,”

Lagi-lagi, proses konsolidasi Semen Gresik akhirnya bisa dilakukan setelah Dwi melakukan serangkaian lobi-lobi. Konsolidasi akhirnya tuntas dilakukan pada 2009.

“Saya rangkul seluruh level karyawan, saya dekati mereka untuk mengetahui pandangan dan sikap karyawan terhadap kebijakan perubahan yang sedang saya jalankan,” jelasnya.

Kesuksesan konsolidasi berbuah manis pada kinerja Semen Gresik Group. Sebelum konsolidasi, pendapatan Semen Gresik Group hanya Rp7,53 triliun. Setelah konsolidasi, pendapatan Semen Gresik naik dua kali lipat menjadi Rp14,34 triliun. Implikasinya, laba bersih Semen Gresik Group naik lebih dari tiga kali lipat setelah konsolidasi yakni dari Rp1 triliun pada 2005 menjadi Rp3,33 triliun pada 2009.

Infografik Dwi Soetjipto

Babak Baru Semen Indonesia

Selesai dengan konsolidasi dan sinergi, kinerja Semen Gresik Group semakin cemerlang. Pada 20 Desember 2012, RUPSLB memutuskan pergantian nama PT Semen Gresik Tbk menjadi PT Semen Indonesia Tbk. Sejak saat itu, sayap Semen Indonesia semakin lebar. Pada 2013, Semen Indonesia melakukan ekspansi ke Vietnam dengan mengakuisi Thang Long Joint Stock Company (TLCC).

November 2014, Dwi Soetjipto mendapat amanah baru sebagai Dirut Pertamina, menggantikan Karen Agustiawan yang mengundurkan diri.

“Pak Dwi putra terbaik bangsa dengan pengalamannya mengendalikan sebuah korporasi yang diharapkan mampu membenahi Pertamina. Pak Dwi sesuai arahan Presiden Joko Widodo agar mempercepat transformasi Pertamina untuk menjadi perusahaan kelas dunia, sistem transparan dari hulu hingga ke hilir," kata Menteri BUMN Rini Soemarno pada 28 November 2014.

"Mengelola Pertamina bukan tugas yang ringan, maka dibutuhkan sosok seperti Pak Dwi, untuk meruskan langkah pembenahan di perusahaan," kata Menteri ESDM yang ketika itu dijabat Sudirman Said.

Perjalanan Dwi memimpin Pertamina tentu tidak mudah. Posisi Dirut Pertamina memang dikenal sebagai kursi panas. Apalagi, Pertamina sedang menghadapi masalah yang cukup kompleks mulai dari sumur-sumur yang menua, produksi minyak, hingga ekspansi perusahaan yang jelas tidak mudah dilakukan. Dunia juga menghadapi situasi yang tidak mudah seiring jatuhnya harga minyak ke titik terendahnya. Harga minyak yang sempat mencapai $100 per barel pada 2014, anjlok hingga di bawah $50 per barel pada 2016.

Tantangan yang sedemikian besar tentu bukan hal yang mudah untuk ditaklukkan oleh Dwi. Pendapatan Pertamina terus turun dari 69,996 miliar dolar pada 2014 menjadi 41,763 miliar dolar pada 2015. Hingga semester I-2016, Pertamina mencatat pendapatan 17,197 miliar dolar. Sementara dari segi laba, Pertamina juga mengalami penurunan dari 1,416 miliar dolar pada 2014 menjadi 1,144 miliar dolar. Hingga semester I-2016, Pertamina sudah mengumpulkan laba bersih 1,889 miliar dolar. Namun, kenaikan laba itu dikarenakan adanya laba selisih kurs dan pendapatan keuangan yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2015.

Dengan semua kompleksitas yang dihadapi Pertamina, pada 20 Oktober 2016, Menteri BUMN Rini Soemarno menambah dua direksi Pertamina yakni Ahmad Bambang sebagai wakil direktur utama dan Rachmat Hardadi sebagai direktur megaproyek pengolahan dan petrokimia. Total Pertamina memiliki 9 orang direksi.

"Pertamina merupakan perusahaan energi dalam skala besar yang mengelola minyak dan gas dari hulu ke hilir. Jadi pengelolaannya harus secara holistik dan fokus pada bidang eksplorasi dan eksploitasi," kata Komisaris Utama Pertamina, Tanri Abeng.

Masuknya Ahmad Bambang sebagai wadirut ini ternyata memunculkan masalah baru. Ia dikabarkan tak bisa seirama dengan Dwi Soetjipto. Tak sampai empat bulan kemudian, Dwi Soetjipto dan Ahmad Bambang akhirnya sama-sama dicopot. Keputusan itu diambil melalui RUPS yang diselenggarakan pada Jumat, 3 Februari 2017.

Komisaris Utama Pertamina Tanri Abeng mengatakan, RUPS memutuskan untuk mencopot keduanya karena komisaris melihat Dwi dan Ahmad Bambang tidak bekerja dengan baik.

"Dalam satu struktur tidak berjalan sesuai dengan intensi struktur itu karena kecocokan dari manusianya," ujar Tanri di Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (3/2/2017).

"Ini (pergantian) hal yang biasa dan terjadi dimana-mana. Ini untuk mencari talent-talent baru yang bisa bekerjasama dan solid di Pertamina," lanjut Tanri.

Dwi sedianya memimpin untuk periode 2014 hingga 2019. Belum setengah jalan, Dwi sudah dicopot. Lobi-lobi yang sukses dilakukannya di Semen Padang, Semen Gresik, hingga Semen Indonesia rupanya tidak berjalan dengan baik di Pertamina hingga akhirnya ia tersingkir.

Baca juga artikel terkait PERTAMINA atau tulisan lainnya dari Nurul Qomariyah Pramisti

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti