Menuju konten utama

Duterte Tegaskan Masih Butuh Amerika

Presiden Filipina Rodrigo Duterte belum akan memutus kerja samanya dengan Amerika Serikat meskipun tengah menjajaki kedekatan dengan Cina.

Duterte Tegaskan Masih Butuh Amerika
Seorang mahasiswa memakai topeng Halloween bergambar Presiden Rodrigo Duterte, di kampus seni rupa Universitas Filipina di kota Quezon, metro Manila, Filipina, Kamis (13/10). ANTARA FOTO/REUTERS/Romeo Ranoco.

tirto.id - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengakui bahwa negaranya masih membutuhkan kerja sama dengan Amerika Serikat.

Pernyataan ini disampaikan Duterte untuk meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) jelang kunjungannya ke Jepang, yang juga merupakan sekutu dekat Amerika Serikat.

"Persekutuan masih ada," Duterte mengatakan kepada media Jepang di Manila pada Senin, (24/10/2016), seperti dikutip dari Antara.

"Tidak perlu ada kekhawatiran terkait perubahan persekutuan. Saya tidak perlu memiliki persekutuan dengan negara lain,” imbuh Duterte.

Duterte mengatakan kepada media Jepang bahwa dia hanya menyampaikan opini pribadi dan tidak berbicara mewakili pemerintah saat dia menyebutkan pemisahan dari Washington, surat kabar Nikkei mengatakan.

Dia mengatakan bahwa dia hanya berencana untuk memiliki sebuah "persekutuan dalam bidang perdagangan dan pemasaran" dengan China, Kyodo melaporkan.

Pernyataan Duterte diapresiasi oleh Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, yang ingin mempertahankan hubungan baik dengan Filipina dalam kunjungan Duterte pada Selasa, (25/10/2016). Sebelumnya, Jepang sempat merasa khawatir jika Filipina lebih memilih untuk beraliansi dengan Cina, yang menjadi salah satu rival Jepang dan AS di kawasan Asia Pasifik.

Duterte sempat mengejutkan dunia saat melakukan kunjungan ke China pada minggu lalu. Saat itu, ia menyatakan perubahan arah ke Beijing, setelah sebelumnya mengeluarkan serangkaian cemoohan terhadap Amerika Serikat.

Duterte beserta para pejabatnya kemudian mencoba untuk mengklarifikasi bahwa dia tidak berarti memotong ikatan dengan AS.

Di sisi lain, Harian Yomiuri memberitakan bahwa Duterte telah berulang kali mengutarakan rencananya untuk menghentikan latihan militer gabungan dengan AS dan mengakhiri sebuah pakta kerjasama militer antara keduanya.

Pemerintah Jepang lewat Abe, sebaliknya, berusaha untuk memperkuat ikatan dengan Filipina dan negara-negara Asia Tenggara lainnya sebagai sebuah penyeimbang terhadap Beijing.

"Itu benar-benar disayangkan dan kami khawatir, namun hal-hal seperti itu tidak akan mengubah komitmen Jepang terhadap Filipina," ujar Narushige Michishita, seorang profesor dari Institut Studi kebijakan Nasional dan mantan pejabat dinas pertahanan, mengacu kepada komentar Duterte.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS John Kerry, setelah berbicara dengan rekannya dari Filipina pada Minggu, (23/10/2016), yakin bahwa kedua negara dapat "menjalani" masa-masa kebingungan yang disebabkan oleh komentar Duterte itu, seperti diberitakan oleh Departemen Luar Negeri AS.

Duterte telah mencerca komentar AS terkait kekhawatiran mereka akan banyaknya korban dalam kampanye melawan narkoba Filipina.

Para pejabat Jepang mengatakan bahwa Abe tidak akan terang-terangan membantu menengahi antara Tokyo dan Washington, namun, ia kemungkinan akan menjelaskan betapa pentingnya peran AS di wilayah itu.

Menteri Luar Negeri Fumio Kishida akan menemui Duterte pada Selasa, dan Abe akan mengadakan sebuah pertemuan langsung dengan Duterte di kediamannya di Tokyo pada sore harinya, menyusul dilaksanakannya sebuah pertemuan yang lebih besar dan lebih formal dengan para pejabat tinggi.

"Saya yakin bahwa ikatan antara Jepang dengan Filipina itu sangat penting dan mencari cara untuk menstabilkan ikatan bilateral akan mengarah kepada perdamaian, kestabilan dan kemakmuran di wilayah itu begitu pula terhadap kounitas internasional," ujar Kishida.

Dia menambahkan bahwa dia ingin mendengarkan baik-baik pandangan Duterte.

Pendahulu Duterte, Benigno Aquino membuat marah China dengan melayangkan sebuah kasus kepada pengadilan arbitrasi di Den Haag, yang menantang keabsahan klaim maritim Beijing di Laut China Selatan.

Sebuah keputusan yang dikeluarkan pada awal tahun ini mendukung Manila, namun ditolak oleh China, yang telah berulang kali memperingatkan Amerika Serikat dan Jepang untuk tidak ikut campur dalam permasalahan itu.

Duterte mengatakan bahwa kedua negara telah sepakat untuk tidak membicarakan keputusan pengadilan internasional itu dalam kunjungan awalnya, namun akan membicarakannya suatu saat, Nikkei melaporkan.

Baca juga artikel terkait FILIPINA atau tulisan lainnya dari Putu Agung Nara Indra

tirto.id - Politik
Reporter: Putu Agung Nara Indra
Penulis: Putu Agung Nara Indra
Editor: Putu Agung Nara Indra