Menuju konten utama

Hati-Hati, Salah Kaprah Definisi Twin Flame dan Soulmate!

Momok twin flame ataupun soulmate dalam pencarian pasangan hidup, yang bukan kunci kesuksesan suatu hubungan.

Hati-Hati, Salah Kaprah Definisi Twin Flame dan Soulmate!
Header diajeng Twin Flame. tirto.id/Quita

tirto.id - Lontaran pemeran serial Gadis kretek, Ario Bayu, di akun sosial medianya beberapa saat lalu, cukup menyita perhatian warganet. Dalam unggahannya itu, ia mempertanyakan soal perbedaan antara twin flame dan soulmate (belahan jiwa) yang kemudian direspon dengan berbagai komentar.

Bukannya tanpa alasan Ario Bayu membahasnya, unggahan itu mungkin lahir karena warganet beranggapan hubungan antara karakter Soeraja yang ia perankan dan Dasiyah merupakan perwujudan dari hubungan twin flame.

Di dunia nyata sendiri, aktris cantik Megan Fox pernah menyinggung hal serupa saat berbicara mengenai sang kekasih, Machine Gun Kelly. Alih-alih mengatakan belahan jiwa, Fox menyebut Machine Gun Kelly sebagai twin flame-nya.

"Menurutku, kita sebenarnya dua bagian dari jiwa yang sama. Dan saya segera mengatakan hal itu kepadanya (Machine Gun Kelly), karena saya langsung merasakannya," ungkap Fox.

Diajeng Twin Flame

Ilustrasi Twin Flame. (FOTO/iStockphoto)

Di ranah relasi, konsep belahan jiwa memang jauh lebih populer ketimbang twin flame.

Belahan jiwa didefinisikan sebagai individu yang membuat seseorang merasa nyaman setiap saat, ada kecocokan satu sama lain karena memiliki perasaan, sikap, dan keyakinan yang sama.

Belahan jiwa bisa berupa banyak orang yang telah menyentuh jiwa dengan cara tertentu, sepanjang hidup seseorang berdasarkan daya tarik magnetis yang dirasakan satu sama lain.

Berdasarkan definisi itu pula, belahan jiwa tidak terbatas pada pasangan romantis melainkan juga teman, kolega, atau bahkan tetangga.

Psikolog Rachel Allyn, Ph.D., menyebut hubungan belahan jiwa digambarkan sebagai hubungan yang lebih saling melengkapi, mengalir, dan bertahan lama. Sehingga seseorang akan menikmati waktu bersama dengan belahan jiwanya itu.

Lalu bagaimana dengan twin flame? Meski konsep belahan jiwa dan twin flame tampak serupa, namun keduanya berbeda cukup signifikan.

Lisa Vallejos, PhD, LPC, seorang terapis yang berspesialisasi dalam hubungan, mendefinisikan twin flame sebagai dua orang yang memiliki hubungan jiwa yang dalam karena kesamaan jalan hidup dan rasa sakit yang sama, bahkan terkadang trauma.

Karena kemiripannya, hubungan ini seakan berfungsi sebagai sumber refleksi yang mencerminkan kekuatan, kelemahan, trauma masa lalu, dan kerentanan satu sama lain.

Biasanya seseorang hanya memiliki satu twin flame dalam hidupnya, dan meski bisa berupa hubungan romantis, relasi mendalam ini juga bisa bersifat platonis atau tidak berpusat pada nafsu dan keinginan duniawi.

"Twin flame bisa menjadi pasangan romantis, sahabat, atau mentor," ungkap Vallejos.

Namun jika memang twin flame merupakan pasangan romantis, dengan intensitas hubungan itu, jarang sekali twin flame bisa menjadi pasangan seumur hidup.

Soalnya, saat mereka berbagi pengalaman dan trauma masa lalu yang serupa, hal ini membuat masing-masing berhadapan dengan ketakutan dan rasa tidak aman yang sama.

Pada akhirnya memaksa mereka untuk menghadapi masalah tersebut melalui ketegangan terus-menerus, yang bisa saja berujung pada hubungan yang saling menyakiti atau ketidakcocokan satu sama lain.

“Hubungan seperti itu biasanya putus karena sangat sulit dipertahankan. Saya percaya twin flame tidak dimaksudkan sebagai hubungan seumur hidup. Mereka dimaksudkan menjadi katalisator,” jelas Vallejos.

Jika memang akhirnya bisa bersatu kembali, mereka mungkin memerlukan periode perpisahan untuk menyembuhkan trauma, menumbuhkan cinta diri, dan bangkit. Yang tentunya tidak terjadi dalam semalam.

Tapi di sisi lain, twin flame adalah orang-orang yang memasuki kehidupan untuk jangka waktu tertentu untuk membantu mengenali kesalahan, mengarahkan ke jalur yang benar, dan berupaya melakukan perubahan.

Sehingga bertemu dengan twin flame dapat memicu potensi dan gairah yang belum tergali dalam diri seseorang.

Masing-masing individu dapat saling mengajarkan pelajaran mendalam dan membantu mereka tumbuh menuju versi terbaik mereka.

Konsep dua jiwa yang terpisah ini bermula dari Elizabeth Clare Prophet, pemimpin Summit Lighthouse dan agama New Age yang dikenal sebagai The Church Universal and Triumphant.

Ia menciptakan istilah twin flame pada tahun 1970an. Pada tahun 1999, ia menerbitkan buku “Soul Mates and Twin Flames: The Spiritual Dimension of Love and Relationships

Namun konsep twin flame ini sebenarnya bisa ditelusuri jauh hingga abad kelima SM.

Menurut mitologi Yunani, manusia mula-mula mempunyai kepala dengan dua wajah, dua pasang lengan, dan dua pasang kaki.

Namun, Zeus takut akan kekuatan mereka dan membagi mereka menjadi dua bagian terpisah. Pasangan ini menghabiskan hidup mereka untuk mencari separuh lainnya.

Diajeng Twin Flame

Ilustrasi Twin Flame. (FOTO/iStockphoto)

Sayangnya, di dunia modern pencarian separuh jiwa itu terkadang berubah menjadi obsesi. Menemukan twin flame adalah segalanya.

Gagasan tentang twin flame bisa bikin beberapa orang terpikat, tetapi yang tidak disadarihal ini dapat menyebabkan hubungan yang sesungguhnya malah tidak berjalan dengan baik. Ini karena seseorang terlanjur punya ekspektasi terhadap konsep relasi tersebut.

Ekspektasi bisa berasal dari konsumsi media massa yang cenderung memberikan gambaran yang tidak realistis tentang suatu hubungan.

Akibatnya, seseorang mungkin mengembangkan gambaran yang terlalu optimis atau idealis tentang seperti apa seharusnya sebuah hubungan.

Misalnya, orang-orang berasumsi kalau pasangan yang sedang jatuh cinta harus dengan mudah memahami keinginan dan kebutuhan satu sama lain tanpa komunikasi eksplisit apa pun.

Asumsi itu tentu mengabaikan fakta bahwa tidak ada seorang pun yang dapat sepenuhnya memahami batin orang lain tanpa komunikasi yang efektif.

Harapan seperti jika dibiarkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan ketidakpuasan dan tantangan dalam hubungan di kehidupan nyata.

Kepercayaan pada takdir romantis atau gagasan bahwa secara kosmik seseorang ditakdirkan untuk bersama dengan orang tertentu juga dapat menimbulkan arrival fallacy.

Arrival fallacy merupakan keyakinan atau anggapan yang salah. Yaitu bahwa saat menemukan pasangan yang sempurna, semua masalah akan lenyap dan merasakan kebahagian abadi.

Padahal itu tidak serta merta menjamin keberhasilan hubungan jangka panjang.

Risiko lain dari pencarian twin flame itu bisa pula membuat seseorang mengabaikan hubungan lain yang sebenarnya lebih sehat.

"Saya telah melihat orang-orang menunda pernikahan karena mereka pikir mereka seharusnya bersama dengan twin flame mereka dan terus menunggu orang tersebut hingga bertahun-tahun," kata Vallejos.

Menemukan relasi yang tulus dan abadi tentu jadi impian setiap orang, tapi jangan sampai terpaku dengan pelabelan sebuah hubungan, apakah itu soulmate atau twin flame. Apalagi untuk mendefinisikan kebahagian atau kesuksesan sebuah hubungan.

Lebih baik ubah persepsi dengan rasa syukur, bahwa semua pertemuan dengan berbagai orang yang pernah terjadi merupakan pengalaman berharga dan bagian dari proses pendewasaan diri yang perlu setiap orang lalui untuk menemukan kebahagian.

Baca juga artikel terkait DIAJENG atau tulisan lainnya dari MN Yunita

tirto.id - Diajeng
Kontributor: MN Yunita
Penulis: MN Yunita
Editor: Lilin Rosa Santi