Di Balik Munas NU: Usaha Jokowi Genjot Suara Nahdliyin di Jabar?

Oleh: Rio Apinino - 28 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Peneliti Politik LIPI menyebut Munas NU adalah upaya untuk memenangkan Jokowi, meski misalnya itu hanya sampingan dari tujuan utama. Ketua PBNU pun mendoakan Jokowi jadi presiden lagi.
tirto.id - Jawa Barat jadi tempat berkonsolidasi Nahdlatul Ulama (NU). Di Banjar, mereka menyelenggarakan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar pada 27 februari sampai 1 Maret. Jumlah pesertanya tak main-main: 50 ribu nahdliyin--sebutan untuk jemaah NU.

Jika dikaitkan dengan kontestasi lima tahunan pemilihan presiden, lokasi acara menjadi menarik disimak. Seperti dinyatakan Yenny Wahid, NU punya kedekatan khusus dengan Joko Widodo, presiden petahana.

Bahkan survei Lingkaran Survei Indonesia Denny JA mengatakan warga NU, juga Muhammadiyah, cenderung memilih Jokowi-Ma'ruf. Pemilih NU yang mendukung petahana sebesar 56,6 persen pada Desember 2018. Sementara Muhammadiyah sebesar 42,2 persen, naik dari survei sebelumnya 40,7 persen.

Di sisi lain, Jawa Barat adalah 'daerah kekuasaan' Prabowo Subianto, lawan Jokowi di pilpres.

Pada Pilpres 2014, Joko Widodo, yang kala itu berpasangan dengan Jusuf Kalla, hanya memperoleh 9.530.315 suara alias 40,22 persen. Sementara Prabowo, bersama Hatta Rajasa, menang telak. Dia dipilih 14.167.381 orang atau setara 59,78 persen.

Dengan konteks demikian, maka tak heran jika acara ini dikait-kaitkan dengan upaya NU membantu Jokowi untuk memenangkan pilpres. Meski NU sendiri, secara organisasi, tak pernah secara terbuka mendeklarasikan dukungan untuk Jokowi, juga Prabowo.


Toh Jabar memang strategis. Angka pemilihnya mencapai 30 juta. Selisih sekian persen saja akan sangat menentukan suara secara nasional.

Tak heran pula kalau masing-masing tim sukses kandidat saling klaim telah memenangkan Jabar via "survei internal"--meski tak jelas bagaimana waktu, sampling, dan metodologi yang dipakai.

Salah satu yang menduga munas dan konbes ini juga upaya mengkonsolidasikan kekuatan petahana adalah peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati. Penulis buku Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia (2017) ini mengatakan acara NU juga dalam rangka merebut lumbung suara dari Prabowo-Sandi.

"Daerah Priangan Selatan, kan, selama ini dikenal sebagai basis kubu Islam konservatif dan mungkin sekaligus Prabowo-Sandi. Jadi Munas NU di Banjar [adalah] upaya untuk mengukuhkan pengaruh di sana," katanya kepada reporter Tirto, Kamis (28/2/2019).

Dugaan ini diperkuat dengan pernyataan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. Dalam sambutannya, Rabu (27/2/2019) kemarin, Cak Imin mengatakan "Insya Allah pasca munas ini Jawa Barat kiai Ma'ruf."


Acara ini sendiri dibuka oleh Jokowi. Dalam sambutannya ia memang tidak berkampanye, tapi memberikan pujian bagi NU. Dia, misalnya, bilang NU merupakan organisasi terdepan yang menjaga Pancasila.

Munas dan konbes jadi ajang mengkonsolidasikan kekuatan untuk memenangkan Jokowi semakin kentara ketika Ketua Umum PBNU, Said Aqil Sirodj, mengatakan semua nahdliyin yang hadir mendoakan Jokowi menang di Pilpres 2019.

"Semua orang di sini mendoakan. Mudah-mudahan Pak Jokowi mendapatkan lagi kepercayaan dari Allah dan rakyat Indonesia," katanya. Tapi Said Aqil mengatakan lagi kalau apa yang dia katakan ini bukan termasuk kampanye.

"Mendoakan, ya, bukan kampanye. Ketua PBNU enggak boleh kampanye," tambahnya.

Pernyataan bahwa acara tersebut bukan kampanye--meski jelas-jelas Said Aqil mendoakan Jokowi menang pilpres--dipertegas oleh Sekjen PBNU Helmy Faishal Saini. Dia bilang Nu tak merancang deklarasi politik apa-apa dalam acara ini.

"Hanya rekomendasi-rekomendasi saja," katanya.

Baca juga artikel terkait NAHDLATUL ULAMA atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Politik)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Rio Apinino
Editor: Jay Akbar
DarkLight