Dahsyatnya Efek Psikologis Pemberian Bunga

Wanita muda melihat pria dengan buket bunga di belakangnya. FOTO/Istock
Oleh: Patresia Kirnandita - 1 Mei 2017
Dibaca Normal 1 menit
Pekan lalu, linimasa media sosial dipenuhi dengan berita dan foto-foto karangan bunga yang ditujukan bagi Ahok-Djarot. Ungkapan duka lara berbaur kalimat komedi menghiasi balai kota hingga berjumlah ribuan buah. Mengapa orang senang memberi ucapan lewat bunga dan menerimanya?
tirto.id - Tidak semua yang ada di kepala atau di hati mampu diungkapkan lewat bahasa verbal. Manusia dari berbagai macam latar budaya pun memilih menggunakan objek-objek sebagai simbolisasi perasaan, pengalaman, pemikiran, hingga impian dan harapannya. Salah satu objek yang lazim dipilih ialah bunga. Seperti pepatah lama, “Katakanlah dengan bunga” jika seseorang ingin menyatakan isi hatinya kepada orang lain. Tak mesti melulu seputar cinta, bunga pun bisa menjadi perlambang simpati atau rasa belasungkawa jika petaka menghampiri kolega atau keluarga. Macam-macam makna di balik jenis dan warna bunga yang diberikan serta sejarah dimulainya tradisi memberikan karangan bunga dapat ditelusuri di berbagai sumber bacaan. Namun, tahukah Anda mengapa orang senang memberi dan menerima karangan bunga?

Studi-studi psikologi mencoba menelaah dampak mental yang dihasilkan dari aktivitas ini. Periset dari Rutgers University, New Jersey, Haviland-Jones dan McGuire menemukan bahwa orang-orang yang menerima bunga cenderung menjadi lebih hangat dan lekat dengan sosok pemberinya. Bahasa nonverbal seperti melangkah lebih dekat kepada si pemberi dan menelengkan kepala dianggap kedua periset ini sebagai isyarat suasana hati seseorang menjadi lebih baik setelah menerima bunga. Sementara, orang yang memberikan bunga menurut observasi Haviland-Jones dan McGuire terlihat lebih bahagia, dianggap lebih sukses dan merupakan orang yang supel.

Lebih lanjut seperti dilansir Rutgers Magazine, Haviland-Jones menyatakan bahwa bunga tidak ubahnya dengan hewan peliharaan yang mampu mereduksi level stres seseorang. Mereka berpendapat, wangi-wangian tertentu yang terdapat pada bunga mampu mengubah suasana hati buruk seseorang. Jika dikaitkan dengan bidang psikologi positif, kondisi emosi yang baik membantu menjaga kesehatan reproduksi seseorang.

Studi psikologi mereka juga menemukan bahwa perempuan yang menerima bunga lebih kerap tersenyum, sementara efek pemberian bunga kepada orang berusia lanjut adalah kecenderungan perbaikan memori mereka.



Dalam penelitian-penelitian lain yang dilansir Huffingtonpost dijelaskan bahwa pemberian dan penerimaan bunga juga membawa efek dalam konteks ruang profesional dan penderita penyakit fisik. Karyawan kantor-kantor yang terbiasa meletakkan tanaman atau bunga di ruangan menunjukkan performa kognitif yang lebih baik daripada karyawan di tempat kerja yang tak memajang bunga atau tanaman.

Sementara, hasil pengamatan lain menunjukkan, pemberian bunga kepada pasien-pasien pascaoperasi di rumah sakit membuat mereka lebih sedikit memerlukan obat pereda nyeri, memperlihatkan tekanan darah sistolik dan denyut nadi yang lebih rendah, serta kecemasan dan keletihan yang lebih sedikit. Efek-efek semacam ini dimungkinkan oleh adanya kondisi mental yang lebih baik setelah menerima bunga. Maka, tak heran jika ada yang mengatakan bahwa obat terbaik bagi pasien adalah situasi psikologis yang baik sebagaimana ingin disampaikan oleh film Patch Adams (1998).

Bunga juga dikaitkan dengan hubungan asmara menurut studi lain yang dikutip dalam situs The Telegraph. Psikolog menemukan kecenderungan perempuan untuk menanggapi pendekatan-pendekatan laki-laki saat mereka membawakan bunga. Lebih lanjut, periset dari University of South Britanny, Prancis, melihat perempuan-perempuan muda lebih berpotensi memberikan kontak mereka kepada laki-laki yang ditemuinya di dekat toko bunga. Seiring dengan temuan seperti ini, Dr. Tom Buchanan, pakar psikologi dari University of Westminster, menyatakan bahwa sejumlah objek dapat mengarahkan seseorang untuk berperilaku tertentu, bahkan tanpa disadarinya. Karena bunga diasosiasikan dengan romansa, orang kerap kali berperilaku menyesuaikan asosiasi atau lingkungan yang mendukung pemikiran ini.

“Temuan penelitian tentang potensi perempuan untuk memiliki ketertarikan asmara dengan laki-laki yang ditemuinya di dekat toko bunga terkait dengan konsep automatic atau behavioral priming. Hal ini merujuk kepada kondisi saat ditemukan banyak pemicu di lingkungan sekitar yang menuntun orang untuk berperilaku yang sinkron dengan situasi atau latar tempatnya berada,” jelas Dr. Buchanan.

Efek-efek psikologis pemberian dan penerimaan bunga ini menjadi pelanggeng tradisi yang telah lama ada. Bisa jadi lantaran mengamini makna simbolis dari bunga, orang-orang tersugesti untuk memiliki perasaan atau pikiran tertentu. Selama berefek positif terhadap kondisi mentalnya, tak ada yang salah dengan mengucapkan gagasan atau menyatakan isi hati dengan bunga, bukan?

Baca juga artikel terkait BUNGA atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight