9 Januari 1839

Daguerreotype: Tatkala Cahaya Tertangkap Plat Tembaga

Ilustrasi Mozaik Daguerreotype. tirto.id/Nauval
Oleh: Ahmad Zaenudin - 9 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Plat tembaga diubah menjadi foto. Berkat Daguerreotype.
Pada Juli 2015, selepas mengangkasa selama sembilan tahun, New Horizon, wahana antariksa milik NASA, menyapa Pluto dari dekat. Di perjumpaan terdekat antara objek buatan manusia dengan planet katai itu, wilayah Pluto bernama Tombaugh Regio yang kemudian dijuluki “The Heart” berhasil dipotret.

Empat tahun berselang, kelompok ilmuwan lintas negara yang tergabung dalam The Event Horizon Telescope sukses menangkap citra lubang hitam di pusat galaksi Messier 87 (M87) untuk pertama kalinya.

Dua momen bersejarah umat manusia memperoleh citra benda angkasa itu dihasilkan dengan biaya yang tidak murah. Untuk memperoleh foto Pluto, misalnya, NASA harus merogoh $700 juta untuk pengembangan dan penelitian New Horizon hingga peluncurannya. Untuk menghasilkan citra lubang hitam, ilmuwan mesti menggunakan delapan teleskop yang sensitif pada gelombang radio yang berada di lima benua, yang diintegrasikan menciptakan satu teleskop besar seukuran Bumi. Total biaya? $116 juta hanya untuk satu teleskopnya di Sierra Negra, Meksiko.

Namun, 181 tahun silam, seorang pria bernama Louis-Jacques-Mandé Daguerre sukses menjadi sosok pertama yang memotret Bulan dengan biaya tak lebih dari $2. Daguerre menghasilkan potret Bulan dengan proses fotografi bernama Daguerreotype.


Murah Meriah

Daguerreotype merupakan proses fotografi yang diciptakan oleh Louis-Jacques-Mandé Daguerre. Dilansir Wired, foto yang dihasilkan melalui proses daguerreotype, tercipta atas proses kimiawi plat tembaga dengan cahaya.

Plat tembaga yang dimaksud bukanlah plat tembaga biasa. Mula-mula, plat tembaga dalam proses daguerreotype harus dilapisi lapisan perak tipis. Lalu, plat dipaparkan dengan gas halogen untuk menciptakan zat perak halida. Kemudian, lazimnya proses memotret, plat tembaga dimasukkan ke dalam unit kamera. Plat berlaku sebagaimana film atau dalam dunia modern, sensor. Plat yang terkena tembakan cahaya objek yang hendak difoto kemudian membentuk atom perak netral. Plat diambil dan diuapkan dengan air raksa.

Proses kimiawi tersebut menciptakan semacam “bercak piksel” pada plat tembaga. Ketika plat direndam dalam natrium tiosulfat, terciptalah foto hitam-abu-abu.

Proses penciptaan foto melalui daguerreotype menihilkan film atau medium cetak lain. Foto dibuat langsung di plat tembaga selepas pantulan cahaya objek mengenainya. Ini mirip teknik foto langsung jadi ala Polaroid atau Fujifilm Instax.

Merujuk laman resmi American Physical Society, asal-usul proses daguerreotype dapat dilacak hingga ke tahun 1814. Kala itu, ilmuwan Perancis bernama Nicéphore Niépce melakukan riset “menangkap cahaya” melalui kamera obscura. Dua tahun berselang, Niépce sukses mengalihkan hasil “tangkapan cahaya” itu ke dalam kertas untuk menghasilkan foto.

Masalahnya, foto yang tercetak di kertas tak bertahan lama. Pada 1822, ia berusaha menciptakan teknik fotografi yang dapat menghasilkan foto permanen. Akhirnya, tiga tahun berselang, Niépce sukses menghasilkan foto permanen memanfaatkan plat timah yang dilapisi bitumen. Sayangnya, proses penciptaan foto ala Niépce membutuhkan waktu lama, sekitar delapan jam.

Louis Daguerre, yang merupakan koleganya, akhirnya menciptakan proses fotografi ala Niépce dalam waktu yang lebih singkat.

Pada 7 Januari 1839, di ruang French Academy of Sciences, lembaga ilmu pengetahuan Perancis, Daguerre menjelaskan temuannya. Dua hari setelahnya, tepat hari ini 181 tahun lalu, lembaga itu mengumumkan temuan Daguerre kepada khalayak. Pada Agustus tahun yang sama, sebagaimana dicatat Peter Walsh dalam “Dublin's First Look into the Camera: Some daguerreotype portrait studios of the 1840s" (2009), pemerintah Perancis memberikan hak pada Daguerre untuk menyebarkan temuannya itu secara gratis, kecuali untuk wilayah Inggris. Di tanah Ratu Victoria itu, Daguerre memperoleh upah lisensi atas temuannya.





Dalam studi “Season of Light and Darkness: ‘A Tale of Two Cities’ and the Daguerrean Imagination" (2011), Susan Cook menegaskan penciptaan foto dengan memanfaatkan proses daguerreotype sebagai “kesuksesan komersial” yang bisa terjadi atas dua sebab. Pertama, Cook menyebut daguerreotype menghasilkan foto “dengan kualitas yang unik”. Mungkin, keunikan terjadi lantaran foto yang dihasilkan dalam proses daguerreotype hanya berwarna hitam atau abu-abu. Lalu, dengan plat tembaga, foto dapat bertahan lama.

Alasan kedua, menghasilkan foto melalui daguerreotype terhitung murah. Untuk menghasilkan foto berukuran 1⅝ inci x 1⅜ inci, hanya perlu uang .25 sen atau setara dengan $7 pada kurs dolar saat ini. Sementara itu, foto berukuran medium hanya perlu ditebus dengan uang $2 atau setara $55 dengan kurs sekarang.

Saking murahnya produksi foto via daguerreotype, diperkirakan ada sekitar tiga juta foto hasil proses daguerreotype pada 1853.

Jelas, selain memiliki keunggulan, daguerreotype pun punya kelemahan. Karena berbasis plat tembaga, hampir mustahil menduplikasi foto yang telah dihasilkan. Kelemahan ini diperbaiki George Eastman yang merilis Kodak Brownie pada 1900. Hanya dengan $1, setiap orang dapat menghasilkan foto dan menduplikasinya dengan mudah karena kamera ini memanfaatkan film.

Baca juga artikel terkait FOTOGRAFI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight