Conor McGregor Pensiun, Ada yang Hilang dari UFC

Oleh: Renalto Setiawan - 27 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Conor McGregor merupakan petarung MMA pertama yang berhasil mengawinkan dua gelar juara dunia kelas ringan UFC dari divisi yang berbeda.
tirto.id - Conor McGregor memang sudah bukan lagi raja di UFC, tapi ia masih menjadi bahan pembicaraan utama dalam salah satu kompetisi Mixed Martial Arts (MMA). Personanya menjadi salah satu alasan, omong besarnya menjadi alasan lain, dan tingkah absurdnya memang tak pernah lepas dari lampu sorot.

Namun mulai Selasa (26/3), UFC akan kehilangan salah satu petarung terbaiknya itu: McGregor memutuskan undur diri dari MMA.

Melalui akun Twitter pribadinya, @TheNotoriousMAA, pria Irlandia itu mencuit, “Hai kawan-kawan, pengumuman singkat. Pada hari ini saya memutuskan pensiun dari olahraga yang secara formal disebut Mixed Martial Arts (MMA). Saya doakan kolega lama saya meraih sukses di kompetisi ini.”

Diwartakan Guardian, tanda-tanda bahwa McGregor akan mundur sudah terlihat beberapa jam sebelumnya. Hadir dalam acara Jimmy Fallon Show, Gregor memang mengaku bahwa ia rindu bertarung di octagon, tapi juga mulai memikirkan untuk mundur.

“Aku sudah melakukan banyak hal, aku sudah banyak bertarung. Aku tidak pernah mundur dari kontes. Aku sudah banyak mengalami cedera mengerikan, mengalami beberapa situasi eksternal gila yang kebanyakan pria akan memilih berlari ke bukit saat mengalaminya,” tutur McGregor dalam acara itu.

Entah apa dasar keputusannya, ia akhirnya memilih opsi yang kedua. Yang mengejutkan, ia ternyata bisa mengambil keputusan secepat itu. Banyak orang lantas kaget. Dana White, Presiden UFC, adalah salah satunya.

White, yang menilai bahwa keputusan McGregor mundur sangat “masuk akal”, kemudian hanya bisa mengatakan, “Ia sangat menyenangkan untuk ditonton. Dia telah mendapatkan hal-hal luar biasa dalam olahraga ini. Aku sangat gembira untuknya dan tidak sabar untuk melihatnya mendapatkan kesuksesan di luar octagon.”


Petarung Kontroversial

Sejauh ini McGregor sudah bertanding sebanyak 25 kali di UFC. Mantan juara dunia kelas ringan itu menang 21 kali dan 4 kali mengalami kekalahan. Dan pertandingan terakhirnya di UFC, melawan Khabib Nurmagomedov pada Oktober 2018 lalu, dapat membuktikan bahwa ia adalah atlet tarung bebas yang amat kontroversial.

Khabib sebenarnya ingin bertarung melawan McGregor sejak 2016 lalu, tetapi McGregor tak menggubrisnya karena terlalu sibuk mengumpulkan pundi-pundi uang memanfaatkan nama besarnya. Merasa kesal, Khabib lantas menabuh genderang perang.

"Kehebatan McGregor itu cuma dibesarkan oleh humas UFC. Bocahmu itu memulai tahunnya dengan menyerah seperti pengecut pada Nate Diaz. Tapi di akhir tahun dia bertarung untuk gelar. Gila memang. Aku ingin bertarung dengan si pengecut itu, karena itu bakalan jadi pertarungan nomor satu paling mudah di divisi kelas ringan," kata Khabib.

Sekitar dua tahun setelah kejadian itu, keduanya akhirnya bertanding untuk memperebutkan gelar juara dunia kelas ringan yang dipegang oleh Khabib. Masalahnya, McGregor membikin tensi pertandingan memanas, dengan membalas ejekan Khabib tanpa memikirkan akibatnya. Dalam sesi timbang badan, ia melecehkan ayah Khabib, memaki agama Khabib, serta mengolok-ngolok petarung Rusia itu di depan umum.

Suasana panas itu bahkan berlanjut hingga sesudah pertandingan. Setelah Khabib mengalahkan McGregor, tim McGregor terus bersikap rasis terhadap Khabib. Pria Rusia itu pun melompat ke luar dari octagon dan memicu perkelahian massa. Karenanya, McGregor harus menanggung akibatnya: ia dilarang bertarung selama 6 bulan dan harus membayar denda sebesar 50 ribu dolar Amerika.

Yang menarik, perlakuan buruk McGregor terhadap Khabib itu ternyata bukan sekali saja. Sebelumnya, ia pernah ingin melempar Nate Diaz dengan menggunakan botol, nyaris memukul Eddie Alvarez dengan kursi, hingga berkata-kata rasis saat akan bertanding tinju melawan Floyd Mayweather Jr.

“Aku rasa, saat Anda mendapatkan status setinggi ini, Anda harus mampu membawa diri Anda dengan cara yang berkelas. Aku tahu, saat kami bertanding, kami berhasil membuat tiket ludes terjual. Dunia menyukai apa kami lakukan, tetapi di luar ring, Anda harus bisa bertingkah sebagai pria sejati,” kata Mayweather, soal kelakuan buruk McGregor.

Infografik Conor McGregor
Infografik Conor McGregor. tirto.id/Nadya


Memiliki Nilai Jual


Menyoal tingkah buruk McGregor, Joe Callaghan, koresponden The Times, hanya mempunyai satu kesimpulan: McGregor ahli dalam bidang pemasaran.

Menurut Callaghan, segala kontroversi yang dilakukan McGregor adalah salah satu faktor mengapa UFC laris manis di mata penggemarnya. Dalam pertandingan McGregor melawan Khabib, misalnya. Meski sebelum pertandingan McGregor bertindak rasis terhadap Khabib, para penonton tetap datang ke Las Vegas, tempat digelarnya pertandingan. Malahan, karena saking banyaknya penonton, UFC terpaksa menambah bangku penonton dengan mengurangi ruangan pers. Harga tiket kemudian dinaikkan, tapi tetap ludes terjual.

Selain itu, pertandingan itu juga menjadi pertandingan paling laku dalam sejarah UFC. Hingga beberapa hari setelah pertandingan, pay-per-view laga itu mencapai 2,5 juta dolar Amerika. Sebelumnya, pay-per-view UFC terbanyak hanya mencapai 2 juta dolar Amerika.

Lantas, apakah mereka nilai jual McGregor hanya sebatas karena tingkah kontroversialnya itu? Tentu, tidak. Setidaknya, Zach Baron, jurnalis GQ, pernah berpendapat bahwa McGregor adalah seorang petarung yang sangat menarik.

Bersama Ronda Rousey, petarung MMA perempuan, McGregor merupakan daya tarik UFC. Namun, sejak Rousey kalah untuk pertama dari Holly Holm pada 2015 dan sempat menepi selama bertahun-tahun, McGregor berhasil mengangkat UFC sendirian, membuat nilai jual UFC mencapai 4,2 juta dolar Amerika. Alasannya jelas: di luar kontroversi yang sering ia bikin, cara bertarung McGregor di dalam Octagon memang memanjakan untuk ditonton.

Soal itu, Baron menulis, “Anda dapat menonton semua pertarungan Conor McGregor pada sore hari. Bahkan jika Anda bukan penggemar MMA, aku akan mendorong Anda untuk menontonnya. Soal waktu, dia sangat jenius. Dia mampu menemukan cara untuk memukul orang ketika mereka dalam keadaan paling tidak siap untuk dipukul. Selain itu, dia sangat tenang saat berada di dalam octagon daripada saat berada di toko kelontong pada sore hari.”

Dengan cara seperti itu, McGregor kemudian menjadi petarung pertama dalam sejarah UFC yang mampu memegang dua gelar juara dunia kelas ringan dalam divisi yang berbeda (UFC 194 dan UFC 205). Tak heran jika ia kemudian menjadi ujung tombak UFC untuk mengeruk keuntungan. Maka, pensiunnya McGregor tentu patut untuk disesali tentu saja bagi penggemar MMA, dan UFC.

Baca juga artikel terkait UFC atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Suhendra