Cegah Pelecehan Seksual Anak, Pengetahuan Seks Jangan Jadi Tabu

Oleh: Felix Nathaniel - 4 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Menurut KPAI, child grooming tidak hanya terjadi lewat internet, tapi juga di ruang terbuka, sekolah atau bahkan di lingkungan keluarga sendiri.
tirto.id - Lima puluh anak menjadi korban pelecehan seksual oleh pelaku berinisial TR. Foto mereka yang setengah telanjang atau mengekspos bagian tubuh sensitifnya terdapat di laptop dan gawai pelaku.

TR menggunakan metode child grooming atau secara mudah diartikan memangun hubungan emosional dengan anak-anak untuk tujuan pelecehan seksual. Modus ini pelaku lakukan agar bisa meminta foto atau hal lain kepada korban dengan mudah.

TR mendekati korbannya dengan berpura-pura menjadi guru korban, mengancamnya tak naik kelas atau akan memberi nilai jelek, kemudian meminta foto tak senonoh. Ia mendapatkan identitas beserta foto guru tersebut dari media sosial. Ia kemudian membuat akun palsu dan mengontak korban.

Kepolisian mengaku kesulitan mencegah kejahatan seksual dengan modus seperti itu secara menyeluruh. Kabag Penum Mabes Polri Kombes Asep Adi Saputra mengatakan para pelaku kerap berkomunikasi lewat pesan pribadi di Facebook dan Instagram atau melalui WhatsApp.

"Ada yang membangun sifatnya orang per orang via DM (Direct Message). Itu jadi problem masalah pengungkapan juga," kata Asep di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (8/3/2019).

Asep berdalih ruang yang bisa polisi pantau hanya unggahan di media sosial yang terbuka untuk publik.

"Kami melakukan bimbingan, penyuluhan, ada patroli siber juga di dunia maya terhadap konten-konten, akun-akun yang melibatkan pornografi. Apabila itu menjadi sebuah gejala yang tidak bisa lagi kami ingatkan, kami lakukan penegakan hukum," jelasnya.


Sementara pelaksana tugas Direktur Pengendalian Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Riki Arif Gunawan menyampaikan peran orang tua penting mengatasi child grooming.

"Menurut kami [aplikasi internet] enggak ramah buat anak. Kalau dia mau pakai internet harus didampingi, harus dijaga, harus diberikan kesadaran," tegas Riki dalam kesempatan yang sama.

Kemenkominfo juga kesulitan menghentikan child grooming melalui internet. Riki berdalih kementeriannya hanya berwenang menghapus konten pronografi dan perjudian, sedangkan untuk yang menggunakan pesan pribadi harus ada laporan dari korban terlebih dahulu.

Riki mengatakan untuk kasus child grooming melalui aplikasi Hago telah ada kesepakatan bahawa informasi pribadi tidak bisa lagi dibagikan di sana. Jika ada informasi seperti itu, aplikasi Hago akan menghapusnya. Namun untuk aplikasi lain, ia mengatakan Kemenkominfo tak bisa melarang hal tersebut.

"Kewenangan itu tidak ada. Kewenangan itu ada di KPAI, ada di kepolisian. Kalau itu diberikan ke kami, kami akan melakukan penutupan," tuturnya.

Jangan Tabu Bicara Seks


Menurut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitti Hikmawatty, child grooming tidak hanya terjadi lewat internet, tapi juga di ruang terbuka, sekolah atau bahkan di lingkungan keluarga sendiri. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua dan guru mencegah pelecahan seksual terhadap anak.

Tabu dan perasaan tak nyaman membahas soal seks dengan orang-orang terdekat sebenarnya tak hanya di Indonesia, di negara maju macam Inggris pun pembahasan mengenai kesehatan reproduksi beserta relasi masih dipandang sebelah mata.

Tahun 2011, BBC merilis berita berisi hasil survei yang diselenggarakan situs BabyChild terhadap 1.700 orang tua anak usia 5-11 tahun. Sebanyak 59 persen dari mereka tak setuju dengan pendidikan seks untuk anak dengan alasan tidak pantas menyampaikannya kepada para buah hati mereka.

Mulai September 2019, sekolah-sekolah di Inggris diminta untuk menyampaikan pendidikan seks dan relasi. Dilansir situs Union News, National Education Union (NEU) membuat survei terhadap 560 pekerja bidang pendidikan mengenai tanggapan dan kesiapan akan penerapan kebijakan ini.


Hasilnya, 96 persen dari mereka menganggap pendidikan seks dan relasi adalah hal yang penting, tetapi hanya 29 persen responden yang mengatakan cukup yakin sekolah tempat mereka bekerja siap membawakan materi ini mulai September 2019.

Hampir 70 persen responden mengklaim staf di sekolah tidak mendapatkan pelatihan pendidikan seks dan relasi yang cukup.

Meski begitu, Sitti menganjurkan pendidikan seks sejak dini diberikan kepada anak. Ia mengatakan usia sekitar enam tahun ketika komunikasi mulai lancar bisa jadi pertimbangan untuk memulai pendidikan seks.

"Disampaikan pada anak, tapi dengan tetap memperhatikan tahap perkembangan pada anak itu sendiri," kata Sitti.

Sitti berpandangan cara orang tua dengan melarang anak bermain gawai tidak akan menyelesaikan masalah. Ia mengatakan orang tua perlu bicara secara terbuka soal seks dengan anak.

"[Pendidikan seks] Bukan hal tabu lagi selama diberikan dengan cara benar dan profesional," ujarnya.

Baca juga artikel terkait PELECEHAN SEKSUAL ANAK atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight