Catatan Harian yang Jadi Modal Solskjaer Melatih MU

Oleh: Eddward S Kennedy - 3 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Melihat bagaimana kebiasaan mencatat Ole Gunnar Solksjaer menjadi modal utamanya untuk melatih.
tirto.id - Ada banyak kisah mengenai seorang (mantan) pesepakbola atau pelatih yang memiliki ketertarikan serius dalam bidang literasi. Ada yang menulis novel, buku anak-anak, menjadi kolumnis di media tertentu, hingga membuat buku panduan perjalanan.

Empat tahun lalu, West Bromwich Albion mendatangkan seorang manajer bernama Pepe Mel dari Real Betis untuk menggantikan Steve Clark. Pria asal Spanyol kelahiran 28 Februari 1963 bukan pelatih yang spesial. Sepanjang 18 bulan melatih West Bromwich, Mel membawa klub tersebut hanya menempati peringkat 17 di Premier League pada akhir musim.

Kendala bahasa menjadi persoalan utama Mel kala menangani West Bromwich. Ia pun harus mengalokasikan waktunya selama satu jam setiap hari untuk les bahasa Inggris demi mempermudah komunikasi. Apa boleh bikin, sepanjang karier profesionalnya --baik sebagai pemain maupun pelatih-- baru kali itu Mel hijrah ke Inggris.

Tapi cerita menarik Mel bukan soal itu. Di sela-sela kesibukannya tersebut, Mel rupanya tengah merampungkan sebuah novel yang bercerita tentang kehidupan Velazquez, pelukis legendaris dari Spanyol yang hidup pada abad 17.

Hobi menulis Mel bukan sekadar pengisi waktu selang belaka. Ia memang penulis serius. Sebelumnya ia telah menerbitkan novel pertama yang berjudul Mentiroso atau Pembohong: sebuah novel misteri yang bercerita tentang kolektor barang antik yang berselisih dengan Vatikan dalam perburuan manuskrip yang dicuri. Novel yang terbit pada Oktober 2011 itu dirampungkan Mel dalam waktu lima tahun.

"Apa yang saya suka dari menulis adalah proses menyiapkan semuanya. Plot dari novel ini merefleksikan hasrat saya, mengenai hal sehari-hari yang saya sukai. Novel ini juga membuat saya jadi lebih santai dan di antara beberapa halaman saya berpikir bagaimana cara untuk menghentikan Cristiano Ronaldo,” ujar Mel mengenai novel pertamanya tersebut.

Steve Bruce, salah seorang legenda United yang juga malang melintang melatih di Premier League, juga seorang penulis yang cukup produktif. Ketika melatih Huddersfield Town pada musim 1999/2000, Bruce merampungkan seri novel kriminal-misteri yang berjudul: Defender!, Striker!, dan Sweeper!. Ketika diwawancara Euro Sport pada 2012, Bruce mengenang kembali novel-novel tersebut sambil tersipu malu.

"Itu sudah lama sekali, dan saya tak yakin kalau saya ingin diingat karena novel tersebut begitu buruk. Itu jadi bahan tertawaan, jujur saja. Saya pikir novel itu masih ada di rak di suatu toko dan saya yakin Anda bisa mendapatkannya dengan harga £99."

Pada medio 1970-an, Terry Venables juga pernah menulis seri novel bersama penulis olahraga, Gordon Williams. Novel pertama mereka berjudul They Used To Play on Grass. Terbit pada 1971, novel yang serupa nubuat itu bercerita tentang kemunculan pesepakbola-selebriti dan bagaimana sepakbola di masa depan kelak dimainkan di atas rumput sintetis.

Nama-nama (mantan) pesepakbola dan pelatih lain yang juga menulis novel sejatinya masih cukup banyak. Fransesco Totti, misalnya, pernah membuat sebuah buku panduan perjalanan khusus kota Roma berjudul E o’ te Spiego Roma. Sementara Frank Lampard juga telah menulis banyak buku anak-anak yang diberi tajuk Frankie's Magic Football. Demikian pula dengan Mark Schwarzer yang membuat serial buku anak bertajuk Megs.

Di tempat teratas daftar pesepakbola dan minatnya terhadap literasi ada nama David Icke. Sejak pensiun dari lapangan hijau, mantan pemain Oxford United dan Coventry City ini menjadi penganut teori konspirasi dan menghasilkan puluhan buku terkait hal tersebut. Salah satunya berkisah mengenai “Project Camelon” yang mengakibatkan isu kiamat 2012, keberadaan planet-X dan Nibiru, hingga ras reptilian (Anunnaki) yang selama ini dipercaya telah merasuki para pemimpin dunia.

Dari sekian deretan nama di atas, tersebutlah pula Ole Gunnar Solskjaer. Berbeda dengan pesepakbola atau pelatih lain, Solksjaer “hanya” menulis catatan harian. Namun, kelak, catatan itulah yang dijadikannya sebagai salah satu pedoman saat melatih United hari ini.

Mencatat dan Mentransfer Ilmu


Sejak diumumkan sebagai manajer interim Manchester United, Solskjaer terus menunjukkan kualitas kepelatihannya. Bekas pemain yang dahulu dijuluki “The Baby-Faced Assassin” itu membawa Red Devils meraih empat kali kemenangan beruntun di kancah Premier League, mencetak 14 gol, dan hanya kemasukan 3 gol.

United berturut-turut sukses mengalahkan Cardiff City 1-5 (23/12/2018), Huddersfield Town 3-1 (26/12/2018), Bournemouth 4-1 (30/12/2018), dan Newcastle 0-2 (3/1/2019) lewat gol Romelu Lukaku dan Marcus Rashford. Dengan kemenangan yang diraih itu, United kini bercokol di peringkat enam klasemen sementara Premier League dengan torehan 38 poin, tertinggal enam angka dari Chelsea di peringkat empat atau batas akhir zona Liga Champions.

Menarik melihat bagaimana metode kepelatihan Solskjaer bisa memberi hasil awal yang memuaskan bagi Red Devils. Dan, percaya atau tidak, salah satu metodenya ditakik dari berbagai catatan harian yang pernah dibuat Solskjaer sejak ia memulai karier sepakbolanya di Clausenengen FK.

“Saya selalu memikirkan cara mencetak gol sejak bermain untuk Clausenengen di kampung halaman. Alih-alih mendengarkan apa yang dikatakan guru di sekolah, saya selalu mencatat berbagai peluang (gol) yang gagal saya tuntaskan di sebuah buku sembari berpikir, “seharusnya saya bisa menuntaskan itu’,” kenang Solskjaer seperti dilansir Manchester Evening News.

Kebiasaan mencatat segala menu latihan tersebut berlanjut ketika Solskjaer hijrah ke United pada musim 1996-1997. Di Old Trafford ia bertemu dengan seorang psikolog olahraga kawakan bernama Bill Beswick. Pria 68 tahun asal Inggris tersebutlah yang menempa kepercayaan diri Solskjaer agar ia lebih tenang di muka gawang.

“Saya mulai menulis diari sejak pertama kali bertemu dengan Bill Beswick. Dia membuat saya sadar betapa pentingnya melatih kepercayaan diri. Saya memulai buku diari itu dengan menulis ‘sudah cukup banyak penampilan dan kepercayaan diri yang buruk yang telah saya lakukan’ -- dan ketika itu saya berusia 27 tahun,” tukasnya.

Pada 2007 atau menjelang dirinya pensiun, Solskjaer diminta oleh Sir Alex Ferguson untuk ikut dalam tim kepelatihan yang menangani para penyerang. Bukan tugas mudah tentunya. Selain karena tak hanya harus melatih teknik para (calon) striker haus gol yang kala itu masih berusia belia seperti Cristiano Ronaldo (22 tahun), Wayne Rooney (22 tahun), dan Carlos Tevez (23 tahun), Solskjaer juga diminta untuk mengajarkan bagaimana cara mengontrol ego masing-masing di lapangan.

“Tugas pertama saya sejak pensiun bermain adalah melatih para pemain depan. Jadi, saya bekerja dengan Cristiano, Wayne, Danny Welbeck, Tevez. Itu awal yang bagus buat saya. Saya akan membagi pengetahuan itu. Saya ingin masuk ke dalam kepala mereka. Saya ingin mempelajari apa yang pemain pikirkan," ujarnya kepada The Telegraph.

Hasilnya menakjubkan: Pada musim 2008-2009, United meraih gelar liga, Liga Champions, dan Piala Dunia Antarklub FIFA. Jelas bahwa keberhasilan tersebut bukan andil Solskjaer seorang, tapi pemahamannya sebagai mantan striker maut (126 gol dalam 366 laga bersama United), sudah tentu ikut menentukan kualitas ketajaman lini depan Fergie Babes kala itu.

Infografik Ole Gunnar Solskjaer
Infografik Ole Gunnar Solskjaer


Untuk urusan mencetak gol, Solskjaer memang punya pandangan tersendiri yang berbeda dengan apa yang diyakini Jose Mourinho. Jika pelatih asal Portugal itu berpendapat bahwa mencetak adalah sesuatu yang natural, instingtif, dan tidak bisa diajarkan, Solskjaer justru menganggap bahwa kehebatan seorang striker adalah sesuatu yang dapat dipelajari.

“Saya tidak terlahir sebagai striker. Saya mempelajari bagaimana cara menuntaskan peluang, mempelajari bagaimana gol dapat terjadi, mempelajari pergerakan,” jelas Solskjaer di laman resmi klub. Kini, ketika menangani United, hal tersebutlah yang ia ajarkan kepada Rashford sebagai pemain/striker termuda di Old Trafford (21 tahun).

“Marcus memiliki banyak nilai lebih dalam hal fisik daripada saya. Kecepatannya, kekuatannya, dan kemampuannya menembak dari luar kotak penalti. Tapi mungkin saya bisa memberikan sedikit cara yang dapat dilakukan ketika berada di dalam kotak. Maksudnya semacam pergerakan kecil yang dapat membebaskanya dari pengawalan, dan ketenangan di muka gawang."

Sejauh ini, petuah Solskjaer masih mujarab. Selain berhasil meraih kemenangan tanpa kebobolan, watak United yang khas Fergie kembali muncul di laga melawan Newcastle: pantang menyerah, serangan balik yang efektif, dan Lukaku yang menjadi pemain super sub--sebagaimana Solskjaer dulu.

Jika Solskjaer terus membawa anak asuhnya tampil seperti ini, nama Marcelo Bielsa yang digosipkan akan melatih Red Devils musim depan sepertinya tak lagi menarik untuk dibicarakan.

Baca juga artikel terkait PREMIER LEAGUE atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nuran Wibisono