Menuju konten utama
Periksa Fakta

Candi Borobudur Disebut Bukan Candi Buddha, Bagaimana Faktanya?

Menurut beberapa sumber kredibel, Candi Borobudur merupakan Candi Buddha.

Candi Borobudur Disebut Bukan Candi Buddha, Bagaimana Faktanya?
Periksa Fakta Candi Borobudur Bukan Candi Buddha. tirto.id/Mojo

tirto.id - Pada 7 April 2023, unggahan tentang Candi Borobudur berlalu lalang di Facebook. Candi yang terletak di Magelang, Provinsi Jawa Tengah itu diklaim bukan merupakan Candi Buddha.

“Dikira Candi Budha!! Sejarah di bengkokan penjajah!! Ternyata candi Borobudur bukan candi budha!!,” begitu bunyi unggahan berbentuk video dari akun Facebook dengan nama “I Love you” (tautan).

Akun tersebut mengunggah video dengan durasi 15 menit 50 detik yang menunjukkan beberapa footage, termasuk pemandangan candi dan rekaman orang tengah beribadah.

Periksa Fakta Candi Borobudur

Periksa Fakta Candi Borobudur Bukan Candi Buddha. (Sumber: Facebook)

Per Rabu (12/4/2023), video ini telah disaksikan 133 ribu orang dan unggahannya memperoleh 2.300 impresi serta 451 komentar.

Lantas, bagaimana fakta yang sebenarnya?

Penelusuran Fakta

Tim Riset Tirto menyaksikan keseluruhan video ini.

Isi videonya kurang lebih menerangkan soal sejarah Candi Borobudur. Narator menyebut pada menit-menit awal bahwa Hindu Buddha berasal dari India, namun situs-situs dan ajarannya di Nusantara tidak berdasar dari Hindu Buddha dari India.

Selain itu, narator menyampaikan, video ini berdasar pada telaah kajian akademik yang dilakukan oleh Santo Saba Piliang. Disebutkan, terdapat 160 panel pada relief dasar Candi Borobudur yang kini tidak dieskpos bahasa dan ajaran yang mendasarinya, padahal itu asli ajaran leluhur kita.

“12 kata Swarga membuktikan bahwa di tanah inilah ajaran dharma original berawal dan berasal, yang kini tersimpan sempurna di Bali. Di masa lalu, ajaran asli Nusantara ini dibawa leluhur kita kaum Caka/Saka/Cakya/Arya ke luar Nusantara Indonesia untuk disebarkan,” kata narasi video.

Sebenarnya, ketika menelusuri tentang Candi Borobudur di pencarian Google, setiap informasi yang muncul di situs-situs terpercaya menyatakan Candi Borobudur merupakan Candi Buddha.

Dalam situs resmi Pemerintah Magelang, disebutkan bahwa Candi Borobudur, selain Candi Pawon dan Candi Mendut, merupakan candi Buddha yang dibangun oleh Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra pada abad ke-8.

Saat Tim Riset Tirto melakukan penelusuran lanjutan, kami menemukan publikasi tahun 1983 berjudul “Borobudur 1973 – 1982” yang diterbitkan oleh Panitia Nasional Peresmian Berakhirnya Pemugaran Candi Borobudur, yang juga menyebut Candi Borobudur adalah Candi Buddha.

Dalam buku itu dikatakan, Candi Borobudur merupakan peninggalan budaya bangsa yang mencerminkan keluhuran nilai, sistem teknologi dan pengetahuan, serta sistem sosial yang berlaku pada masa pembangunannya.

Menjelang tahun 1814, Borobudur muncul dalam dunia ilmu pengetahuan modern. Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Inggris pada masa pemerintahan Inggris yang singkat (!811 – 1816), menugasi seorang insinyur mengadakan penyelidikan. Sebanyak 200 orang bertugas menebangi pohon, membakari semak-semak, dan menggali tanah yang mengubur candi itu.

Kemudian pada tahun 1835, Borobudur akhirnya bertengger bebas di atas bukit dengan bagian kakinya terselubung. Antara tahun 1890 – 1891, seluruh kaki terselubung itu dibuka dan panel-panel relief yang sudah lama terpendam dipotret sebelum 12 ribu meter kubik batu tersebut ditata kembali.

“Sesungguhnya, bila dibandingkan dengan usianya, penggunaan Borobudur sebagai tempat ziarah penganut agama Buddha amatlah singkat; kira-kira 150 tahun, dihitung dari saat para pekerja mulai menghiasi bukit (alami) Borobudur dengan batu-batu di bawah pemerintahan Raja Samaratungga, dinasti Syailendra sekitar tahun 800-an,” tulis laporan itu.

Lebih lanjut diterangkan, sebagai peninggalan budaya yang didirikan pada masa kejayaan agama Buddha Mahayana di Indonesia, yaitu pada abad IX, struktur bangunan dan ragam hiasnya menggambarkan lintasan hidup yang ditempuh oleh setiap individu untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi.

Relief yang mengisi bidang-bidang hias kaki candi menggambarkan tataran hidup yang masih dikuasai oleh nafsu dan kenikmatan (kamadhatu). Tataran berikutnya menggambarkan kehidupan ideal yang harus ditempuh oleh setiap individu dalam usahanya melepaskan diri dari segala kesengsaraan dan siklus reinkarnasi (rupadhatu).

Tataran hidup selanjutnya yaitu arupadhatu atau "tanpa perwujudan," tercermin dalam puncak candi yang tidak beragam hias kecuali stupa-stupa yang di dalamnya terdapat patung Buddha. Puncak Borobudur itu melambangkan nirwana sebagai tujuan akhir.

Lebih lanjut, laman UNESCO terkait Borobudur sebagai salah satu warisan budaya dunia juga menyebut bahwa Borobudur adalah candi Buddha. Berdasarkan deskripsi UNESCO, pada Borobudur, stupa utama terbesar terletak di tengah, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat patung Buddha.

Perlu diketahui pula bahwa stupa adalah lambang dari agama Buddha yang berbentuk mangkuk terbalik, dengan bentuk persegi empat dan atau segi delapan (harmika), serta bentuk tongkat di atasnya, melansir dari laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI.

Dengan demikian, dapat disimpulkan Candi Borobudur merupakan Candi Buddha.

Sementara untuk memastikan asal muasal klaim dalam video, Tirto juga mencari tahu terkait Santo Saba Piliang. Menurut penelusuran Google, Santo pernah mempublikasikan beberapa buku, dua di antara yang berhubungan dengan Candi Borobudur berjudul “Borobudur, Bernama Asli Vhwana Caka Phala” dan “Klarifikasi Catatan Sejarah Borobudur: Borobudur Bukan Candi.”

Namun demikian, dalam kedua buku itu tidak memuat kesimpulan bahwa Candi Borobudur bukan merupakan Candi Buddha.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, narasi tentang Candi Borobudur bukan candi Buddha bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

Menurut situs resmi Pemerintah Magelang dan buku yang diterbitkan oleh Panitia Nasional Peresmian Berakhirnya Pemugaran Candi Borobudur, serta lembaga internasional seperti UNESCO, Candi Borobudur masih disebut sebagai Candi Buddha.

Publikasi Santo Saba Piliang terkait Candi Borobudur yang berjudul “Borobudur, Bernama Asli Vhwana Caka Phala” dan “Klarifikasi Catatan Sejarah Borobudur: Borobudur Bukan Candi” tidak memuat kesimpulan bahwa Candi Borobudur bukan merupakan Candi Buddha.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan lainnya dari Fina Nailur Rohmah

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty