Leila S. Chudori

"Bumi Manusia Itu Termasuk yang Susah Diulas"

Oleh: Faisal Irfani - 10 September 2019
Dibaca Normal 6 menit
Bagi Leila, tantangan menulis kritik film adalah bagaimana beradaptasi dengan medium.
tirto.id - Leila S. Chudori punya dua dunia yang saling berkelindan: sastra dan jurnalisme. Reputasinya di dua bidang tersebut sama-sama menjulang. Sebagai penulis, misalnya, Leila sudah menelurkan beberapa karya yang banjir pujian, seperti Kelopak-Kelopak yang Berguguran (1984), Malam Terakhir (1989), 9 dari Nadira (2009), dan Pulang (2012).

Sementara di dunia jurnalistik, ia sudah makan asam garam. Sejak bergabung dengan Tempo pada 1989, Leila telah mewawancarai H.B. Jassin, Paul Wolfowitz, Bill Morison, Corry Aquino, Yasser Arafat, Nelson Mandela, hingga Robert Mugabe yang baru meninggal dunia pada 6 September 2019 lalu.

Tapi, Leila lebih dikenal sebagai kritikus film, sebuah predikat yang ditampiknya. Pada Kamis (29/8/2019) di sebuah kafe di Plaza Senayan, Tirto berkesempatan untuk mewawancarainya. Berikut petikannya.


Kenapa menolak disebut kritikus film?

Sebetulnya bukan menolak. Sebutan kritikus itu cenderung berat dan serius. Menurut saya, saya ini, kan, wartawan yang kemudian diminta untuk menulis soal film. Ketika saya di Tempo di awal-awal tahun pertama, setiap wartawan keliling di berbagai desk. Waktu saya jadi reporter, saya pernah ditempatkan di desk politik, ekonomi, hukum, kriminal, dan seni. Setelah beberapa tahun, baru nanti akan di lihat di mana tempat yang cocok.

Konten review film di Tempo biasanya diisi oleh penulis senior seperti Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, sama Isma Sawitri. Beberapa bulan setelah saya masuk, saya diminta untuk menulis review. Mereka mungkin mengasumsikan tulisan saya sudah ‘jadi.’ Barangkali, ya. (tertawa)

Kemudian, saya sendiri aslinya merupakan penggemar film. Saya memperoleh beasiswa untuk studi political science dan comparative development studies di Universitas Trent, Kanada, pada 1982. Mungkin bagi sebagian orang ini studi yang kering. Banyak teorinya. Kuliah double major membikin saya enggak sempet baca atau nonton film. Akhirnya, saya ambil course mata kuliah kritik film dan sastra. Untuk kritik film sendiri, saya dulu banyak menonton film-film klasik: neo-realisme, Jerman, Italia, sampai Iran. Ini bener-bener selfish reason buat nonton.

Kembali lagi, ketika diminta bos-bos Tempo buat nulis review, saya bilang bahwa review film banyak teorinya. Mereka menolak, ‘Jangan banyak teori. Ini buat pembaca umum.’ Mereka lantas meminta saya menulis ulasan sesuai kaidah Tempo. Tentang bagaimana menceritakan film, sebagaimana saya menceritakannya kepada teman. Makanya, dari sini, jangan sebut gue kritikus film. Kesannya berat. Saya lebih memilih disebut wartawan yang menulis film. Kalau kalian insist menyebut saya kritikus film, itu enggak masalah. Tapi, bebannya berat (tertawa).


Apa film pertama yang diulas waktu di Tempo?

Kalau enggak salah ingat itu film Cousins (1989) yang disutradarai Joel Schumacher serta dibintangi Isabella Rossellini dan Ted Danson. Film kedua, filmnya Robin Williams yang [judulnya] Dead Poets Society (1989). Untuk film ini, GM (panggilan Goenawan Mohamad) menulis Catatan Pinggir-nya, sementara saya bikin ulasannya.


Kalau film Indonesia?

I can’t remember. Yang jelas, waktu itu, saya ingat pernah mengulas film Garin Nugroho yang berjudul Cinta dalam Sepotong Roti (1991). Garin was new for us. Di tengah produksi film Indonesia lagi buruk dan FFI (Festival Film Indonesia) sempat dihentikan, Garin muncul dan membuat film. Ini menarik karena ada anak muda yang membuat film dengan memperhatikan betul kaidah sinematografi. Meski sebelumnya kita mengenal Teguh Karya, misalnya. Tapi, yang jelas, Garin baru [untuk sinema Indonesia].


Ada batasan yang harus ditaati ketika menulis kritik film?

Enggak ada. Batasannya umum aja. Kita enggak boleh memaki dengan kata-kata kotor dan kasar, misalnya. Di luar itu, redaksi Tempo membebaskan kami. Saya keras [dalam mengkritik film], ya? Enggak, kan? Saya cukup manis, kok.


Seperti apa kritik film yang ideal menurut Anda? Bagaimana Anda menempatkan subjektivitas penulis kritik?

Setiap review itu pasti ada unsur subjektivitas. Tapi, bukan berarti subjektivitas itu kemudian diartikan, ‘Ini pendapat gue. Terserah gue.’ Bukan kayak gitu. Saya paling enggak suka dengan orang yang memakai excuse seperti itu. At the end of the day, pasti ada standarnya, dong. Ini bukan berlaku semata buat film, tapi untuk sastra dan pertunjukan seni yang lainnya.

Kemudian, memang, soal perkara review film enggak bisa dilepaskan dari fakta bahwa apa yang menyentuh orang lain bukan berarti menyentuh pula ke saya. Tapi, pada akhirnya, harus ada semacam general agreement soal review: adegan yang baik, acting yang baik. Please do not use argument, ‘Ini pendapat gue.’ Iya, memang ada satu-dua hal yang bisa dikorelasikan semacam itu. Tapi, tetap ada common ground-nya. Ini yang ideal.

Selain itu, kritik film bisa disebut ideal ketika dia bisa fair. Kadang, penulis muda terlalu emosional dalam mengulas film. Keluar dari bioskop, langsung terkesima ketika bagus, dan langsung memaki ketika jelek. Baiknya, pikirin dulu, urai satu per satu [kritiknya], dan kemudian satukan. Karena ini karya orang. Apapun yang kita tonton, kita serap dulu seperti spons.


Bila filmnya benar-benar jelek?

Pertanyaanya: apa perlu kita tonton? Tapi, kadang karena kerjaan mau enggak mau kita harus menontonnya. Ini aku bicara film yang kualitasnya middle, ya, yang di tengah-tengah.


Tapi, kadang, yang middle seperti itu justru lebih susah diulas. Beda kalau filmnya benar-benar hancur. Bahkan, saking jeleknya, bisa jadi cult.

Ah, iya. Film apa itu yang main Gatot Brajamusti?


Azrax?

Benar. Itu, kan, totally trash, ya. Tapi, malah bikin fun (tertawa).


Memang lebih sulit jika jeleknya nanggung.

Iya, betul. Bumi Manusia itu termasuk yang susah [diulas] karena banyak sekali yang suka. Kalian udah resensi?


Ada kemarin satu ulasan.

Yang bisa dikutip adalah bahwa mengulas Bumi Manusia itu susah sebab ini diangkat dari novel yang besar sekali. Bahkan lebih terkenal ketimbang karya-karya Pak Pram—Pramoedya Ananta Toer—yang lainnya. Ditambah, sejarah pembuatan film itu sendiri sering berpindah sutradara dan produser. Setelah dibuat, aku harus fair dan bersyukur bahwa film ini akhirnya ditayangin. Kemudian, nasib karya-karya yang dianggap kiri masih bermasalah meskipun sudah reformasi. Ketika film ini ditayangkan dan enggak ada gangguan, itu perlu disambut. Mudah-mudahan, setelah ini untuk karya-karya yang lain juga tidak ada gangguan. Yang jelas, setiap filmmaker yang membikin film dari adaptasi novel yang besar, sudah harus tahu risikonya. Karena ekspektasi pembaca pasti berbeda.



Seperti apa Anda membayangkan kritik film di era ketika banyak orang lebih percaya selebtweet atau buzzer ketimbang kritikus atau penulis yang mengulas film secara proporsional?


Para penulis review dan pemilik media sudah semestinya mencari cara bagaimana proses ini tetap ada dalam bentuk digital. Tempo, misalnya, menulis [ulasan film] di majalah karena mengutamakan mereka yang berlangganan. Setelah agak lama, baru nanti di-upload ke website. Ini sama yang dilakukan dengan The Jakarta Post. Kita harus fair dengan yang berlangganan.

Selain itu, Tempo, misalnya lagi, juga meminta saya untuk mengisi program [ulasan film] di YouTube. Hal semacam ini terjadi lantaran mereka tahu digital adalah medium di masa depan. Suatu hari [media] cetak tetap ada, tapi everything’s going digital. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara pembaca—yang kebanyakan anak-anak muda—punya akses ke sana.

Kalau selebtweet? Ya sudahlah. Menurut saya para netizen juga enggak akan 100 persen menelan [tweet mereka] juga. Netizen akan tetap nonton dan saya pikir mereka lebih percaya review yang serius. Bisa saja penilaian para selebtweet maupun buzzer itu salah. Menonton bioskop di Indonesia itu perlu effort. Datang ke bioskop dan harus antre. Ini yang kemudian membikin netizen tidak serta merta gampang percaya dengan omongan selebtweet. Apalagi filmnya adalah film yang enggak terlalu terkenal. Kecuali kalau film-filmnya tergolong summer flicks atau superheroes. Orang-orang enggak akan peduli pendapat tentang film itu. Why? Because everybody wants to watch summer flicks or superhero movies. Bahwa pada akhirnya, behavior calon dan penonton enggak bisa ditebak.


Ini terkait penonton. Semakin ke sini, semakin banyak yang tidak suka spoiler. Ada anggapan bahwa menulis panjang dan detil sama saja menulis spoiler. Bagaimana tanggapan Anda?

Mereka harus tau, menurut saya, yang dianggap spoiler itu ketika, misalnya, memberitahu ending sebuah film maupun poin-poin mengejutkan yang menjadi titik kuat dalam film tersebut. Penonton berhak tahu, misalnya, film yang mereka tonton itu genrenya apa. Minimal tiga empat kalimat sudah cukup.

Dulu, di masa-masa awal [di Tempo], saya juga sempat mengalami kesulitan dengan beberapa filmmaker untuk tidak memberitahu adegan-adegan di filmnya. Terus, saya mesti gimana reviewnya? Akhirnya, saya fokus ke acting-nya yang begini tanpa disertai contoh. Tapi, itu jadi ampang dan kita enggak bisa mengkritik secara lebih mendalam. Saya enggak terlalu suka.

Di Tempo sendiri, ada semacam aturan bahwa para penulis tidak boleh kasih tahu ending. Dulu juga pernah ada beberapa penulis yang kasih tahu ending-nya dan membikin beberapa pihak marah. Amannya, kita tetap kasih sinopsis. Ketika kita hendak menganalisa sebuah film, mau enggak mau kita mesti menyebutkan bagian-bagian dari film tersebut. Ketika itu dianggap spoiler, maka susah juga.


Menurut Anda regenerasi di dunia kritik film di Indonesia berjalan baik?

Ada beberapa penulis [film] yang berbakat. Tapi, oleh media tempatnya bekerja, ia ditarik ke desk lain. Entah ke politik maupun ke ekonomi. Ini yang membikin regenerasi agak mandek. Karena di dalam medianya sendiri orang-orang yang berbakat menulis film diputar ke tempat lainnya. Karena sistem, kadang-kadang. Yang agak macet enggak hanya di bidang film, melainkan juga di penulisan seni. Enggak lancar seperti halnya [desk] politik maupun ekonomi.



Bagaimana Anda memandang potensi bias dalam kritik film?


Begini, beberapa waktu lalu ada thread [Twitter] yang sedang membahas soal kritik film. Ada satu yang menyebut bahwa saya galak [dalam mengkritik]. Itu filmnya Bumi Manusia. Lalu, ada yang bilang kalau saya bisa mengulas bagus ketika dihadapkan pada film-film Riri [Riza], Mira [Lesmana], dan Joko [Anwar]. Saya akhirnya membalas bahwa saya pernah mengkritik film mereka: Garasi, Untuk Rena, maupun Kala. Kalian aja yang enggak membaca.

Ini jadi karakter sosial media. Orang suka enggak riset dan asbun—asal bunyi—aja. Mira, Riri, dan Joko itu kawan saya. Tapi, kawan saya bukan mereka aja. Hanung [Bramantyo] dan Garin itu juga. Garin, misalnya, sejak awal dia berkarier, saya selalu mengulas film-filmnya. Banyak yang saya kritik. Ketika saya mengkritik, saya selalu menegaskan bahwa: you’re very good director, what are you doing? Masa bikin film kayak gitu?

Sebenarnya, ketika mengkritik, saya berharap banyak, bukan lagi menghajar. Film Kucumbu Tubuh Indahku, misalnya, itu kita menangin di Festival Film Tempo. Tulisan saya memuji habis-habisan film itu. Meski berkawan, kalau memang filmnya jelek, ya, saya akan mengkritik. Tapi, kalau bagus, saya akan memuji. Dia tahu kalau aku fair. Kita enggak sedang menargetkan sutradara, tapi karya mereka.


Bagaimana dengan budaya polemik dalam kritik film, misalnya saling balas kritik dengan kritik?

Pernah ini terjadi dulu ketika di masa-masa awal saya bekerja di Tempo. Saya menulis kritik tentang film Arifin C. Noer, Taksi (1990) yang dibintangi Rano Karno. It’s interesting. Rano Karno di situ, meski jadi supir taksi, filsuf banget. Ini setengah realis, setengah surealis. Tapi, come on. Supir taksi enggak kayak gini. Anyway, I think I like that idea. Saya cuma enggak suka dengan penggambarannya.

Akhirnya, JB Kristanto membalas ulasan saya di Kompas karena dia suka sekali sama film itu. Saya enggak masalah karena waktu itu saling balas argumen itu sehat. Saya mengira, Pak Kris ingin mencoba mengajak saya dan pembaca lainnya untuk memahami Taksi dari sudut pandang yang lain.


Pernahkan Anda merasa harus berkompromi ketika menulis kritik?

Kompromi jelas enggak, terutama dalam konten. Sejak awal, saya pakai kaidah Tempo. Kritik tetap disampaikan dengan kaidah. Film bisa dikatakan bagus atau jelek itu apa alasannya. Tapi, yang perlu digarisbawahi, saya enggak keberatan bila diminta beradaptasi dengan medium. Pernah ada yang tanya ke saya soal e-book. Saya jawab, saya enggak masalah. Ini hanya medium, kontennya tetap sama. No worries. Ini sama halnya dengan kritik. Ketika tulisan jadi di majalah, lalu diunggah ke bentuk digital. Selain itu, ada juga mengulas film dengan YouTube. Bagi saya, ini enggak jadi masalah. Ini sekadar medium. Dan ini yang harus diperhatikan.

Baca juga artikel terkait KRITIK FILM atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Wawancara)

Reporter: Windu Jusuf & Faisal Irfani
Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight