British Council Dukung Kolaborasi Seni Inggris & Asia Tenggara

Penulis: Siaran Pers, tirto.id - 24 Jan 2023 13:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
British Council mengumumkan penerima dana hibah Connections Through Culture 2022/23, untuk mendukung kemitraan kebudayaan antara UK dan Asia Tenggara.
tirto.id - British Council mengumumkan penerima dana hibah Connections Through Culture 2022/23, untuk mendukung kemitraan kebudayaan antara UK dan Asia Tenggara untuk mengembangkan proyek artistik secara digital, tatap muka dan hibrida.

Diselenggarakan pertama kali pada Agustus 2019 di Asia Tenggara, hibah Connections Through Culture (CTC) telah mendukung kolaborasi artistik antara seniman dan organisasi seni di Inggris dan Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Program ini diadaptasi dari program CTC yang lebih luas, yang telah berjalan di China sejak tahun 2006.

Memasuki putaran kelima tahun ini, hibah ini akan terus mendukung inovasi artistik yang antara lain mengeksplorasi tema inklusi, keragaman, keberlanjutan. Pada putaran 2022/23, program ini mengumumkan 31 proyek kolaborasi baru antara Inggris dan negara-negara Asia Tenggara, yang akan menerima hibah sebesar £2,000 dan £8,000.


Camelia Harahap, Head of Arts, Indonesia di British Council mengatakan bahwa program hibah Connections Through Culture ini mendukung proyek-proyek menarik di bidang seni dan budaya. Diharapkan dukungan ini bisa terus membangun hubungan internasional antara Inggris dan Indonesia.

"Hibah ini akan mendukung seniman dan organisasi untuk berbagi ide, mengeksplorasi cara kerja baru, serta menjangkau audiens baru. Saya menantikan kisah-kisah dari perjalanan para penerima hibah yang sukses dan berharap proyek brilian mereka dapat menginspirasi orang lain,” ujar Camelia.

Dana hibah ini melanjutkan kerja British Council dalam membangun keterhubungan, kesepahaman, dan rasa percaya antara orang-orang di Inggris dan seluruh dunia melalui seni dan industri kreatif.

Proyek-proyek sukses yang didukung British Council sejauh ini di Indonesia meliputi:

• “TALKER #12”, Giles Bailey dan Agus Nur Amal

Issue #12 dari TALKER akan mengeksplorasi bagaimana tradisi dongeng keliling di Aceh telah memperkuat manfaat dari proses perdamaian yang sedang berlangsung di seluruh Indonesia serta melibatkan kaum muda melalui lokakarya.

• “Re-writing Extinction in South East Asia”, Paul Goodenough dan Ariela Kristantina


Bekerja sama dengan pakar konservasi Indonesia dan pendongeng lokal, proyek ini akan membuat dua cerita dalam format komik, untuk membantu mengangkat suara rakyat dan isu lingkungan di Indonesia ke khalayak global.

• “Re-telling the Mythology: An artist residency, series of zine workshops and zine publication”, Nurul Ichlasiah Jaya dan Glasgow Zine LIbrary

Serial residensi seniman dan lokakarya pembuatan zine ini akan berpusat pada penceritaan kembali mitologi antara Skotlandia dan Indonesia.

• “Glass Beyond Borders”, Ivan Bestai Minar Pradipta dan Hannah Gibson

Kolaborasi pembuatan seni kaca yang menggunakan bahan utama kaca bekas dan sumber daya peralatan lokal di Indonesia ini, akan mencakup eksperimen kolaboratif, lokakarya, presentasi, dan pameran.

• “Identifying disabled dance talent and mapping disabled dance organisations across Indonesia, in partnership with Indonesian dance sector leads.”, Anthony Evans dan Ballet ID

Bekerja sama dengan pakar sektor lokal yang memiliki pengetahuan luas tentang tari dan mitra disabilitas di seluruh Indonesia, proyek ini akan membuat database organisasi dan seniman tari, mencipta karya untuk memfasilitasi kolaborasi antara seniman tari Indonesia dan Inggris di masa mendatang.

• “ReConnect/ReCollect: Connecting Culture, Art, Science Through UK-Indonesian Museum Collections”, Farah Pranita Wardhani dan Scott Michael Antony

Proyek ini akan menghubungkan para ahli di sektor museum antara Inggris dan Indonesia, untuk mengeksplorasi pendekatan dan peluang yang ada untuk kolaborasi seputar penelitian koleksi inovatif, koleksi bersejarah, dan proyek digital.

• “Coffee Shop Culture (judul sementara)”, Rachel Ella Taylor dan Bell Society (Arka Irfani)

Berbagi bahan yang terbuat dari limbah, seniman Inggris dan Indonesia akan berkolaborasi secara online untuk bereksperimen dengan produk 'baru', mengolahnya menjadi bentuk patung. Ini akan mencakup lokakarya yang melibatkan publik di Indonesia untuk bersama-sama membuat instalasi yang akan dikirim dan dipamerkan di Inggris.

• “Duration over Distance: An artistic laboratory by Melati Suryodarmo with Ikon Gallery”, Melanie Pocock, Curator, Ikon Gallery dan Melati Suryodarmo

Laboratorium ini akan melihat seniman Melati Suryodarmo membangun platform nonhierarkis dan reflektif dengan enam seniman Inggris dan Indonesia untuk mengkritik dan membagikan karya mereka – dengan tujuan untuk menciptakan model baru yang berkelanjutan untuk kolaborasi artistik dan pertunjukan durasional.

• “The Trees & The Wires”, Benny Widyo dan Ella Marie Chedburn

Residensi UK-ID ini akan mengkaji mitos dan arsip terkait masalah lingkungan dan penanggulangan bencana di Tulungagung. Hasil dari residensi ini akan didokumentasikan melalui instalasi, ilustrasi, animasi, fotografi arsip, performance, dan film.

• “Queer experiences across borders”, Tatevik Sargsyan dan Norman Erikson Pasaribu

Proyek ini akan bekerja sama dengan para penulis untuk menerbitkan antologi pengalaman komunitas queer lintas negara, dengan fokus pada komunitas diaspora Indonesia dan Inggris. Antologi ini akan mencakup tema-tema queerness, keadilan sosial, kolonialisme, cinta, dan kehilangan.

• “"Pulang" (Going Back Home) : An Imaginary Repartriation Project of Sanggurah Inscription”, Wiyoga Muhardanto dan Edinburgh Sculpture Workshop

Untuk mendorong kesadaran sejarah terkait mobilitas benda bersejarah, kolaborasi digital ini akan melakukan repatriasi imajiner atas Sanggurah – prasasti setinggi 3,8 ton dan setinggi 2 meter yang berada di kediaman Lord Minto di Roxburghshire, Skotlandia.

Baca juga artikel terkait BRITISH COUNCIL atau tulisan menarik lainnya Siaran Pers
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Siaran Pers
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight